Antusiasme Kakek dan Nenek di Trenggalek Manfaatkan Fasilitas Rontgen Portable untuk Skrining TBC
Rendy Nicko August 26, 2026 09:48 PM

TRIBUNMATARAMAN.COM, TRENGGALEK - Mentari sudah mulai menghangat, ratusan warga Kecamatan Pogalan Kabupaten Trenggalek berduyun-duyun ke Balai Desa/Kecamatan Pogalan.

Mereka ingin memanfaatkan fasilitas jemput bola yang diadakan oleh Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana (Dinkes PPKB) Kabupaten Trenggalek menggandeng Puskesmas Ngulankulon.

Tampak kakek-kakek hingga nenek-nenek satu per satu mendapatkan pengecekan kesehatan.

Momentum tersebut tergambar dalam Tracing TB Terintegrasi sekaligus Cek Kesehatan Gratis (CKG). 

Baca juga: Bupati Nganjuk Marhaen Djumadi Minta Guru dan Keluarga Cegah Perundungan Anak

Salah satu warga yang antusias adalah Satirin. Warga RT 15 Desa Ngulanwetan, Kecamatan Pogalan ini dengan tertib mengikuti seluruh skrining.

Mulai pengecekan berat badan, tinggi badan, tensi darah. Lalu, kadar gula hingga yang terakhir adalah cek rontgen Tuberculosis (TB).

"Tadi juga diperiksa tensi 120, kemudian berat badan 46 kilogram. Kalau dari tes gula 109," ujar Satirin usai keluar dari ruangan darurat untuk rontgen, Rabu (26/8/2026).

Pengamatan penulis, Alat Rontgen Portable tersebut cukup sederhana.

Penyangga hanya setinggi 2 meteran. Disitulah tempat untuk merekam organ dalam di dada secara akurat.

Satirin setelah mendapatkan panggilan oleh petugas lantas berjalan perlahan ke salah satu ruangan di Balai Desa Pogalan.

Petugas memberikan arahan supaya mengganti pakaian dengan menggunakan Alat Pelindung Diri (APD) kesehatan.

Usai kakek berusia 71 tahun tersebut menggunakan APD, selanjutnya diarahkan untuk naik ke Alat Rontgen dan menempelkan bagian dana ke alat tersebut.

Setelah menahan untuk tidak bergerak beberapa detik. Petugas beralih untuk menekan tombol on atau merekam.

Seketika itulah hasilnya sudah masuk ke dalam laptop petugas yang berapa di luar ruangan.

Hasilnya oleh petugas nakes diarahkan ke dokter yang menangani di bagian depan.

Satirin mengaku senang bisa mendapatkan fasilitas cek kesehatan gratis ini. Terlebih adanya Rontgen Portable.

Sehingga ia tidak jauh-jauh ke layanan kesehatan. Dan itupun tanpa dipungut biaya untuk program ini.

"Tadi juga di cek skrining TBC Alhamdulillah tidak (Tuberkulosis) ada, sehat. Ya seperti itu," ucapnya lirih.

SKRINING TBC - Salah satu warga yang antusias adalah Satirin. Ia warga RT 15 Desa Ngulanwetan, Kecamatan Pogalan merasa terbantu adanya CKG dan Skrining Tuberculosis. 
 
SKRINING TBC - Salah satu warga yang antusias adalah Satirin. Ia warga RT 15 Desa Ngulanwetan, Kecamatan Pogalan merasa terbantu adanya CKG dan Skrining Tuberculosis.    (TribunMataraman.com/Madchan Jazuli)

Ia mengaku mengikuti CKG ini baru pertama kali. Dirinya sangat senang bisa memanfaatkan program pemerintah dalam hal kesehatan karena secara cuma-cuma.

"Sebelumnya periksa harus di pokoknya ketika tidak sehat atau mumet di mantri. Kalau ini cukup terbantu karena gratis," tandasnya.

CKG Terintegrasi Skrining TB, Andalkan Rontgen Portable

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana (Dinkes PPKB) Kabupaten Trenggalek, drg Andiek Muarifin, mengatakan kegiatan tersebut bertujuan mempercepat penemuan kasus TB.

Pun juga sekaligus memberikan pemeriksaan kesehatan dasar kepada masyarakat.

"Hari ini kita melakukan kegiatan tracing penyakit TBC yang terintegrasi dengan pemeriksaan cek kesehatan gratis," ujar drg Andiek.

Ia menjelaskan, masyarakat yang mengikuti pemeriksaan mendapatkan sejumlah layanan kesehatan.

Pemeriksaan tersebut meliputi pengecekan tekanan darah untuk mendeteksi hipertensi, skrining diabetes melitus, serta pemeriksaan TBC.

"Jadi, pasien-pasien atau yang hadir di Balai Desa Pogalan ini akan dilakukan pemeriksaan mulai dari tensi, apakah hipertensi, kemudian skrining diabetes melitus. Kemudian yang paling penting juga adalah penyakit TBC," jelasnya.

