TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Indonesia masih menghadapi tantangan dalam memenuhi kebutuhan gizi masyarakat. Meski rata-rata asupan kalori dan protein sudah tergolong cukup, kualitas pola makan masih perlu diperbaiki.
Baca juga: Kemendikdasmen: MBG di Sekolah Harus Jadi Bagian dari Pendidikan Gizi
Ahli Nutrisi Tara Mutiara Ramdani mengatakan, persoalan gizi tidak bisa dilihat hanya dari jumlah makanan yang dikonsumsi. Komposisi dan keberagaman makanan juga berperan penting dalam menentukan kualitas gizi masyarakat.
Ada 5 Tantangan Gizi di Indonesia saat ini:
Berdasarkan data BPS/Susenas yang dipaparkan Tara, rata-rata asupan kalori masyarakat Indonesia berada di kisaran 2.080–2.100 kilokalori (kkal) per orang per hari. Angka tersebut berada di sekitar standar kecukupan energi nasional, yaitu 2.100 kkal per orang per hari.
“Artinya, kebutuhan energi masyarakat secara rata-rata sudah relatif terpenuhi. Namun, terpenuhinya kalori belum otomatis berarti pola makan seseorang sudah seimbang,” kata Tara dalam kegiatan di Jakarta, Kamis(27/8/2026).
Menurut dia, kalori bisa berasal dari berbagai jenis makanan. Karena itu, selain memenuhi kebutuhan energi, masyarakat juga perlu memperhatikan asupan protein, vitamin, mineral, serat, dan zat gizi lainnya.
2. Protein Cukup, tetapi Sumbernya Belum Seimbang
Merujuk sumber FAO dan Kemenkes, Tara juga menyebut, kondisi serupa terlihat pada asupan protein. Rata-rata konsumsi protein masyarakat Indonesia mencapai 62,2 gram per orang per hari, lebih tinggi dibandingkan angka 57 gram yang menjadi acuan.
Namun, persoalannya bukan hanya soal jumlah protein, tetapi juga sumber protein yang dikonsumsi. Sekitar 65–70 persen protein masyarakat berasal dari sumber nabati, seperti tahu, tempe, dan beras. Sementara itu, konsumsi protein hewani dari ikan, daging, telur, dan susu masih sekitar 30 persen.
Protein hewani merupakan salah satu sumber asam amino esensial yang dibutuhkan tubuh untuk pertumbuhan dan pemeliharaan jaringan. Karena itu, meski jumlah protein sudah mencukupi, keberagaman sumber protein tetap perlu diperhatikan.
3. Karbohidrat Masih Mendominasi
Karbohidrat masih menjadi sumber energi utama dalam pola makan masyarakat Indonesia. Dalam paparan Tara yang merujuk data Kemenkes, lebih dari 60 persen total kalori harian disebut berasal dari karbohidrat olahan, terutama beras putih.
Nasi sendiri bukan makanan yang harus dihindari. Beras merupakan bagian penting dari pola makan masyarakat Indonesia dan dapat menjadi sumber energi.
“Yang perlu diperhatikan adalah keseimbangannya. Konsumsi karbohidrat sebaiknya disertai sumber protein, sayur, buah, dan lemak sehat. Jika pola makan terlalu berpusat pada nasi atau sumber karbohidrat lainnya, porsi makanan kaya zat gizi lain bisa menjadi lebih sedikit,” ungkap Tara.
Baca juga: Tes DNA untuk Menentukan Pola Makan, Seberapa Akurat Gizi Personal? Ini Kata Dokter
4. Konsumsi Susu Masih Rendah
Konsumsi susu masyarakat Indonesia juga masih tergolong rendah. Berdasarkan data yang dipaparkan, rata-rata konsumsi susu hanya sekitar 16,5 liter per orang per tahun berdasarkan data Kementerian Pertanian.
Angka tersebut lebih rendah dibandingkan Malaysia yang mencapai sekitar 50 liter dan Thailand sekitar 33 liter per orang per tahun.
Susu merupakan salah satu sumber protein dan kalsium. Namun, susu bukan satu-satunya sumber kedua zat gizi tersebut. Protein dan kalsium juga bisa diperoleh dari berbagai pangan lain, seperti ikan, telur, dan produk kedelai.
5. Konsumsi Serat Masih Jauh dari Anjuran
Selain komposisi sumber protein dan karbohidrat, konsumsi serat juga menjadi perhatian.
Rata-rata konsumsi serat masyarakat Indonesia disebut baru mencapai 10,5 gram per hari. Jumlah ini masih jauh dibawah rekomendasi 27–30 gram per hari.
Serat banyak ditemukan dalam sayuran, buah-buahan, kacang-kacangan, dan biji-bijian. Karena itu, rendahnya konsumsi serat menunjukkan bahwa masyarakat masih perlu meningkatkan konsumsi pangan tersebut.
Menambah porsi sayur dan buah secara bertahap dapat menjadi salah satu cara sederhana untuk memperbaiki kualitas pola makan sehari-hari.
Baca juga: Targetkan Stunting Turun Jadi 17,5 Persen, Menkes Ingatkan Pentingnya Konsumsi Susu
Berbagai data tersebut menunjukkan bahwa persoalan gizi di Indonesia semakin kompleks. Tantangannya bukan hanya memastikan masyarakat mendapatkan cukup makanan, melainkan juga cara masyarakat mengombinasikan makanan yang ada untuk memenuhi kebutuhan tubuh.