Laporan Wartawan TribunJatim.com, Nuraini Faiq
TRIBUNJATIM.COM, SURABAYA - Terik matahari di tengah Kota Surabaya tak menyurutkan ratusan warga untuk berdiri dalam antrean panjang di Jalan Kedungsari, Kelurahan Kedungdoro, Kecamatan Tegalsari, Kamis (28/8/2026).
Sejak menjelang pukul 13.00 WIB, warga dari berbagai kalangan mulai memadati tepian ruko dan perkantoran di kawasan tersebut.
Mereka datang dengan satu tujuan, mendapatkan seporsi makanan dari layanan yang dikenal warga dengan nama "Makan Gratis Kedungsari".
Kedungsari merupakan kawasan kampung di tengah Kota Surabaya yang berada tak jauh dari pusat toko onderdil kendaraan. Lokasinya juga hanya sekitar 10 menit dari Balai Kota Surabaya.
Pantauan TribunJatim.com, sekitar pukul 12.45 WIB antrean warga sudah memanjang dan mengular di sepanjang kawasan tersebut. Laki-laki dan perempuan, tua maupun muda, hingga pengemudi ojek online terlihat berdiri bersama menunggu giliran.
Jarak antrean yang harus ditempuh selama sekitar 15 menit pun tidak menjadi persoalan bagi warga yang ingin menikmati makan siang gratis.
Mereka mengerubuti Tossa pembawa makanan. Tidak terlihat label identitas warung maupun nama tokoh atau organisasi pada kendaraan tersebut.
"Ya Allah soto. Ada telur dan ayamnya," celetuk salah seorang pengantre yang berhasil berada di barisan paling depan.
Baca juga: Sama-sama Kena PHK, Pasutri Tempuh 21 Km untuk Cari Kerja di Job Fair, Pasrah Andalkan Sisa Gaji
Layanan makan gratis mulai dibuka dan melayani warga pukul 13.00 WIB. Berbeda dengan sejumlah warung gratis lainnya yang mencantumkan nama atau identitas penyelenggara, di lokasi ini hanya terdapat tulisan "Makan Gratis Kedungsari".
Ratusan pengantre terus merangsek mendekati lokasi pembagian makanan. Meski jumlahnya banyak, antrean tetap berjalan tertib dan tidak sampai meluber ke badan jalan.
Di sepanjang bahu jalan, sepeda motor dan sepeda kayuh milik warga terlihat berjejer dengan rapi. Para pemilik kendaraan juga mengikuti antrean dengan tertib.
Jaket hijau khas pengemudi ojek online yang basah oleh keringat berbaur dengan bapak-bapak, ibu-ibu hingga warga lanjut usia. Mereka menunggu giliran tanpa sekat.
Suasana yang sebelumnya relatif tenang mendadak berubah riuh ketika petugas mulai membagikan makanan. Para pengantre perlahan merapat menuju Tossa bertuliskan "Makan Gratis Kedungsari".
Aroma gurih kaldu dan rempah soto seketika menyeruak di tengah antrean. Tumpukan telur dan potongan ayam yang disiapkan untuk warga semakin menggugah selera.
"Saya hampir setiap hari ikut antre di sini. Menunya itu lho, tidak pernah mengecewakan. Bukan nasi bungkus sekadarnya yang isinya mi dan sambal saja," kata Ishom, salah satu pelanggan tetap Makan Gratis.
Tangan Ishom dengan cekatan menerima sepiring paket nasi, kuah, telur separo dan ayam. Lengkap dengan segelas air mineral. Matanya berbinar melihat menu yang tersedia hari itu.
"Lauknya enak sekali. Kadang kami dapat ayam goreng yang empuk, kadang soto segar seperti hari ini," ucap Ishom yang menjadikan jadwal tetap makan siang bersama warga yang lain sambil menyeka peluh.
Di tengah kenaikan harga berbagai kebutuhan, makanan gratis tersebut menjadi salah satu pilihan bagi warga yang harus menghemat pengeluaran.
Namun, menariknya, sebagian besar warga yang menikmati makanan tersebut tidak mengetahui siapa sosok di balik penyedia makan gratis setiap hari.
Tidak ada spanduk yang menampilkan nama tokoh, foto caleg, maupun logo organisasi. Identitas penyedia juga tidak dicantumkan di lokasi.
Hanya terdapat cetakan foto anak kecil berudeng dan berbaju adat Jawa.
Bagi warga, siapa sosok di balik pembagian makanan tersebut bukan menjadi persoalan utama. Mereka lebih melihat manfaat yang dirasakan secara langsung.
Rasa penasaran mengenai sosok di balik Makan Gratis Kedungsari akhirnya terjawab melalui penelusuran Surya.co.id. Aksi berbagi makanan tersebut ternyata bukan kegiatan yang baru muncul dan berlangsung sesaat.
Hasil penelusuran surya.co.id, kegiatan sosial di Jalan Kedungsari telah berlangsung sejak sekitar enam tahun lalu, tepat ketika pandemi Covid-19 mulai memberikan dampak besar terhadap kondisi ekonomi masyarakat.
Di tengah banyaknya warga yang kehilangan pekerjaan dan mengalami kesulitan memenuhi kebutuhan sehari-hari, makanan siap santap menjadi salah satu bentuk bantuan yang dapat langsung dirasakan.
Fitra, kerabat dari sang pemilik warung gratis tersebut, sibuk membagikan piring demi piring makanan sembari melempar senyum ramah kepada setiap warga yang mendekat. Saban hari sedikitnya 250 porsi disiapkan.
Dia menuturkan, aksi dermawan itu dimulai sejak masa sulit Covid. Dilihat banyak orang kehilangan pekerjaan dan kesulitan hanya untuk sekadar makan. Apa yang bisa langsung dirasakan? Jawabannya adalah makanan siap santap.
Namun Fitra enggan menyebut identitas pemiliknya. Saat ditanya asalnya, dia hanya menjawab dari Kampung Malang, Surabaya.
Identitas pemilik tetap disembunyikan. Fitra hanya menyebut pemilik lembaga pendidikan TPQ (Taman Pendidikan Al-Qur'an).
Keberadaan layanan makan gratis tanpa nama tersebut kini sudah sangat dikenal warga Kedungdoro. Antusiasme masyarakat yang terus bertahan membuat ratusan porsi makanan yang disiapkan dari dapur pemilik selalu habis dalam waktu singkat.
Warga Surabaya sudah hafal jadwal pembagian makanan gratis tersebut. Layanan dimulai tepat pukul 13.00 WIB.
Biasanya, dalam waktu maksimal 1,5 jam, seluruh makanan yang disediakan sudah ludes.
Bagi penyedia dan kru pembagi makan gratis, kebahagiaan terbesar mereka adalah melihat warga pulang dengan perut kenyang dan senyuman di wajah.
Bagi para pengemudi ojek online yang pendapatannya kerap tidak menentu akibat algoritma aplikasi, maupun pekerja kasar yang harus mengalokasikan penghasilan hariannya untuk kebutuhan rumah tangga, seporsi nasi dengan lauk ayam di Jalan Kedungsari menjadi bantuan yang sangat berarti di tengah tekanan biaya hidup.