SRIPOKU.COM, PALEMBANG– Beras premium kemasan 5 kilogram (kg) di sejumlah wilayah Sumatera Selatan (Sumsel) mulai sulit ditemukan di pasaran.
Kondisi tersebut bukan disebabkan oleh kelangkaan stok beras, melainkan diduga berkaitan dengan meningkatnya harga plastik sebagai bahan kemasan.
Pimpinan Perum Bulog Kantor Wilayah Sumsel dan Babel, Ihsan, mengatakan pihaknya menemukan berkurangnya pasokan beras premium kemasan 5 kg setelah melakukan kunjungan ke sejumlah mitra penggilingan.
Menurutnya, kenaikan harga plastik membuat biaya produksi beras kemasan 5 kg ikut meningkat. Kondisi tersebut membuat penggilingan harus menghadapi risiko harga jual beras melampaui Harga Eceran Tertinggi (HET).
"Kenaikan harga plastik membuat biaya produksi beras kemasan 5 kg meningkat. Jika tetap diproduksi, harga jual beras berpotensi melampaui harga eceran tertinggi (HET)," kata Ihsan, Kamis (27/8/2026).
Ia menjelaskan, penggilingan padi memilih tidak memaksakan produksi beras premium kemasan 5 kg karena harus memperhitungkan biaya karung atau plastik serta upah tenaga kerja untuk proses pengemasan.
Sebagai langkah antisipasi, Bulog Sumsel Babel berkoordinasi dengan Dinas Perdagangan dan Perumda Pasar untuk menyalurkan beras medium kemasan 5 kg atau beras SPHP ke sejumlah pasar.
Langkah tersebut dilakukan agar masyarakat tetap memiliki pilihan beras dengan ukuran kemasan yang sama ketika beras premium 5 kg sulit ditemukan.
"Harapannya, masyarakat punya pilihan. Kalau tidak bisa membeli kemasan 20 kg, masyarakat bisa membeli beras medium yang 5 kg. Untuk HET beras medium SPHP ini Rp12.500 per kg," ujar Ihsan.
Hingga 21 Agustus 2026, sejumlah pasar telah mendapatkan pasokan beras medium kemasan 5 kg. Di Kota Palembang, pasokan tersebut antara lain disalurkan ke Pasar Tradisional Lemabang sebanyak 23 ton dan Pasar KM 5 sekitar 13 ton.
Di tengah berkurangnya beras premium kemasan 5 kg, Bulog memastikan kondisi tersebut tidak berkaitan dengan menipisnya stok beras.
Ihsan menyebut stok beras yang tersimpan di gudang Bulog wilayah Sumsel mencapai sekitar 116 ribu ton. Jumlah tersebut dinilai masih mencukupi kebutuhan masyarakat.
"Jadi masyarakat tidak perlu khawatir karena stok di gudang kita sangat banyak. Stok dan kebutuhan kita cukup, bahkan kita menyuplai ke wilayah lain seperti ke Jambi, Bengkulu, Riau dan Padang," katanya.
Sementara itu, harga gabah di tingkat petani saat ini berada di kisaran Rp6.800 hingga Rp7.000 per kilogram.
Sedangkan Bulog tetap membeli gabah dari petani dengan harga Rp6.500 per kilogram sesuai ketetapan pemerintah.
Ihsan menyebut kenaikan harga gabah tersebut merupakan kondisi yang lazim terjadi menjelang akhir tahun. Menurutnya, kenaikan harga gabah juga tidak serta-merta menjadi penyebab berkurangnya beras premium kemasan 5 kg.
Masyarakat masih memiliki sejumlah alternatif. Beras kemasan 20 kg masih tersedia di sejumlah pasar, sementara beberapa toko juga menyediakan beras secara eceran sesuai kebutuhan konsumen.
Direktur Operasional Perumda Pasar Palembang Jaya, Apriadi Sinaga, mengatakan pihaknya telah berkomunikasi dengan Bulog untuk mengetahui pasar-pasar yang membutuhkan pasokan beras SPHP.
Sejumlah pasar di Palembang kini telah mendapatkan pasokan beras SPHP kemasan 5 kg, di antaranya Pasar Sako, Perumnas, Kertapati, 3-4 Ulu dan 10 Ulu.
"Untuk itu kini SPHP juga sudah ada di Pasar Sako, Perumnas, Kertapati, 3-4 Ulu, 10 Ulu dan lain-lain. Di pasar-pasar tersebut ada banyak toko yang diisi supaya masyarakat bisa memilih mau beli di mana," kata Apriadi.