TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR — Antrean panjang kendaraan warga yang hendak membeli Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis Pertalite terus terjadi di sejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di Kota Denpasar selama hampir sepekan terakhir.
Deretan kendaraan bermotor bahkan kerap meluber hingga ke badan jalan dan memicu kemacetan di sekitar area SPBU.
Kondisi tersebut membuat warga harus meluangkan waktu ekstra hanya untuk mendapatkan BBM bersubsidi.
Durasi antrean yang biasanya hanya memakan waktu 5 hingga 20 menit, kini melonjak drastis hingga mencapai satu jam.
Baca juga: 19.336 Warga Jembrana Masuk Desil 9-10, Data Jadi Acuan Penyaluran Bansos dan Pembatasan BBM Subsidi
Salah seorang pembeli BBM di SPBU Pertamina 51.801.30, Jalan Hayam Wuruk No.142, Sumerta Kelod, Denpasar Timur yakni Agung, menuturkan bahwa kelangkaan dan antrean mengular ini mulai ia rasakan dalam kurun waktu 3 hingga 4 hari belakangan. Padahal, sebelumnya arus pengisian BBM di lokasi tempat ia biasa membeli terbilang lancar.
"Enggak tahu saya. Baru-baru seminggu ini, 4 hari 3 hari ini dah mulai gini. Mulai antrean gini ya. Biasanya di sini enggak begitu ngantre. Biasa lancar dia di sini. Paling-paling 5 mobil, lancar gitu," kata Agung saat ditemui di lokasi antrean, Kamis 27 Agustus 2026.
Agung yang mengendarai mobil untuk keperluan pekerjaan perkantoran mengaku harus ekstra sabar menanti gilirannya.
Ia menyebutkan, antrean saat ini terasa jauh lebih lama dibanding hari-hari biasa.
"Kalau normal ya paling 20 menit, 25 menit gitu. Kalau ngantre-ngantre gini bisa sampai sejam-lah, kadang-kadang ya. Ya ini kan tergantung orang beli minyak. Tergantung dia beli minyak Pertalite-nya," lanjutnya.
Ia menambahkan, biasanya ia merogoh kocek sekitar Rp150 ribu hingga Rp200 ribu untuk pengisian bensin yang bertahan selama 2–3 hari kerja, atau hingga sepekan jika bertepatan dengan hari libur.
Meski antrean mengular, ia tetap bertahan demi menjaga ketersediaan BBM untuk mobilitas harian.
Saat ditanya mengenai harapannya, Agung hanya menanggapi dengan pasrah.
"Ya gimana ya? Kita gini saja. Kalau memang susah minyak, ya kita sabar aja," tutur Agung.
Senada dengan Agung, pembeli lainnya bernama Wildan Karsana (29) mengaku sampai harus berpindah-pindah SPBU demi menghindari antrean yang lebih parah. Hingga akhirnya ia memutuskan membeli BBM di SPBU Pertamina 54.801.15 Puputan Renon, Jalan Raya Puputan, Kota Denpasar.
Sebelum akhirnya mengantre di lokasi saat ini, ia sempat mencoba membeli BBM di kawasan Jalan Hayam Wuruk, Denpasar, namun membatalkan niatnya karena antrean di sana jauh lebih panjang.
"Ada sempat di sana, di Hayam Wuruk. Di sana ngantre sama (lebih panjang dari ini)," ujar Wildan.
Wildan mengungkapkan, salah satu pemicu melonjaknya pembeli Pertalite adalah beralihnya pengguna BBM non subsidi jenis Pertamax akibat penyesuaian harga.
Selisih harga pengisian penuh (full tank) antara Pertamax dan Pertalite yang cukup signifikan menjadi alasan utama masyarakat berpindah pilihan.
"Semenjak naik aja (Pertamax) hampir Rp16 ribu kurang sih. Kalau Pertamax fullnya Rp80 ribu. Kalau Pertalite Rp50 ribu," terangnya.
Dengan perbedaan pengeluaran hingga puluhan ribu rupiah tersebut, Wildan bersama masyarakat lainnya berharap pihak terkait dan pemerintah dapat segera menstabilkan pasokan dan mengondisikan distribusi BBM agar antrean panjang di Kota Denpasar dapat segera terurai.
"Harapannya ya, itu saja agar BBM bisa lebih dikondisikan," pungkas Wildan.