El Nino Bikin Sulsel Makin Kering di Puncak Musim Kemarau Agustus - September
Ari Maryadi August 26, 2026 01:09 PM

 

TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - Musim Kemarau di Sulawesi Selatan (Sulsel) begitu dirasakan masyarakat.

Terik matahari menyengat setiap harinya.

Tutupan awan minim, masyarakat harus berjibaku dengan panas matahari beraktifitas di luar ruangan.

Forecaster Badan Meteorologi, Klomatologi dan Geofisika (BMKG) Rekun Matandung mengungkapkan fenomena El-Nino membuat Sulsel makin kering di musim kemarau.

"Puncak Musim kemarau itu Agustus - September cuma karena El-Nino jadi lebih kering daripada sebelumnya," kata Rekun Matandung saat dihubungi reporter Tribun-Timur.com pada Selasa (25/8/2026) malam.

El Nino merupakan fenomena pemanasan suhu permukaan laut di atas rata-rata normal yang terjadi di Samudra Pasifik bagian tengah dan timur.

Suhu air laut di Pasifik Tengah hingga Timur menjadi lebih hangat dari biasanya.

Angin pasat dari timur ke barat yang biasanya bertiup di sekitar ekuator melemah atau berbalik arah.

Kondisi ini menyebabkan penurunan curah hujan yang signifikan dan musim kemarau yang lebih kering dari biasanya.

Dampaknya juga sumber air menyusut, permukaan sungai menurun, dan mengganggu ketersediaan air bersih serta irigasi.

Tanah dan vegetasi yang kering ikut meningkatkan kerentanan terjadinya kebakaran hutan dan lahan.

"Bisa jadi pemicu tapi bukan utama. Udara panas tidak bisa tiba-tiba menimbulkan kebakaran dia menjadi indikator pendukung saja. Bukan indikator tunggal kebakaran," lanjutnya.

Ancaman kebakaran meningkat seiring kondisi kemarau dan peningkatan suhu udara di sejumlah wilayah.

kebakaran di Hutan Pinus Malino, Kabupaten Gowa meluas 2 hectare pada Rabu (19/8/2026).

Kebakaran melanda wilayah Bulu Salili, Kelurahan Malino, Kecamatan Tinggimoncong,

Di Kota Makassar tercatat sudah 31 peristiwa kebakaran terjadi dari 1-12 Agustus 2026.

Dari 31 kejadian, sebanyak 47 rumah ludes terbakar, satu perusahaan industri dan 26 titik alang-alang atau sampah.

Kondisi tersebut menunjukkan kebakaran tidak hanya terjadi pada kawasan permukiman, tetapi juga menyasar lahan yang kering dan mudah terbakar.

Kebakaran hutan juga melanda wilayah pegunungan di Kabupaten Tana Toraja.

Kebakaran terjadi secara beruntun sejak 29 Juli hingga 6 Agustus 2026.

Kondisi serupa juga terjadi di wilayah Toraja Utara.

Kebakaran lahan kembali terjadi di Kelurahan Pantanakan Lolo, Kecamatan Kesu', Toraja Utara, Sulawesi Selatan, Rabu (5/8/2026).

Lahan seluas sekitar satu hektare terbakar diduga akibat aktivitas pembukaan lahan dengan cara dibakar.

Kawasan Gunung Nona di Kabupaten Enrekang juga baru saja terbakar. Luasan terdampak bahkan mencapai 10 hectare.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Sulsel Kasman mengaku di tengah kemarau ekstrem ini, kebakaran lahan sangat mudah terjadi.

Percikan api kecil pun bisa menjadi penyebab lahan terbakar, apalagi jika berada pada ladang kering.

"Semak-semak yang sangat kering itu sangat mudah terbakar. Sedikit saja percikan itu bisa menyebabkan kebakaran. Saat ini juga teman-teman sementara mendalami penyebabnya apakah faktor alam atau mungkin faktor kesengajaan," kata Kasman.

Dalam penanganan di lapangan, petugas juga mendapat dukungan kelompok tani dan masyarakat. 

Untuk kawasan dengan akses terbatas, petugas dapat menggunakan alat pemadam yang dibawa di punggung atau backpack fire pump.

Backpack fire pump merupakan alat pemadam api portabel yang digendong di punggung, umumnya berisi 15 hingga 20 liter air.

Umumnya dioperasikan secara manual atau dengan mesin kecil untuk memadamkan kebakaran hutan, lahan, atau titik api di area yang sulit dijangkau kendaraan.

Kasman mengingatkan masyarakat agar tidak menggunakan api untuk membersihkan lahan, termasuk di kebun atau lahan milik warga.

Ia menyebut seluruh daerah di Sulsel mengalami kemarau ekstrem.

Sehingga perhatian tidak bisa diberikan ke satu daerah saja, sebab secara merata ancaman karhutla mengintai.

Laporan Wartawan Tribun-Timur.com, Faqih Imtiyaaz

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.