Makanan Sehat Tak Harus Mahal, Ini Strategi Penuhi Gizi Keluarga di Tengah Tekanan Ekonomi
Feryanto Hadi August 27, 2026 05:17 PM

 

WARTAKOTALIVE.COM, JAKARTA -- Kenaikan harga kebutuhan pokok, tekanan daya beli, dan ketidakpastian ekonomi membuat keluarga perlu semakin cermat mengatur pengeluaran, termasuk untuk memenuhi kebutuhan pangan bergizi.

Di tengah kondisi tersebut, makanan sehat kerap dianggap membutuhkan biaya besar. Padahal, pemilihan bahan pangan yang tepat dan pengaturan menu secara bijak dapat membantu keluarga tetap memenuhi kebutuhan gizi tanpa harus menguras anggaran.

Hal tersebut dibahas dalam media talk Forum Ngobras dan Frisian Flag Indonesia bertajuk “Budget Boleh Minimal, Nutrisi Harus Tetap Optimal” di Jakarta, Rabu (26/8/2026).

Kepala Lembaga Demografi sekaligus dosen dan peneliti Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (FEB UI), I Dewa Gede Karma Wisana, mengatakan tekanan ekonomi terhadap masyarakat dapat terlihat dari perubahan pola pengeluaran rumah tangga.

Menurutnya, masyarakat terbagi dalam lima kelompok pendapatan atau kuintil, dengan kuintil 1 merupakan kelompok berpendapatan paling rendah dan kuintil 5 paling tinggi.

“Semakin rendah pendapatan, semakin habis anggaran belanja untuk makan,” kata Dewa.

Ia menjelaskan, pada kelompok kuintil 1, pengeluaran untuk kebutuhan pangan mencapai 63,2 persen dari pendapatan. Sementara pada kelompok kuintil 5, porsinya sekitar 40,5 persen.

Kondisi tersebut membuat kenaikan harga pangan maupun biaya kebutuhan lainnya berpotensi semakin menekan kemampuan keluarga memenuhi kebutuhan gizi.

Berdasarkan data Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) 2024 dan 2025 yang dirujuk Dewa, terjadi perubahan pola pengeluaran masyarakat. Belanja nonmakanan meningkat 5,98 persen, sedangkan tambahan belanja makanan hanya 3,16 persen.

“Ada kecenderungan bahwa tambahan belanja nonmakanan lebih tinggi dibandingkan konsumsi makanan. Jadi ada trade off atau penukaran karena harus tetap beli bahan bakar misalnya, sehingga kemudian memilih makanan yang lebih sederhana,” tuturnya.

Kualitas Gizi Ikut Tertekan

Menurut Dewa, perubahan pola konsumsi juga terlihat dari meningkatnya alokasi pengeluaran untuk makanan jadi atau makan di luar rumah.

“Alokasi belanja makanan jadi atau beli di luar meningkat cukup tajam; kita lebih sering jajan. Yang juga meningkat yaitu rokok dan tembakau, setara dengan bahan pangan padi-padian,” ujarnya.

Persoalannya, ketika anggaran rumah tangga semakin terbatas, kualitas makanan justru berpotensi menjadi hal pertama yang dikorbankan.

Dewa mengatakan masyarakat umumnya tetap berupaya memenuhi kebutuhan kalori, tetapi mengurangi sumber pangan yang memiliki kandungan gizi lebih tinggi.

“Orang cenderung fokus ke sumber karbohidrat, tapi minim gizi,” katanya.

Pengurangan tersebut antara lain terlihat pada konsumsi sumber protein seperti ikan, udang, cumi, telur, susu, dan daging.

Padahal, protein merupakan salah satu komponen penting dalam memenuhi kebutuhan gizi keluarga, terutama bagi anak-anak yang sedang berada dalam masa pertumbuhan.

Dewa menilai anggapan bahwa seluruh protein hewani mahal juga perlu diluruskan. Harga daging sapi memang relatif tinggi, tetapi masih tersedia berbagai sumber protein hewani yang lebih terjangkau.

“Daging sapi memang mahal, tapi ada protein hewani lain seperti ikan, ayam, telur dan susu yang tidak semahal itu. Ini masih kurang optimal dikonsumsi, dan sebetulnya bisa dikonsumsi lebih banyak,” jelasnya.

Ia menyebut telur dan ikan dapat menjadi pilihan utama keluarga untuk memenuhi kebutuhan protein hewani sehari-hari. Sementara susu dapat menjadi pelengkap untuk meningkatkan kualitas gizi makanan.

Jangan Korbankan Gizi Anak

Dewa mengingatkan, pengurangan kualitas asupan makanan akibat tekanan ekonomi dapat memberikan dampak jangka panjang, terutama bagi anak-anak.

“Di masa depan, mereka harus membayar dalam bentuk kurangnya kemampuan fisik dan kognitif sehingga produktivitas mereka tidak optimal,” tegasnya.

Menurut dia, kesenjangan akses terhadap makanan bergizi juga berpotensi memperlebar kesenjangan kualitas sumber daya manusia.

Jika asupan gizi yang baik hanya dapat dijangkau keluarga dengan kemampuan ekonomi lebih tinggi, generasi berikutnya berisiko menghadapi persoalan kesehatan dan produktivitas di masa mendatang.

Beban biaya kesehatan pun berpotensi meningkat apabila pola konsumsi yang kurang bergizi berlangsung dalam jangka panjang.

