Depok (ANTARA) - Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII) mencatat tonggak bersejarah pertama kalinya dengan meluluskan 34 doktor pertama yang berasal dari 22 negara.
"Ini bukan sekadar wisuda. Ini adalah awal dari sejarah intelektual yang semakin kuat di UIII," ujar Rektor UIII Prof Jamhari Makruf setelah acara wisuda di Depok, Kamis.
Sebanyak 204 lulusan resmi menyandang gelar magister dan doktor dari empat fakultas, yakni Fakultas Kajian Islam, Fakultas Ilmu Sosial, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, serta Fakultas Pendidikan.
Dari jumlah itu, 105 diantaranya adalah mahasiswa Indonesia, sementara 99 lainnya merupakan mahasiswa internasional yang datang dari 22 negara. Dari 204 lulusan, 34 orang adalah doktor angkatan pertama sejak UIII berdiri.
Prof Jamhari menegaskan bahwa kelulusan ini bukan sekadar seremoni akademik semata, tetapi melahirkan pemimpin masa depan.
"Kami tidak hanya mencetak lulusan. Kami melahirkan para pemikir, peneliti, dan pemimpin masa depan yang diharapkan membawa gagasan baru bagi dunia," katanya.
Kehadiran angkatan doktoral ini, lanjutnya, menjadi langkah nyata mewujudkan visi UIII sebagai pusat keunggulan pendidikan dan riset Islam tingkat internasional.
Keberagaman menjadi ciri khas UIII. Dengan lulusan dari 22 negara, kampus ini menjelma menjadi ruang dialog antarbudaya dan antarbangsa.
Rektor menyampaikan pesan kekeluargaan yang mengena. Ia menyebut UIII adalah keluarga, dan kelulusan bukanlah akhir dari sebuah ikatan kebersamaan.
"Kalian boleh meninggalkan kampus, tapi tidak akan pernah meninggalkan UIII," katanya.
Ia mengajak para alumni untuk tetap terlibat, melalui riset, jejaring, hingga program mentoring. Ia mengajak seluruh keluarga besar UIII mendukung pengembangan dana abadi (endowment) kampus UIII.
"Keluarga bukan hanya tempat menerima. Keluarga juga tempat memberi," pesannya.
Lebih lanjut, Prof Jamhari memberikan pesan mendalam bagi para lulusan yang akan terjun ke masyarakat.
"Gelar bukan tujuan akhir pendidikan. Gelar adalah tanggung jawab," tegasnya.
Ia mengingatkan bahwa dunia saat ini tengah menghadapi berbagai tantangan: polarisasi, disrupsi teknologi, ketimpangan ekonomi, hingga konflik. Karena itu, para lulusan diminta untuk tetap kritis, rendah hati, dan mampu berbeda pendapat tanpa kehilangan rasa hormat.
"Berpikirlah kritis, tetapi tetap rendah hati. Boleh berbeda, tapi jangan saling merendahkan," ujarnya.
Para lulusan UIII angkatan 2026 resmi menjadi bagian dari komunitas alumni yang akan tersebar dari Sabang sampai Merauke, bahkan ke Pakistan, Nigeria, Afghanistan, Tanzania, dan berbagai negara lainnya.
"Di mana pun kalian berada, kalian akan membawa UIII dalam diri kalian," ucap Prof Jamhari.
Ia berharap mereka menjadi duta nilai-nilai UIII, keterbukaan intelektual, integritas, dan Islam yang berkontribusi bagi kemanusiaan.
Wisuda tahun ini bukan sekadar penutupan perjalanan akademik. Ini adalah awal dari hadirnya generasi baru cendekiawan, peneliti, dan pemimpin dunia.
Sementara itu, Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kemahasiswaan, Assoc. Prof Syafiq Hasyim, menegaskan bahwa internasionalisasi di UIII bukan sekadar statistik.
"Ini bukan hanya soal duduk satu kelas dengan orang dari negara lain. Ini soal belajar melihat dunia dari kacamata yang berbeda," ujarnya.
Ia juga menyoroti posisi UIII sebagai kontribusi Indonesia bagi peradaban dunia. "Keyakinan kami: pengalaman Indonesia tentang Islam, demokrasi, dan pluralisme layak ditawarkan ke dunia," ujarnya.





