TRIBUNMATARAMAN.COM, KEDIRI - Industri jasa keuangan syariah di wilayah kerja Kantor Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Kediri yakni kawasan Mataraman masih memiliki ruang besar untuk memperluas pangsa pasar. Hal itu terlihat dari komposisi lembaga keuangan syariah yang porsinya masih lebih kecil dibandingkan lembaga keuangan konvensional.
Berdasarkan data OJK Kediri, dari 65 bank umum yang berada di wilayah kerjanya, terdapat delapan bank umum syariah atau sekitar 12,3 persen. Sementara sebanyak 57 bank lainnya atau 87,7 persen merupakan bank umum.
Komposisi tersebut menunjukkan bahwa keberadaan perbankan syariah masih relatif terbatas dibandingkan perbankan umum. Namun, dari sisi bisnis, kondisi tersebut sekaligus menyisakan ruang yang cukup luas untuk memperbesar penetrasi layanan keuangan syariah di tengah masyarakat.
Peluang serupa terlihat pada industri BPR. Dari total 62 lembaga yang tercatat di wilayah kerja OJK Kediri, jumlah BPRS sebanyak sembilan lembaga atau 14,5 persen. Sedangkan 53 lembaga lainnya atau 85,5 persen merupakan BPR.
Baca juga: Gudang Kayu dan Warung Terbakar di Gampengrejo Kediri, Diduga Akibat Puntung Rokok
Pada sektor lembaga keuangan mikro, porsi syariah juga masih menjadi minoritas. Dari total 17 lembaga keuangan mikro, terdapat empat LKMS atau 23,5 persen dan 13 LKM atau 76,5 persen.
Kepala OJK Kediri selaku Pembina FKIJK Komisariat Kediri dan Madiun, Ismirani Saputri, mengatakan kondisi tersebut tidak hanya menunjukkan adanya kesenjangan, tetapi juga peluang pengembangan industri.
"Data hasil SNLIK dan sebaran kantor LJK memperlihatkan bahwa porsi lembaga keuangan syariah memang masih lebih kecil dibandingkan konvensional/non-syariah. Namun, kondisi tersebut sekaligus menjadi peluang untuk memperluas akses, meningkatkan literasi, dan memperkuat ekosistem keuangan syariah," kata Ismirani, Kamis (27/8/2026) petang.
Dari sisi pasar, masih kecilnya jumlah lembaga syariah berarti ruang ekspansi layanan masih terbuka. Peluang tersebut dapat dikembangkan melalui penambahan akses masyarakat terhadap produk perbankan, pembiayaan maupun layanan lembaga keuangan mikro berbasis syariah.
Selain jumlah lembaga, pemahaman masyarakat terhadap produk keuangan syariah juga menjadi faktor penting. Berdasarkan hasil SNLIK 2026 yang disampaikan OJK, indeks literasi dan inklusi keuangan syariah secara nasional masih jauh di bawah indeks keuangan secara umum.
Kondisi tersebut menjadi tantangan sekaligus peluang bagi industri di wilayah Kediri. Semakin baik masyarakat memahami karakteristik produk syariah, semakin besar pula peluang lembaga keuangan untuk mengembangkan basis nasabah dan memperluas pemanfaatan layanan.
Ismirani menegaskan pengembangan ekosistem tersebut membutuhkan keterlibatan berbagai pihak agar masyarakat semakin mengenal layanan keuangan syariah.
"Pengembangan keuangan syariah tidak hanya menjadi tanggung jawab industri, tetapi membutuhkan sinergi OJK, pemerintah daerah, pelaku usaha jasa keuangan, media, komunitas, serta seluruh pemangku kepentingan," ungkapnya.
Sementara itu, peluang pasar syariah mulai terlihat dari perkembangan bisnis sejumlah produk keuangan syariah di wilayah Mataraman. Salah satunya tercermin dari kinerja BSI di wilayah Kediri dan sekitarnya yang mencatat pertumbuhan jumlah rekening atau Number of Account (NoA) baru sebesar 15,03 persen secara tahunan hingga Juli 2026. Dana Haji juga tumbuh 16,73 persen YoY.
Area Manager BSI Area Kediri, Angga Wahyuda Prawiroso, mengatakan perusahaan juga melihat perkembangan pada kebutuhan masyarakat terhadap layanan berbasis emas. Hingga Juli 2026, NoA Tabungan Emas BSI di wilayah Kediri dan sekitarnya tumbuh 1.175,30 persen YoY, sementara gramasi meningkat 152,37 persen YoY.
"Pertumbuhan signifikan pada Tabungan Emas dengan NoA 1.175,30 persen YoY dan gramasi 152,37 persen YoY," terangnya.
Menurut Angga, pengembangan layanan juga dilakukan melalui produk Bank Bullion seperti Tabungan Emas, Cicil Emas dan gadai emas. Penguatan layanan digital melalui BYOND by BSI turut memberikan akses bagi masyarakat untuk membuka Tabungan Haji dan Tabungan Emas secara digital.
Perkembangan tersebut menjadi salah satu gambaran bahwa ruang pertumbuhan industri syariah di Kediri tidak hanya berada pada produk tabungan, tetapi juga layanan haji, investasi emas hingga pembiayaan.
"Diversifikasi produk menjadi penting untuk menjangkau kebutuhan masyarakat yang semakin beragam," ujarnya.
(Luthfi Husnika/TribunMataraman.com)