Menurut drg Andiek, integrasi dua program tersebut dilakukan agar pelaksanaan CKG tidak hanya berfokus pada penyakit tidak menular.

Melainkan, tapi juga membantu menemukan penyakit menular seperti TBC.

"Jadi, ini diintegrasikan. Ada dua program, CKG dan tuberkulosis, dan dilakukan bersama-sama," jelasnya.

Untuk mempercepat penemuan kasus TBC, Dinkes PPKB Trenggalek mendapatkan satu unit peralatan radiologi portabel dari Kementerian Kesehatan.

Peralatan tersebut memungkinkan pemeriksaan radiologi dilakukan secara lebih fleksibel karena dapat dibawa ke berbagai lokasi.

"Portable radiologi ini artinya alat radiologi yang bisa kita lebih fleksibel, bisa dibawa ke mana-mana, tidak statis di suatu tempat, misalnya di rumah sakit," imbuhnya.

Penggunaan alat tersebut juga bertujuan mendekatkan akses pelayanan kesehatan kepada masyarakat.

Dinkes PPKB Trenggalek berencana menggunakan peralatan itu secara bergerak dengan menyasar desa-desa.

Dengan demikian, masyarakat tidak harus selalu datang ke fasilitas pelayanan kesehatan untuk mendapatkan pemeriksaan.

"Untuk menjemput bola. Jadi, masyarakat tidak harus datang ke faskes, cukup ke desa yang dekat," ujarnya.

Saat ini, Dinkes PPKB Trenggalek baru memiliki satu unit radiologi portabel. Namun, pihaknya berharap tambahan satu unit dari Kementerian Kesehatan dapat segera terealisasi.

"Ini baru satu unit. Insyaallah kemarin dari Kementerian Kesehatan juga mau mengirim lagi satu. Mudah-mudahan nanti bisa terealisasi," kata drg Andiek.

Ia menambahkan, pelaksanaan pemeriksaan menggunakan alat tersebut dilakukan secara bertahap karena kapasitas alat terbatas.

Dalam kegiatan di Balai Desa Pogalan, semula hanya sekitar 100 warga yang diundang untuk mengikuti pemeriksaan.

Namun, antusiasme masyarakat cukup tinggi. Jumlah warga yang mendaftar bahkan mencapai sekitar 120 orang.

"Alat ini sendiri juga punya maksimum kapasitas. Sehingga hari ini yang diundang kurang lebih 100. Tapi nampaknya animo masyarakat cukup tinggi. Tadi yang mendaftar saya cek sudah 100 lebih, 120-an," ungkapnya.

Dinkes PPKB Trenggalek akan mempertimbangkan penjadwalan ulang bagi warga yang belum mendapatkan pemeriksaan.

Terutama di lokasi yang menunjukkan animo masyarakat tinggi.

"Manakala hari ini belum bisa ter-cover semua, kita akan coba lihat lagi apakah nanti kita buat reschedule jadwal di tempat-tempat yang memang animonya bagus," jelasnya.

Target CKG 60 Persen Penduduk

drg Andiek mengatakan, pelaksanaan CKG di Kabupaten Trenggalek hingga Agustus 2026 telah mencapai sekitar 50 persen dari target.

Sementara itu, target yang ditetapkan Dinkes PPKB Trenggalek hingga akhir 2026 mencapai 60 persen dari jumlah penduduk.

"Untuk CKG saat ini sekitar kurang lebih 50 persen. Targetnya adalah 60 persen dari penduduk," ujarnya.

Ia mengatakan masih terdapat waktu hingga akhir 2026 untuk mengejar target tersebut.

Pemeriksaan CKG menyasar seluruh kelompok usia atau siklus hidup.

Mulai dari ibu hamil, bayi, balita, remaja, dewasa hingga lanjut usia.

"Yang dilakukan pemeriksaan cek kesehatan gratis itu meliputi semua kelompok usia atau siklus hidup. Jadi, mulai ibu hamil dan bayi, balita, remaja, dewasa, dan lansia," jelasnya.

Pelaksanaan CKG juga telah menyasar lingkungan sekolah.

Menurut drg Andiek, skrining di sejumlah sekolah mulai dilakukan sejak tahun ajaran baru pada Juli 2026.

Namun, pelaksanaannya sempat menyesuaikan dengan berbagai kegiatan pada Agustus.

"Di bulan Juli kemarin, tahun ajaran baru, kita sudah mulai. Beberapa sekolah sudah dilakukan skrining," katanya.

Ia memastikan skrining akan dilanjutkan setelah berbagai kegiatan tersebut selesai, termasuk bagi siswa SD, SMP, dan SMA yang belum mendapatkan pemeriksaan.

Temuan Kasus TBC Masih Jadi Tantangan

Sementara untuk penanganan TBC, drg Andiek menyebut penemuan kasus masih menjadi pekerjaan rumah bagi Dinkes PPKB Trenggalek.

