SURYA.co.id, SURABAYA - Temuan jarum suntik dan sejumlah limbah medis yang dibuang di lokasi terbuka di Sidoarjo menjadi perhatian setelah videonya beredar di media sosial.
Temuan tersebut turut menyeret nama RSUD Eka Candrarini (EC) Kota Surabaya. Pasalnya, di antara limbah yang ditemukan terdapat sobekan kantong obat bertuliskan nama RSUD Eka Candrarini.
Namun, pihak RSUD Eka Candrarini memastikan limbah medis tersebut bukan berasal dari rumah sakit yang dikelola Pemkot Surabaya.
Direktur Utama RSUD Eka Candrarini, dr Listyorini Rarasingtyas, mengatakan pihaknya telah melakukan penelusuran awal terhadap sejumlah alat medis yang ditemukan.
Hasilnya, terdapat perbedaan merek antara alat medis di lokasi dengan produk yang digunakan RSUD Eka Candrarini.
Baca juga: 4 Aturan Baru Rumah Kos di Surabaya, Penghuni Seperti Mahasiswa Wajib Dilaporkan, Tak Harus Ubah KTP
Listyorini menjelaskan, RSUD Eka Candrarini menggunakan jarum suntik merek Nipro. Sementara jarum suntik yang ditemukan di lokasi memiliki merek berbeda dan tidak pernah dibeli rumah sakit sejak berdiri.
"Jadi di sana ada jarum suntik. Jarum suntik ini mereknya beda. Kalau di Rumah Sakit EC pakainya merek Nipro. Yang ditemukan itu bukan merek Nipro. Sejak rumah sakit berdiri, kita tidak pernah beli merek itu," kata Listyorini, Rabu (26/8/2026).
Selain jarum suntik, pihak rumah sakit juga menemukan sejumlah produk lain yang tidak pernah digunakan maupun dibeli RSUD Eka Candrarini.
Salah satunya adalah obat KB suntik. Menurut Listyorini, rumah sakit belum pernah membeli obat tersebut karena belum menyediakan layanan KB suntik.
"Kemudian ada juga di situ obat KB suntik. Kita belum pernah membeli obat KB suntik karena memang belum ada layanan KB suntik di Rumah Sakit Eka Candrarini," ujar Direktur Rumah Sakit yang baru diresmikan pada akhir 2024 lalu tersebut.
Obat antibiotik dan kasa yang ditemukan di lokasi juga memiliki merek berbeda dengan produk yang selama ini digunakan RSUD Eka Candrarini.
"Jadi memang alat-alat medis yang ditemukan di TKP itu kita tidak pernah membeli dengan merek itu sama sekali," jelasnya.
Meski memastikan limbah medis tersebut bukan miliknya, Listyorini membenarkan sobekan kantong bertuliskan RSUD Eka Candrarini yang ditemukan di lokasi memang merupakan kantong yang digunakan rumah sakit.
Kantong tersebut digunakan untuk membawa obat pasien rawat jalan. Penggunaan kantong kertas itu merupakan bagian dari kebijakan rumah sakit untuk mengurangi penggunaan plastik.
"Kalau pasien pulang dapat obat untuk diminum di rumah, biasanya dibawakan kantong plastik atau kresek. Nah, kita sudah tidak pakai kantong plastik tapi pakai kantong kertas berlogo Rumah Sakit Eka Candrarini seperti yang ditemukan di sana," katanya.
Menurut Listyorini, setiap pasien rawat jalan yang membawa pulang obat akan mendapatkan kantong kertas berlogo RSUD Eka Candrarini.
Karena itu, keberadaan kantong tersebut di lokasi tidak serta-merta menunjukkan bahwa limbah medis yang ditemukan berasal dari rumah sakit.
"Setiap pasien yang pulang bawa obat pulang pasti bawa kantong kertas itu. Jadi, siapa pun yang berobat rawat jalan di rumah sakit pasti pulangnya bawa kantong kertas itu. Siapa pun bisa punya," katanya.
Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Surabaya, dr. Billy Daniel Messakh, menegaskan pengelolaan limbah medis di RSUD Kota Surabaya dilakukan sesuai prosedur.
Termasuk limbah tajam seperti jarum suntik, pengelolaannya dilakukan melalui kerja sama dengan PT Wastec International.
Pengangkutan dan pengelolaan limbah tersebut juga dilakukan melalui mekanisme pencatatan elektronik menggunakan sistem Festronik Kementerian Lingkungan Hidup.
"Nah, TPS limbah B3-nya sudah bekerja sama dengan Wastek Internasional," kata dr Billy.
"Nah, PT Wastek yang akan setiap 2 hari sekali untuk ambil, bawa pergi. Bawa ke tempatnya untuk dimusnahkan sesuai ketentuannya Kementerian Lingkungan Hidup," tandas Dr Billy yang sebelumnya juga Direktur RSUD dr Soewandhie Surabaya ini.
Sementara itu, Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Surabaya, M. Fikser, mengatakan pihaknya masih menelusuri asal limbah medis yang ditemukan bersama DLH Kabupaten Sidoarjo.
DLH Surabaya juga akan memeriksa sejumlah pihak yang berkaitan dengan pengelolaan limbah medis, termasuk perusahaan yang bekerja sama dengan rumah sakit dan sejumlah klinik.
"Kita akan melakukan pemeriksaan, semua yang terlibat, mulai dari PT yang selama ini bekerja sama dengan RS kita panggil termasuk ada klinik yang kita curigai untuk didalami," kata Fikser