TRIBUNKALTIM.CO - Musim kemarau masih memberikan dampak di berbagai wilayah Indonesia, termasuk Provinsi Kalimantan Timur.
Kondisi kering yang berlangsung dalam beberapa waktu terakhir membuat sejumlah upaya dilakukan untuk menjaga ketersediaan air sekaligus menekan risiko kebakaran hutan dan lahan atau karhutla.
Di Kalimantan Timur, hujan mulai terpantau kembali turun di sejumlah wilayah setelah dilakukan upaya penanganan kondisi cuaca melalui Operasi Modifikasi Cuaca.
Operasi Modifikasi Cuaca atau OMC merupakan upaya intervensi terhadap proses pembentukan awan untuk meningkatkan peluang terjadinya hujan pada wilayah tertentu.
Meski hujan telah kembali tercatat di beberapa daerah, pemerintah belum menganggap ancaman kekeringan maupun karhutla telah berakhir.
Baca juga: Prakiraan Cuaca BMKG Kamis 27 Agustus 2026, Ada Daerah Kaltim yang Hujan?
Situasi tersebut menjadi perhatian di tengah musim kemarau yang masih berlangsung.
Danau dan sungai di Kalimantan Timur pun tampak masih surut.
Sementara itu, berdasarkan informasi Monitoring Perkembangan Musim dan Deret Hari Tanpa Hujan atau HTH yang dimutakhirkan pada 20 Agustus 2026, sejumlah wilayah Indonesia tercatat mengalami periode panjang tanpa hujan.
Hari Tanpa Hujan merupakan indikator yang digunakan untuk menggambarkan lamanya suatu wilayah mengalami hari-hari tanpa terjadinya hujan.
Semakin panjang periode tersebut, semakin besar perhatian yang diperlukan terhadap kemungkinan dampak kekeringan, kelangkaan air hingga meningkatnya risiko kebakaran hutan dan lahan.
Data yang diunggah melalui akun X @infobmkg memperlihatkan terdapat wilayah yang mengalami hari tanpa hujan hingga 110 hari.
Daerah dengan durasi terpanjang berada di DI Yogyakarta.
Berdasarkan data pemutakhiran 20 Agustus 2026, DI Yogyakarta menjadi wilayah yang mencatat periode kurang hujan ekstrem panjang tertinggi dalam daftar yang disampaikan.
Durasi hari tanpa hujan di wilayah tersebut mencapai 110 hari.
Sejumlah daerah di DI Yogyakarta mengalami periode panjang tanpa hujan, terutama Kabupaten Bantul.
Wilayah Bantul tercatat mengalami hari tanpa hujan hingga 110 hari. Sejumlah kecamatan yang masuk dalam catatan tersebut antara lain Pajangan, Pundong, Bantul, Jetis, Imogiri, Bambanglipuro, Sanden, Pandak, Srandakan, Dlingo, Banguntapan, Kasihan, Kretek, Piyungan, Sedayu, Sewon, dan Pleret.
Selain Bantul, Kabupaten Gunung Kidul tercatat mengalami periode hari tanpa hujan hingga 94 hari.
Wilayah yang disebut meliputi Rongkop, Tepus, Tanjungsari, Saptosari, Ngawen, Ponjong, Karangmojo, Gedangsari, Wonosari, Playen, Nglipar, Patuk, serta Semin.
Kulon Progo tercatat mencapai 87 hari tanpa hujan pada sejumlah wilayah seperti Galur, Samigaluh, Temon, Sentolo, Wates, Kalibawang, Pengasih, Nanggulan, dan Panjatan.
Kota Yogyakarta juga tercatat mengalami 67 hari tanpa hujan pada sejumlah wilayah, termasuk Umbulharjo, Tegalrejo, dan Danurejan.
Sementara sejumlah wilayah di Kabupaten Sleman, seperti Ngemplak, Prambanan, Moyudan, Depok, Berbah, Gamping, Tempel, Mlati, Kalasan, Seyegan, dan Godean, tercatat mencapai 67 hari.
Setelah DI Yogyakarta, Jawa Tengah menjadi salah satu wilayah dengan catatan hari tanpa hujan ekstrem panjang.
Wilayah tertinggi di Jawa Tengah tercatat berada di Sragen dengan durasi mencapai 109 hari.
Sejumlah kecamatan yang masuk dalam catatan tersebut adalah Masaran, Kedawung, Karangmalang, dan Kalijambe.
Wonogiri berada di posisi berikutnya dengan catatan hingga 108 hari tanpa hujan. Wilayah tersebut mencakup Jatisrono, Selogiri, Karangtengah, Baturetno, Giriwoyo, Tirtomoyo, Wonogiri, Girimarto, Ngadirojo, Batuwarno, Pracimantoro, dan Eromoko.
