SURYA.co.id, SURABAYA - Masalah kesehatan mental pada anak dan remaja di Jawa Timur menunjukkan perkembangan yang mengkhawatirkan. Di RSD Prof. dr. Moeljono atau RS Menur Surabaya, tren usia pasien yang membutuhkan perawatan intensif dilaporkan semakin muda.
Dokter spesialis kedokteran jiwa RSD Prof. dr. Moeljono, dr Ivana Sajogo, SpKJ Subsp A.R.(K), mengungkapkan bahwa pihaknya pernah menangani pasien rawat inap yang baru berusia sembilan tahun.
“Usia termuda rawat inap itu usia sembilan tahun waktu itu, dengan kondisi gangguan mental yang sudah mengganggu lingkungannya,” ujar dr. Ivana saat ditemui di Gedung Manajemen RSD Prof. dr. Moeljono, Rabu (26/8/2026).
Baca juga: Kasus Kesehatan Mental Anak di RS Menur Naik Tajam, Kunjungan Laki-laki Mendominasi
Menurut dr. Ivana, orang tua perlu memberikan perhatian ekstra jika emosi anak mulai tidak stabil hingga mengganggu aktivitas sehari-hari, baik di rumah maupun di sekolah.
Salah satu tanda bahaya yang memerlukan penanganan profesional segera adalah munculnya perilaku menyakiti diri sendiri atau self-harm.
“Kalau sudah begitu kan membahayakan. Itu biasanya orang tua akan bawa ke kami,” jelasnya.
Masalah kesehatan mental tidak disebabkan oleh faktor tunggal. dr. Ivana menjelaskan adanya keterkaitan antara faktor genetik, kondisi lingkungan, hingga dinamika di lingkungan sekolah.
Dalam proses penyembuhan, RS Menur menerapkan pendekatan yang menyeluruh. Penanganan tidak hanya dititikberatkan pada anak, tetapi juga melibatkan peran aktif keluarga.
“Penanganan di psikiatri itu holistik. Harus dari sisi biologinya, secara sisi brain-nya, sisi psikologinya, sisi sosialnya, dan sisi spiritual,” tuturnya. Ia juga menegaskan bahwa orang tua tidak bisa sekadar menitipkan anak untuk disembuhkan tanpa ikut terlibat dalam prosesnya. “Jadi tidak bisa hanya anak itu datang ke kita, dititip, sembuhkan, pulang. Tapi mesti semuanya,” tambahnya.
Ketua Ikatan Sarjana Komunikasi Indonesia (ISKI) Jawa Timur, Dr. Suko Widodo, turut menyoroti pentingnya pola komunikasi antara orang tua dan anak sebagai benteng kesehatan mental.
Suko menilai, saat ini banyak rumah yang kehilangan fungsinya sebagai ruang dialog yang hangat akibat ketergantungan pada teknologi digital.
“Rumah akhirnya hanya menjadi tempat pertemuan, bukan tempat perjumpaan,” kata Suko Widodo.
Menurutnya, kunci utama komunikasi adalah kemauan untuk mendengarkan, bukan sekadar memerintah atau menyampaikan pesan. Di tengah perubahan pola hubungan sosial saat ini, interaksi langsung yang autentik sangat dibutuhkan oleh anak.
“Kesediaan mendengar itu komunikasi. Kesempatan untuk berkomunikasi orang tua dan anak sekarang langka,” pungkasnya.