Laporan Wartawan Magang, Samuel
BANGKAPOS.COM, BANGKA - Perayaan Sembahyang Rebut atau Chit Ngiat Pan di Kelenteng Setia Budi, Dusun Cengel, Kecamatan Merawang, Kabupaten Bangka, menelan biaya sekitar Rp200 juta.
Seluruh dana itu murni berasal dari swadaya masyarakat dan sumbangan perantau, tanpa bantuan dari pemerintah daerah.
Bendahara sekaligus pengurus Kelenteng Setia Budi, Fendi Liu mengatakan biaya tersebut murni dikumpulkan dari gotong royong warga sekitar dan sumbangan para perantau Desa Cengel, termasuk yang kini menetap di Sumatera Selatan.
Salah satu penyumbang disebut merupakan petinggi maskapai Sriwijaya Air yang orang tuanya berasal dari Bangka.
"Bantuan tangan dari pemerintah sih gak ada," tegas Fendi, Kamis (27/8/2026)
Rangkaian acara dimulai sejak pukul 14.00 WIB dengan konvoi penjemputan patung dewa, dilanjutkan dengan acara puncak pukul 18.00 WIB.
Panitia memperkirakan jumlah pengunjung malam ini bisa menembus lebih dari 5.000 orang, sehingga pengamanan diperketat.
Salah satu momen yang paling dinanti adalah lelang payung yang digelar pukul 22.30 WIB, dimulai dari payung dengan harga pembukaan Rp500 ribu hingga payung utama yang menjadi rebutan para donatur.
Rekor lelang tertinggi di kelenteng ini tercatat Rp150 juta, dimenangkan oleh donatur asal Lampung bernama Richard.
Lebih lanjut, Fendi menyebut hasil lelang tahun ini rencananya akan dialokasikan penuh untuk pembangunan gedung Cetiya baru, karena ruang ibadah saat ini yang kerap tidak mampu menampung saat sembahyang berlangsung.
Pembangunan ditargetkan dimulai pada 2027.
Patung Thai Se Ja setinggi 12 meter yang menjadi pusat perhatian tahun ini juga merupakan bagian dari siklus wajib tiga tahunan, yang dimulai sejak 2025 dan akan mencapai puncaknya pada 2027 mendatang. (*)