Puluhan Mahasiswa Demo, Sebut Kampus Lakukan Pemerasan, Kutip Uang Pindah Rp2 Juta
Ayu Prasandi August 26, 2026 08:54 PM

TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN – Puluhan mahasiswa Universitas Darma Agung (UDA) menggelar aksi demonstrasi di depan kampus, Jalan Dr. TD Pardede, Kelurahan Petisah Hulu, Kecamatan Medan Baru, Kota Medan, Rabu (26/8/2026).

Aksi demo tersebut dikarenakan adanya pencabutan akreditasi UDA oleh Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT) pada tanggal 7 Juli 2026 yang menjadikan kampus milik keluarga DR TD Pardede itu berstatus tidak memenuhi syarat peringkat (TMSP) akreditasi.

Mereka menggelar aksi di bawah terik matahari, dengan membentangkan berbagai poster bertuliskan 'Mahasiswa Jadi Korban Dualisme Yayasan', Kampus Pemeras dan Kampus Mempersulit Mahasiswa. 

Selain kekecewaan terhadap pihak yayasan dan kampus poster bertuliskan 'Pak Najib Tolong Kami Pak'.

Para mahasiswa itu juga menuntut tiga hal yang membuat suasana makin memanas.

Kordinator Aksi Daniel Sinaga dalam orasi yang disampaikan di depan gedung Sekretariat Biro Rektor menuntut Kejelasan Status dan Layanan Akademik 

"Kepada bapak Rektor dan Ketua Yayasan aksi kami ini untuk meminta kepastian kelanjutan kuliah, proses wisuda yang tertunda, serta pencabutan hambatan administratif akibat dualisme Yayasan Perguruan Darma Agung (YPDA)," kata Daniel Sinaga dengan nada emosi.

Masih katanya, mahasiswa menolak adanya pungutan biaya pindah ke kampus lainnya sebesar Rp. 2 juta.

"Kami bukan sapi perah, jangan ada pungutan uang Rp 2 juta yang dibebankan kepada mahasiswa saat mengurus surat rekomendasi atau izin pindah ke perguruan tinggi lain," tegasnya.

Selain itu, para mahasiswa juga menuntut pengembalian uang kuliah yang telah disetorkan kepada pihak yayasan yang berkonflik apabila hak akademik mereka tidak diproses.

"Kami orang miskin. Jangan persulit mahasiswa dengan urusan administrasi perpindahan kampus," ungkapnya.

Kekecewaan semakin memuncak ketika tak ada pihak yayasan yang menemui. Mahasiswa bahkan menuding yayasan yang bertikai justru membuat mahasiswa jadi korban.

"Jangan kami, mahasiswa yang dibodoh-bodohi. Ini kami yang terlalu pintar atau pihak yayasan yang bodoh yang coba mengangkangi hak-hak mahasiswa," tuturnya. 

Agar aspirasi didengar, mahasiswa membakar ban di badan jalan. Akibatnya, akses jalan di kawasan aksi sempat ditutup oleh pihak kepolisian.

"Jangan diam saja di dalam. Keluarlah Pak Suryadi, temui kami para mahasiswa di sini," katanya.

Hingga aksi demo selesai, tidak ada satupun perwakilan Yayasan UDA yang keluar dari gedung rektorat untuk menemui mahasiswa.

Bagi mereka, ini bukan soal demo. Ini soal hak untuk melanjutkan kuliah tanpa dipersulit. 

(Cr9/Tribun-medan.com) 

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.