Klaten tercatat mengalami hingga 96 hari tanpa hujan. Sejumlah daerah yang disebut meliputi Juwiring, Trucuk, Cawas, Gantiwarno, Jogonalan, Prambanan, Pedan, dan Wedi.
Daerah lain di Jawa Tengah yang turut mengalami periode panjang tanpa hujan antara lain Blora dan Magelang dengan 89 hari, Cilacap, Demak, Grobogan, serta Purworejo dengan 87 hari, hingga Jepara dengan 86 hari.
Kondisi serupa juga tercatat di Jawa Timur.
Blitar menjadi salah satu daerah dengan durasi hari tanpa hujan terpanjang mencapai 109 hari. Sejumlah wilayah yang masuk dalam catatan tersebut antara lain Kademangan, Talun, Binangun, Panggungrejo, Doko, Sanankulon, Wonodadi, Gandusari, Udanawu, Garum, Wlingi, Kanigoro, Kesamben, Ponggok, Srengat, Sutojayan, dan Selorejo.
Madiun dan Magetan tercatat mencapai 108 hari.
Malang mengalami hingga 97 hari, Kediri 96 hari, sedangkan Jember dan Ngawi mencapai 95 hari.
Lumajang tercatat mengalami periode hingga 94 hari. Sementara Bojonegoro dan Pacitan masing-masing mencapai 92 hari.
NTT, NTB hingga Bali Masuk Daftar Wilayah Kurang Hujan
Selain Pulau Jawa, sejumlah wilayah di Indonesia bagian tengah juga mengalami periode hari tanpa hujan yang panjang.
Nusa Tenggara Timur atau NTT tercatat mengalami periode hingga 97 hari.
Kota Kupang menjadi wilayah dengan catatan tersebut, mencakup Kecamatan Kota Raja, Oebobo, Maulafa, dan Kota Lama.
Kabupaten Lembata dan Sumba Timur masing-masing tercatat mencapai 94 hari.
Ngada dan Belu mencapai 93 hari, Kabupaten Kupang 92 hari, Sikka 91 hari, serta Ende mencapai 90 hari.
NTB tercatat mengalami periode hingga 94 hari.
Sementara itu, Bali mencatat hari tanpa hujan terpanjang hingga 92 hari.
Kabupaten Buleleng menjadi daerah dengan catatan tersebut, terutama di wilayah Gerokgak, Sukasada, Seririt, dan Banjar.
Daerah lain di Bali yang tercatat mengalami periode panjang tanpa hujan meliputi Bangli hingga 81 hari, Jembrana 76 hari, dan Badung hingga 68 hari.
Jawa Barat dan Banten Juga Masuk Daftar
Jawa Barat menjadi salah satu provinsi yang masuk dalam daftar wilayah dengan periode hari tanpa hujan panjang.
Cirebon tercatat mencapai hingga 89 hari, terutama di wilayah Kapetakan dan Susukan.
Sejumlah daerah lain seperti Bandung, Cianjur, Garut, Karawang, Majalengka, dan Sumedang tercatat mencapai 87 hari.
Bandung Barat mencapai 86 hari.
Sementara Indramayu dan Subang tercatat hingga 85 hari tanpa hujan.
Di Provinsi Banten, Serang menjadi wilayah dengan catatan hingga 87 hari.
Lebak mencapai 86 hari.
Pandeglang tercatat mengalami hingga 63 hari, sedangkan Tangerang mencapai 61 hari.
Daftar 17 Wilayah dengan Hari Tanpa Hujan Ekstrem Panjang
Berdasarkan data pemutakhiran BMKG per 20 Agustus 2026, terdapat sejumlah wilayah yang masuk dalam daftar periode kurang hujan ekstrem panjang.
Berikut urutannya berdasarkan informasi yang tersedia:
Di Maluku, wilayah Seram Bagian Timur tercatat mengalami hingga 73 hari tanpa hujan, terutama di wilayah Seram Timur.
Sementara di Provinsi Bangka Belitung, Kabupaten Bangka Tengah tercatat mengalami periode hingga 72 hari tanpa hujan di wilayah Lubuk Besar.
Sebanyak 791 Lokasi Alami Hari Tanpa Hujan Ekstrem Panjang
Data BMKG yang mencakup 4.828 pos pengamatan menunjukkan kondisi hari tanpa hujan terjadi dengan tingkat yang beragam.
Sebanyak 791 lokasi atau 13,21 persen masuk kategori ekstrem panjang, yaitu mengalami lebih dari 60 hari tanpa hujan.