Ia mengatakan capaian penemuan kasus masih sekitar 40 persen dari target yang telah ditetapkan.

Menurutnya, penemuan kasus TBC harus dilakukan sebanyak mungkin agar tidak terjadi fenomena gunung es.

"Kalau penyakit menular kita harus menemukan segera sebanyak-banyaknya. Karena khawatirnya kalau temuannya rendah, dikhawatirkan seperti fenomena gunung es," ujarnya.

Ia menjelaskan, kasus yang ditemukan bisa saja hanya merupakan sebagian kecil dari jumlah penderita yang sebenarnya ada di masyarakat.

Karena itu, skrining dilakukan tidak hanya kepada masyarakat yang mengalami gejala, tetapi juga kepada orang yang tidak menunjukkan gejala.

"Dalam rangka hari ini kita coba menyisir orang-orang yang tidak ada gejala pun kita lakukan pemeriksaan atau skrining," jelasnya.

Dinkes PPKB Trenggalek kini mendorong peningkatan skrining dan pemeriksaan pada seluruh kelompok masyarakat, terutama kelompok yang memiliki risiko lebih tinggi tertular TBC.

Salah satu kelompok yang menjadi sasaran utama adalah kontak erat pasien TBC.

Misalnya, ketika terdapat satu anggota keluarga yang pernah terinfeksi TBC, anggota keluarga lainnya perlu menjalani pemeriksaan.

Begitu juga dengan orang-orang yang sering berkumpul atau berinteraksi dengan pasien di lingkungan kerja.

Selain kontak erat, pemeriksaan juga menyasar kelompok dengan penyakit kronis yang dapat meningkatkan risiko, seperti diabetes melitus dan HIV.

"Kelompok-kelompok yang rentan ini khususnya, tapi tidak menurunkan kelompok yang lain. Yang tanpa gejala pun harus dilakukan skrining," ungkapnya.

Angka Kesembuhan TBC Capai 90 Persen

drg Andiek mengatakan, pasien TBC yang telah mendapatkan pengobatan di Trenggalek memiliki angka kesembuhan sekitar 90 persen.

Sementara pasien lainnya tidak seluruhnya disebabkan oleh kegagalan pengobatan.

Sebagian pasien meninggal dunia, menghentikan pengobatan sebelum waktunya, terlambat mengonsumsi obat, atau berpindah domisili sehingga sulit dipantau.

"Angka kesembuhan kita di angka 90 persen. Yang lainnya macam-macam. Ada yang meninggal, ada juga yang drop out," ungkapnya.

Ia menjelaskan, pasien yang drop out merupakan pasien yang menghentikan pengobatan sebelum menyelesaikan seluruh rangkaian pengobatan.

Selain itu, perpindahan alamat atau domisili juga dapat menyebabkan tenaga kesehatan kehilangan kontak dengan pasien.

"Karena pindah alamat, pindah domisili. Ini akhirnya kita hilang kontak dengan pasien ini," jelasnya.

Pria yang menjabat definitif Sekretaris Dinas Kesehatan, PPKB Trenggalek ini meminta masyarakat tidak perlu khawatir menjalani pemeriksaan TBC.

Justru, menurutnya, penemuan kasus sejak dini akan mempermudah penanganan dan meningkatkan peluang kesembuhan pasien.

Jika hasil skrining menunjukkan dugaan TBC, pasien akan menjalani pemeriksaan lanjutan untuk memastikan diagnosis.

Pasien yang dinyatakan positif kemudian mendapatkan pengobatan dan harus mengonsumsi obat secara rutin hingga tuntas.

"Sekarang ini obat-obatan sudah tersedia. Yang penting adalah rutin konsumsi obat dan dukungan dari orang-orang terdekatnya," tutupnya. 

Terpisah, Dokter Ahli Muda yang di beri tugas tambahan sebagai Kepala Puskesmas Ngulankulon, Dinkes, PPKB, dr Ika Fibrin Fauziah mengaku untuk CKG bersamaan dengan skrining Tuberculosis hari ini masih data sementara.

Sehingga belum bisa dibeberkan hasil terduga atau sudah dinyatakan positif Tuberculosis.

Pasalnya, data tersebut terinput dalam Sistem Informasi Tuberkulosis (SITB).

Yaitu aplikasi resmi dari Kementerian Kesehatan Republik Indonesia untuk mencatat, melaporkan, sekaligus mengelola data kasus TBC secara terintegrasi.

"Ini belum dianalisa mas. Masih data gelondongan, data nanti semua masuk SiTB," akui dr Ika Fibrin Fauziah.

Oleh sebab itu, dr Ika membeberkan hasilnya akan diterima oleh masyarakat melalui petugas yang membidangi. 

Sehingga masyarakat tidak perlu khawatir. Hasilnya privasi kepada yang bersangkutan.

"Nanti langsung dihubungi oleh koordinatornya Program Tuberculosis. Jadi langsung yang bersangkutan," paparnya.

(Madchan Jazuli/TribunMataraman.com)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.