62 Desa Gresik Terancam Kekurangan Air, Krisis Air Mengancam Gresik
Wiwit Purwanto August 27, 2026 01:04 AM

 

SURYA.CO.ID GRESIK – Bupati Gresik Fandi Akhmad Yani menyalurkan 20 ribu liter air bersih untuk warga Desa Tenggor, Kecamatan Balongpanggang, Kabupaten Gresik, Rabu (26/8/2026).

Bantuan tersebut diberikan di tengah potensi meluasnya kekurangan air bersih akibat musim kemarau.

Empat tangki air masing-masing berkapasitas 5.000 liter didistribusikan kepada warga. Desa Tenggor menjadi salah satu wilayah yang masuk pemetaan rawan kekurangan air bersih oleh BPBD Gresik.

Gus Yani mengatakan kebutuhan air bersih berpotensi meningkat seiring berlangsungnya musim kemarau. Pemkab Gresik pun membuka sejumlah saluran pelaporan agar kebutuhan warga dapat segera dipetakan dan ditangani.

“Kami butuh informasi dari masyarakat Gresik, kecamatan atau desa mana yang membutuhkan air bersih. Bisa melalui 112, Lapor Gus di 0812-3225-4001, atau melalui pemerintah desa. Kepala desa bisa berkoordinasi dengan kecamatan untuk melaporkan kebutuhan air bersih di wilayahnya,” kata Bupati Yani saat berada di Desa Tenggor.

Baca juga: Darurat Kekeringan Tulungagung, 5 Desa Krisis Air Bersih Minta Tambahan Tandon

Berdasarkan pemetaan BPBD Gresik, terdapat 62 desa di 11 kecamatan yang berpotensi mengalami kekurangan air bersih. Wilayah tersebut mencakup 136 dusun.

Di Kecamatan Balongpanggang, terdapat enam desa yang masuk pemetaan, yakni Ganggang, Ngasin, Dapet, Tenggor, Dohoagung, dan Tanahlandean.

Khusus Desa Tenggor, BPBD menerima permintaan bantuan untuk 720 kepala keluarga atau 465 rumah yang mengalami kekurangan air bersih.

Pemkab Siapkan Tambahan Anggaran

Sebelum distribusi ke Tenggor, BPBD Gresik telah menyalurkan bantuan air bersih ke lima desa. Dua desa berada di Kecamatan Sidayu, yakni Randuboto dan Srowo, sedangkan tiga desa lainnya berada di Kecamatan Bungah, yakni Kemangi, Gumeng, dan Pegundan.

Pemkab Gresik juga menyiapkan tambahan anggaran Rp100 juta melalui perubahan anggaran untuk mendukung penanganan kebutuhan air bersih hingga akhir tahun.

Baca juga: Metri Bumi Sumber Gedong Trenggalek, Sawah Tetap Hijau Saat Musim Kemarau

Gus Yani menegaskan penanganan kekurangan air bersih membutuhkan kolaborasi lintas pihak. Pemkab akan menggandeng Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) dan Palang Merah Indonesia (PMI) Gresik untuk memperkuat dukungan distribusi.

“Insyaallah tahun ini kita lebih siap, termasuk secara anggaran. Armada juga nanti bisa kita kolaborasikan. BPBD punya lima truk tangki, PMI Gresik juga punya anggaran dan infrastruktur truk operasional. Insyaallah dalam waktu dekat kita akan berkolaborasi untuk memenuhi kebutuhan masyarakat menghadapi kemarau panjang ini,” ujar Bupati Yani.

Kepala BPBD Gresik Sukardi mengatakan, lima armada tangki telah disiapkan untuk mendukung distribusi air bersih. Masing-masing armada memiliki kapasitas 5.000 liter.

“BPBD sudah memetakan 62 desa dari 11 kecamatan yang berpotensi kekurangan air bersih. Untuk mendukung penanganan, kami sudah menyiapkan lima armada tangki dengan kapasitas masing-masing 5.000 liter,” tambah Sukardi.

Dari sisi dukungan distribusi, BPBD sebelumnya memiliki alokasi sekitar 250 tangki air. Melalui perubahan anggaran, jumlah tersebut ditambah sekitar 200 tangki sehingga total kesiapan distribusi mencapai sekitar 450 tangki.

Normalisasi Waduk Jadi Mitigasi Jangka Panjang

Penanganan kekurangan air tidak hanya dilakukan melalui pengiriman air bersih. Pemkab Gresik juga menyiapkan langkah mitigasi jangka panjang dengan melakukan normalisasi waduk dan saluran air.

Sebanyak 12 alat diturunkan Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang Kabupaten Gresik untuk mengerjakan sejumlah titik, termasuk normalisasi anak Sungai Kali Lamong dan beberapa waduk.

Normalisasi dilakukan untuk mengurangi pendangkalan dan meningkatkan kapasitas tampungan air ketika musim penghujan kembali tiba.

“Waduk juga sedang kita kerjakan. Seperti yang disampaikan Pak Kades, di Dohoagung, Kedungpring itu juga sedang kita kerjakan waduknya karena musim kemarau ini sudah dangkal. Kita normalisasi untuk persiapan ketika musim penghujan, supaya debit air yang tertampung cukup banyak,” ujarnya.

Gus Yani juga mengingatkan persoalan air bersih tidak selalu disebabkan kekeringan. Gangguan distribusi air perpipaan juga dapat menjadi penyebab warga kesulitan mendapatkan air.

Karena itu, masyarakat diminta segera melaporkan kondisi tersebut kepada pemerintah agar penanganan dapat disesuaikan dengan persoalan di lapangan.

“Kami butuh masukan, butuh informasi untuk disampaikan langsung. Desa mana, dusun mana, kecamatan mana. Tidak perlu khawatir, anggarannya juga kami siapkan sampai akhir tahun. Mudah-mudahan musim kemarau ini bisa kita lewati bersama,” tutur Bupati Yani.

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.