Kategori sangat panjang dengan rentang 31 hingga 60 hari tercatat pada 1.112 lokasi atau 23,03 persen.
Kemudian, kategori panjang selama 21 hingga 30 hari ditemukan pada 782 lokasi atau 16,20 persen.
Sebanyak 479 lokasi atau 9,92 persen masuk kategori menengah dengan periode 11 hingga 20 hari.
Kategori pendek selama enam hingga 10 hari tercatat di 132 lokasi atau 2,73 persen.
Sementara itu, sebanyak 894 lokasi atau 18,52 persen masuk kategori sangat pendek, yakni mengalami satu hingga lima hari tanpa hujan.
Di sisi lain, masih terdapat 638 lokasi atau 13,21 persen yang tercatat masih mengalami hujan.
Sebagian Besar Zona Musim Masih Mengalami Kemarau
Analisis perkembangan musim berdasarkan jumlah Zona Musim atau ZOM menunjukkan sebagian besar wilayah berada dalam kondisi kemarau.
Zona Musim merupakan wilayah yang memiliki pola perubahan musim relatif serupa dan digunakan dalam analisis klimatologi.
Sebanyak 559 ZOM atau 79,9 persen berada dalam kondisi kemarau.
Kemudian, 113 ZOM atau 16,2 persen masuk dalam kategori tipe satu musim.
Sementara hanya 27 ZOM atau 3,9 persen yang berada dalam kondisi musim hujan.
Data tersebut memperlihatkan bahwa kondisi kemarau masih mendominasi sebagian besar wilayah yang dianalisis.
Kaltim Masih Dilanda Kemarau, Hujan Mulai Terpantau
Di tengah kondisi kemarau yang masih berlangsung, Kalimantan Timur juga menghadapi dampak cuaca kering.
Namun, hujan mulai kembali terpantau di sejumlah daerah.
Berdasarkan data Pos Curah Hujan Long Lebusan yang berada di wilayah hulu Wilayah Sungai atau WS Mahakam, hujan tercatat mengguyur Kabupaten Mahakam Ulu pada Sabtu, 22 Agustus 2026.
Hujan berlangsung sekitar pukul 02.00 hingga 02.30 WITA dengan curah hujan sekitar 20 milimeter.
Hujan juga dilaporkan terjadi di sejumlah wilayah sekitar Kabupaten Kutai Kartanegara.
Masuknya hujan di sejumlah daerah tersebut memberikan perkembangan terhadap kondisi sumber air di kawasan Ibu Kota Nusantara atau IKN.
Muka air pada intake Sungai Sepaku tercatat mengalami kenaikan.
Intake merupakan titik atau fasilitas pengambilan air baku yang digunakan sebagai bagian dari sistem penyediaan air.
Elevasi muka air yang sebelumnya berada pada angka +2,04 meter meningkat menjadi +2,05 meter pada pukul 08.20 WITA.
Dengan demikian, terjadi kenaikan sekitar satu sentimeter.
Kondisi tersebut diharapkan terus membaik seiring bertambahnya hujan di wilayah tangkapan air Sungai Sepaku.
Wilayah tangkapan air sendiri merupakan kawasan yang berfungsi menampung dan mengalirkan air hujan menuju sungai atau sumber air tertentu.
Balikpapan Terakhir Diguyur Hujan Rintik pada 24 Agustus
Di Kota Balikpapan, hujan terakhir tercatat terjadi pada Senin, 24 Agustus 2026.
Namun, hujan yang turun saat itu hanya berupa hujan rintik dan berlangsung dalam waktu singkat.
Hujan rintik merupakan hujan dengan intensitas ringan dan butiran air yang relatif kecil.
Karena intensitasnya terbatas dan berlangsung sebentar, kondisi tersebut berbeda dengan hujan lebat yang mampu memberikan tambahan air dalam jumlah lebih besar.
Kondisi cuaca kering setelahnya tetap menjadi perhatian dalam menjaga risiko kekeringan dan kebakaran lahan.
Ancaman Kekeringan dan Karhutla Belum Berakhir
Meski sejumlah wilayah Kalimantan Timur mulai menerima hujan, pemerintah belum menyatakan ancaman kekeringan dan karhutla berakhir.
Karhutla adalah singkatan dari kebakaran hutan dan lahan, yaitu kebakaran yang terjadi pada kawasan berhutan maupun area lahan.
Berdasarkan data terbaru Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kaltim per Sabtu (22/8/2026), tercatat 430 titik karhutla tersebar di sejumlah kabupaten dan kota.
Total luasan lahan dan hutan yang terbakar mencapai 1.260,92 hektare.