TRIBUNMATARAMAN.COM, TULUNGAGUNG - Dinas Pertanian Kabupaten Tulungagung tengah mencari solusi ambrolnya DAM Pacar di Desa Sanggrahan, Kecamatan Boyolangu pada Selasa (25/8/2026) kemarin.
Penyebabnya, saat ini masih ada 110 hektare sawah yang ditanami padi pada Masa Tanam III (MT III).
Plt Kabid Prasarana Dinas Pertanian Tulungagung, Pujiono, mengatakan dampak ambrolnya DAM Pacar dirasakan persawahan Kecamatan Boyolangu dan Campurdarat.
“Memang saat ini tidak terlalu membutuhkan air, karena banyak lahan yang beralih menanam palawija,” ujarnya, Rabu (26/8/2026).
Baca juga: Solusi BBWS Brantas soal Ambrolnya DAM Pacar Tulungagung, Bakal Pasang Jumbo Bag Penahan Air
Lanjut Pujiono, saat ini ada 64 hektare sawah yang ditanami padi di Desa Ngranti, Kecamatan Boyolangu dan 46 hektare di Desa Pelem, Kecamatan Campurdarat.
Untuk lahan di Desa Pelem, sudah tidak membutuhkan air karena menjelang panen.
Sementara lahan yang di desa Ngranti sangat membutuhkan air, karena masih berusia sekitar 2 bulan.
“Untuk yang Ngranti ini harus dicarikan solusi. Mungkin terpaksa disuplai dengan pompa,” ujarnya.
Yang dikhawatirkan, jika tidak ada solusi sampai tahun depan, maka tidak ada air yang bisa disimpan selama musim hujan.
Pada masa tanam I (MTI) relatif tidak ada masalah, karena air hujan masih tersedia untuk tanaman padi.
Namun memasuki masa tanam II (MT II), sawah-sawah dengan tanaman padi sudah sepenuhnya mengandalkan air dari sistem irigasi.
“Makanya harus ada solusi, agar tahun depan tidak menyulitkan petani. Kemungkinan petani akan mengubah pola tanam jika tidak teratasi,” tegasnya.
DAM Pacar menyuplai air untuk saluran suplesi, atau saluran penambah debit air untuk saluran primer dari sistem irigasi Lodoyo-Tulungagung.
Tanpa suplai air dari saluran suplesi DAM Pacar, saluran primer masih bisa mengalirkan air, namun jumlahnya terbatas.
Kondisi terburuk yang mungkin dilakukan, sawah-sawah yang masih bisa dijangkau saluran primer akan tetap menanam padi hingga MT II.
Sementara sawah-sawah lainnya yang tidak kebagian air akan beralih ke komoditas lain yang tidak membutuhkan air.
“Jadi semampunya Lodagung saja. Sisanya bisa beralih ke palawija,” ucapnya.
Pujiono yakin, ambrolnya DAM Pacar tidak membuat puso atau gagal panen.
Sisa tanaman padi yang masih membutuhkan air tetap akan dicarikan solusi.
Baca juga: Kecelakaan di Turunan Jurang Kromo Pare Kediri, Tiga Kendaraan Terlibat
Ada 9 desa yang bergantung pada DAM Pacar untuk menyuplai air ke lahan pertanian padi, dengan luas area lebih dari 900 hektare.
Empat desa ada Kecamatan Campurdarat, yaitu Desa Pelem, Pojok, Tanggung, dan Desa Wates.
Lima desa lainnya di Kecamatan Boyolangu, yaitu Desa Sanggrahan, Pucungkidul, Boyolangu, Ngranti dan Desa Kendalbulur.
(David Yohanes/TribunMataraman.com)