Laporan Wartawan TribunPriangan.com, Ai Sani Nuraini
TRIBUNPRIANGAN.COM, CIAMIS - Para lanjut usia (lansia) di Kabupaten Ciamis didorong untuk tetap aktif dan memberikan kontribusi bagi masyarakat.
Bupati Ciamis, Herdiat Sunarya bahkan meminta para lansia ikut membantu pemerintah mengedukasi warga terkait berbagai persoalan di lingkungan, salah satunya ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Hal itu disampaikan Herdiat saat menghadiri Musyawarah Daerah (Musda) Lembaga Lanjut Usia Indonesia (LLI) Kabupaten Ciamis Tahun 2026, Kamis (27/8/2026).
Herdiat mengatakan, usia lanjut bukan alasan untuk berhenti beraktivitas. Para lansia dinilai masih memiliki pengalaman dan pengetahuan yang dapat dibagikan kepada masyarakat.
Karena itu, ia berharap keberadaan LLI tidak hanya menjadi tempat berkumpul dan bersilaturahmi, tetapi juga memiliki kegiatan yang memberikan manfaat nyata.
Baca juga: Dinsos Ciamis Temukan 15 Ribu Penerima Bansos Terindikasi Judi Online
“Musda ini tidak hanya acara seremonial, tetapi harus berdampak nyata dan ada manfaatnya, paling tidak untuk organisasi kita, untuk pribadi kita, dan lebih jauh lagi ada manfaatnya untuk masyarakat Kabupaten Ciamis yang kita cintai,” ujar Herdiat.
Herdiat kemudian mengajak para anggota LLI menjadi bagian dari upaya pencegahan karhutla.
Ia meminta para lansia turut mengingatkan warga di lingkungan masing-masing agar tidak membakar sampah sembarangan, terlebih saat kondisi kemarau.
“Pada kesempatan ini mengajak dan mengimbau kepada bapak ibu semua, paling tidak di daerahnya masing-masing dapat membantu menyosialisasikan dan mengedukasi masyarakat untuk tidak membakar sampah,” katanya.
Menurut Herdiat, kebakaran hutan dan lahan dapat menimbulkan persoalan yang lebih besar.
Kerusakan hutan, kata dia, berpotensi memicu bencana lain seperti banjir dan longsor.
“Kalau hutannya habis, insyaallah akan menyusul bencana-bencana lain, baik longsor, banjir, dan bencana lainnya,” ujarnya.
Selain karhutla, persoalan kekeringan juga menjadi perhatian Pemkab Ciamis.
Kemarau yang berlangsung cukup panjang membuat sejumlah wilayah mulai mengalami kesulitan mendapatkan air bersih.
Herdiat menyebut pemerintah daerah setiap hari mendistribusikan puluhan tangki air untuk memenuhi kebutuhan warga.
“Di Ciamis kemarau sudah cukup lama. Beberapa daerah sudah kekurangan air bersih. Kita lebih dari 50 tangki setiap hari menyuplai air bersih untuk kebutuhan masyarakat,” ungkapnya.
Ia pun mengimbau masyarakat menggunakan air secara bijak selama musim kemarau.
Dalam kesempatan itu, Herdiat juga memaparkan sejumlah persoalan sosial yang masih menjadi pekerjaan rumah Pemkab Ciamis.
Di antaranya persoalan stunting yang saat ini masih berada di kisaran 24 persen.
Penanganan stunting dilakukan dengan melibatkan berbagai OPD. Masing-masing dinas dan badan diberikan wilayah binaan untuk ikut mengawasi serta membantu masyarakat.
“Angka stunting ini di Ciamis masih cukup tinggi, sekitar 24 persen. Sebetulnya kita sudah membagi tugas, setiap OPD, setiap dinas dan badan diberikan daerah binaan untuk mengawasi dan membantu masyarakat,” jelasnya.
Selain stunting, persoalan rumah tidak layak huni (RTLH) juga masih menjadi perhatian.
Herdiat menyebut sekitar 13 ribu RTLH masih masuk dalam pendataan pemerintah secara by name by address.
Menurutnya, penanganan persoalan tersebut membutuhkan dukungan berbagai pihak karena kemampuan fiskal Kabupaten Ciamis masih terbatas.
Ciamis, kata Herdiat, berada di posisi ke-24 dari 27 kabupaten/kota di Jawa Barat dalam hal kemampuan fiskal.
Sementara target Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kabupaten Ciamis pada 2026 berada di kisaran Rp376 miliar.
Meski demikian, Herdiat menilai semangat gotong royong masyarakat menjadi modal penting dalam membantu pembangunan daerah.
“Tapi begitu turun ke lapangan ternyata orang Ciamis mempunyai semangat yang luar biasa. Peran serta gotong royong masyarakat Ciamis ini sangat luar biasa,” tuturnya.
Musda LLI Kabupaten Ciamis digelar untuk mengevaluasi perjalanan organisasi sekaligus menentukan kepengurusan baru periode 2026-2031.
Herdiat berharap pengurus yang terpilih nantinya dapat menjaga marwah organisasi dan membawa LLI menjadi lebih maju.
“Siapapun yang terpilih, siapapun yang mendapat amanah harus mampu menjaga marwah organisasi, dapat memajukan dan mengembangkan ke arah yang lebih baik dan lebih maju,” tegasnya.
Ia juga meminta proses pergantian kepengurusan tidak menimbulkan perpecahan.
Herdiat berharap pengurus baru mampu merangkul seluruh anggota sehingga LLI tetap solid dan tidak terjadi dualisme.
“Siapapun yang maju, yang terpilih paling tidak harus dapat merangkul semua sehingga ini tetap solid,” katanya.
Sementara itu, Ketua LLI Kabupaten Ciamis periode 2021-2026, Masduki, mengatakan Musda menjadi momentum penting untuk mengevaluasi program sekaligus menyusun kebijakan strategis organisasi untuk lima tahun ke depan.
“Musda ini bukan sebentar, agenda rutin organisasi lima tahunan, melainkan momen yang krusial untuk mengevaluasi perjalanan program kerja kita sekaligus merumuskan kebijakan yang strategis ke depan,” kata Masduki.
Masduki menegaskan, menjadi lansia bukan berarti berhenti produktif.
Menurutnya, para lansia tetap dapat memberikan kontribusi bagi pembangunan daerah melalui pengalaman dan pengetahuan yang dimiliki.
“Lanjut usia bukanlah akhir dari produktivitas, melainkan fase kehidupan yang penuh makna, penuh hikmah, dan memberikan kontribusi bagi pembangunan daerah Kabupaten Ciamis,” ujarnya.
Ia berharap kepengurusan LLI periode berikutnya dapat semakin memperkuat program yang berkaitan dengan kesejahteraan lansia, mulai dari kesehatan, sosial hingga keagamaan.
Dengan begitu, LLI diharapkan tidak hanya menjadi tempat silaturahmi, tetapi juga wadah bagi para lansia untuk tetap berkarya dan memberikan manfaat bagi masyarakat.(*)