Makanan Sehat Tidak Harus Mahal

Ahli Nutrisi Tara Mutiara Ramdani, S.Gz., M.Sc., mengatakan keluarga tidak perlu mengidentikkan makanan sehat dengan bahan pangan mahal.

“Makanan sehat itu tidak harus mahal. Jangan sampai kita punya mindset bahwa makanan sehat identik dengan bahan pangan tertentu, misalnya ikan salmon,” ujar Tara.

Menurutnya, rata-rata masyarakat Indonesia sebenarnya telah memenuhi kebutuhan kalori harian. Namun, sumber kalori tersebut masih banyak didominasi oleh karbohidrat.

Karbohidrat, kata Tara, tetap dibutuhkan tubuh dan idealnya menyumbang sekitar 50 hingga 60 persen asupan pangan harian. Yang perlu diperhatikan adalah variasi sumber karbohidrat.

“Kita punya banyak sekali pangan lokal dari umbi-umbian. Contohnya kimpul, yang sekarang sedang ngetren. Beras juga beraneka warna, jadi jangan nasi putih terus,” katanya.

Untuk sumber protein, keluarga dapat memanfaatkan bahan pangan yang mudah diperoleh dan relatif terjangkau, seperti tahu dan tempe.

Namun, Tara mengingatkan agar protein hewani juga tetap tersedia dalam menu keluarga karena lebih mudah dicerna dan diserap tubuh.

Terlebih bagi anak-anak, protein hewani memiliki kandungan asam amino dan zat gizi yang dibutuhkan untuk mendukung proses tumbuh kembang.

Ia menyoroti kondisi pemberian makanan pendamping ASI (MPASI) pada anak. Berdasarkan data yang disampaikannya, hanya 43 persen balita usia 6-23 bulan di Indonesia yang mendapatkan Minimum Acceptable Diet, yakni pola MPASI yang memenuhi standar keberagaman dan kecukupan konsumsi.

Tara mengatakan ikan dan telur dapat menjadi pilihan protein hewani yang relatif ekonomis dibandingkan daging.

“Apalagi, Indonesia negara kepulauan; keanekaragaman ikan sangat tinggi. Ikan juga mengandung lemak tak jenuh yang sehat,” jelasnya.

Sementara itu, susu dapat menjadi salah satu pelengkap asupan karena mengandung beragam zat gizi dalam setiap porsinya.

“Susu memiliki skor DIAAS tertinggi dalam protein hewani,” ujarnya.

DIAAS (Digestible Indispensable Amino Acid Score) merupakan metode untuk mengukur kualitas protein berdasarkan kemampuan tubuh mencerna dan menyerap asam amino esensial. Semakin tinggi nilainya, semakin baik kualitas protein yang dapat dimanfaatkan tubuh.

Tara menyebut susu sapi memiliki nilai DIAAS di atas 100 persen.

Pintar Menyusun Menu

Dalam mengatur menu keluarga, Tara mengingatkan pentingnya berpedoman pada prinsip gizi seimbang melalui Tumpeng Gizi dan konsep Isi Piringku.

Menurut dia, keluarga perlu memastikan makanan yang dikonsumsi tidak hanya membuat kenyang, tetapi juga memiliki kandungan gizi yang beragam.

“Kita harus pintar mengatur strategi makanan yang padat gizi. Saat membeli lauk misalnya, perhitungkan apa saja kandungan gizinya? Jangan asal kenyang tapi minim gizi,” tandasnya.

Ia juga mengingatkan masyarakat tidak perlu merasa bersalah ketika sesekali membeli makanan di luar rumah atau mengonsumsi makanan olahan.

Menurut Tara, makanan dari warteg sekalipun dapat menjadi pilihan bergizi selama konsumen mampu memilih menu secara tepat.

“Beli makanan di warteg pun bisa kok mendapatkan gizi yang baik. Atau misalnya kita goreng sosis untuk lauk, maka tambahkan sayur yang lebih beragam, jadi asupan gizi tetap optimal,” ucapnya.

Literasi Nutrisi Jadi Penting

Corporate Affairs Director PT Frisian Flag Indonesia, Andrew F. Saputro, mengatakan kondisi ekonomi membuat masyarakat perlu mengevaluasi kembali berbagai prioritas pengeluaran, termasuk kebutuhan nutrisi keluarga.

“Kami melihat masyarakat Indonesia saat ini berada dalam situasi yang mengharuskan mereka untuk terus mengecek ulang prioritas dalam pengeluaran. Karena itu, menurut kami, pengetahuan mengenai nutrisi menjadi semakin penting agar masyarakat dapat mengambil keputusan yang tepat sesuai dengan kondisi dan kebutuhannya,” ujar Andrew.

Melalui kampanye nasional “Temani Langkahmu Kini dan Nanti”, Frisian Flag Indonesia menyatakan komitmennya untuk mendampingi keluarga Indonesia dalam memenuhi kebutuhan nutrisi di berbagai tahap kehidupan.

Andrew mengatakan pihaknya tidak hanya menghadirkan produk susu, tetapi juga berupaya memberikan edukasi mengenai pentingnya pemenuhan nutrisi dan kebiasaan hidup sehat.

“Kami tidak hanya ingin menghadirkan produk yang bernutrisi, tetapi juga memastikan masyarakat memiliki pengetahuan yang baik untuk mengoptimalkan manfaatnya,” pungkas Andrew

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.