TRIBUN-TIMUR.COM, BONE — Cuaca buruk melanda wilayah perairan Kelurahan Bajoe, Kecamatan Tanete Riattang Timur, Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan.
Angin kencang disertai ombak besar membuat aktivitas nelayan di wilayah pesisir tersebut semakin berisiko.
Namun, kondisi itu tidak membuat seluruh nelayan memilih berhenti melaut.
Sebagian nelayan Bajoe tetap mempersiapkan perahunya untuk mencari ikan demi memenuhi kebutuhan keluarga.
Salah satunya Muhammad Diding (42).
Saat ditemui sekitar pukul 12.45 Wita di Kelurahan Bajoe, Diding nampak tengah memperbaiki kapal yang akan digunakannya untuk melaut pada sore hari.
Diding terlihat mengenakan kaos warna hitam, celana pendek hitam dan sandal swallow berwarna biru.
Ia tampak memeriksa dan memperbaiki sejumlah bagian kapal sebelum digunakan untuk melaut.
Menurut Diding, kondisi cuaca saat ini memang tidak bersahabat bagi nelayan.
Angin bertiup kencang dan ombak di laut juga cukup besar.
"Denamagello cuaca e. Maladde miring anging e, maloppo bombang e. Tapi nelayan kunye tette metoi lokka masappa bale deaga nurusu, deaga libur. (Tidak bagus, kencang angin dan ombak besar. Tapi kalau orang di sini tetap operasi, tidak peduli angin keras atau ombak, tetap melaut, tidak ada libur)," kata Diding saat dikonfirmasi, Rabu (26/8/2026).
Meski menyadari risiko yang dihadapi, Diding mengaku tidak memiliki banyak pilihan.
Melaut merupakan sumber penghasilan utama untuk menghidupi istri dan dua anaknya.
Terlebih, harga kebutuhan pokok saat ini semakin mahal.
" Liwa sussah doi e. Tegani masuli maneng gaga e, ku dehhe dilokka mattasi deullai manre (Sulit mencari uang di tengah kondisi sekarang. Harga kebutuhan pokok serba mahal. Kalau tidak melaut, kami tidak bisa makan)," ujarnya.
Diding mengatakan, hasil tangkapan nelayan juga mengalami penurunan akibat kondisi cuaca.
Namun, dirinya tetap berusaha turun ke laut selama kondisi masih memungkinkan.
" Makurang tangkapan e. Ne harus diola, pe ku dehhe dilokka tasie dehhe dianre. (Tangkapan juga berkurang. Harus menantang maut, tapi kalau tidak melaut, tidak bisa makan)," tuturnya.
Menurutnya, nelayan harus pintar membaca kondisi laut sebelum memutuskan berangkat.
Meski demikian, kebutuhan keluarga terkadang membuat nelayan tetap mengambil risiko.
Bagi Diding dan nelayan lainnya di Bajoe, laut menjadi sumber penghidupan yang tidak bisa begitu saja ditinggalkan.
Di tengah angin kencang dan ombak besar, mereka tetap berusaha mencari rezeki untuk memenuhi kebutuhan keluarga
Hal senada disampaikan nelayan lainnya, Basri (39).
Ia mengatakan kondisi angin dan ombak sangat berpengaruh terhadap aktivitas nelayan.
Menurut Basri, ketika cuaca buruk, nelayan tidak hanya menghadapi risiko keselamatan, tetapi juga harus menerima kenyataan hasil tangkapan yang tidak menentu.
"Kalau ombak besar, susah juga mencari ikan. Kadang sudah jauh pergi, hasilnya tidak seberapa," kata Basri.
Meski begitu, Basri mengaku nelayan tetap berusaha melaut ketika kondisi masih dianggap memungkinkan.
Sebab, tidak melaut berarti tidak ada penghasilan yang bisa dibawa pulang.
Para nelayan berharap kondisi cuaca segera membaik sehingga mereka dapat kembali melaut dengan aman.