BANGKAPOS.COM, BANGKA -- Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bangka Tengah berupaya memaksimalkan pengembangan potensi kerajinan lidi ataupun daun nipah yang dihasilkan oleh warga Dusun Pangkalraya, Kelurahan Sungaiselan, Kecamatan Sungaiselan.
Kepala Badan Perencanaan Pembangunan, Penelitian, dan Pengembangan Daerah (Bappelitbangda) Kabupaten Bangka Tengah R. M. Ikmanto menyampaikan, upaya memaksimalkan potensi kerajinan daun dan lidi nipah itu diwujudkan dalam pengusulan Dusun Pangkalraya sebagai lokasi program Desa Devisa.
Menurut Ikmanto, melalui program Desa Devisa tersebut diharapkan dapat
mendorong produk lokal agar bisa memiliki kualitas ekspor sehingga menaikkan kesejahteraan masyarakat.
"Jadi Dusun Pangkalraya ini, menjadi satu dari tiga wilayah di Bangka Tengah yang terpilih sebagai lokasi program Desa Devisa. Harapannya potensi disini bisa berkembang," ujar Ikmanto saat menemui pengrajin nipah Dusun Pangkalraya, Kamis (27/8/2026).
Dikatakan Ikmanto, ke depan melalui pelaksanaan program tersebut nantinya pelaku usaha lokal bakal mendapatkan pendampingan serta pelatihan dari instansi terkait agar produknya bisa naik kelas.
"Kemudian ada juga bantuan modal serta fasilitas peralatan produksi, serta akses pasar yang lebih luas," tambahnya.
Pada kesempatan yang sama, Kepala Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (Disperindagkop-UKM) Kabupaten Bangka Tengah, Irwandi menyebutkan, pihaknya akan terus memberikan pendampingan dalam pemasaran produk lidi dan daun nipah dari Dusun Pangkalraya.
"Dari kami, akan memberikan pendampingan dalam proses pemasaran. Karena tentu dalam sebuah menghasilkan produk, pemasaran paling penting," kata dia.
Akan tetapi dirinya juga berpesan agar penghasil kerajinan di Dusun Pangkalraya bisa menjaga konsistensi serta meningkatkan kualitas mutu produk buah tangan mereka agar sesuai dengan permintaan pasar.
"Ada masukan yang kami berikan, tentu agar hasil dari buah tangan mereka bisa lebih bagus. Kemudian konsistensi mereka juga penting, jangan nanti akses pasar dicari, tapi produksinya malah tidak bisa memenuhi," sebutnya.
(Bangkapos.com/Rifqi Nugroho)