9 Bulan Pascabencana, Petani Kopi Nosar Berharap Bantuan Pupuk Subsidi dan Perbaikan Infrastruktur
Budi Fatria August 28, 2026 11:54 AM

Laporan Wartawan TribunGayo.com Alga Mahate Ara | Aceh Tengah

TRIBUNGAYO.COM, TAKENGON - Sembilan bulan pascabencana hidrometeorologi yang melanda dataran tinggi Gayo, para petani kopi di Kemukiman Nosar, Kecamatan Bintang, Kabupaten Aceh Tengah, Provinsi Aceh, masih bergelut dengan dampak kerusakan.

Di tengah situasi tersebut, warga dihadapkan pada sebuah ironi, harga jual kopi di pasaran melambung tinggi, namun kebun-kebun mereka rusak parah bahkan ada yang hilang tersapu longsor.

Kemukiman Nosar merupakan salah satu wilayah di Kecamatan Bintang, Aceh Tengah.

Jalur menunu ke Nosar dapat ditempuh melalui jlana darat Takengon–Bintang melintasi kawasan Danau Lut Tawar. 

Jaraknya sekitar 22 kilometer dengan waktu tempuh berkendara sekira 45 menit dari pusat kota Takengon.

45 persen Kebun Kopi Rusak Berat

Taratan Ukhra, salah seorang petani kopi setempat mengungkapkan, sekitar 45 persen total kebun kopi di wilayah Kemukiman Nosar mengalami kerusakan berat akibat terjangan banjir bandang dan longsor.

Kondisi ini memicu anjloknya produktivitas hasil panen secara drastis hingga saat ini.

"Pendapatan kami sangat berkurang. Dari yang biasanya bisa mendapat 100 kaleng buah merah, sekarang tinggal 50 kaleng saja. Bahkan ada kebun yang sama sekali tidak bisa dipanen karena langsung habis disapu longsor. Kami mengalami rugi total," ujar Taratan Ukhra kepada TribunGayo.com, Kamis (27/8/2026).

Akibat kerusakan infrastruktur kebun dan timbunan material yang masif, petani menyebutkan bahwa pemulihan tanaman yang tersisa masih membutuhkan waktu sekitar 8 hingga 9 bulan ke depan.

Baca juga: Irigasi Rusak Tak Kunjung Ditangani, Warga Kuyun Toa Aceh Tengah Patungan Sewa Ekskavator

Sementara bagi kebun yang hancur total dan harus ditanami ulang dari awal, proses pemulihan diperkirakan memakan waktu hingga dua tahun.

Harga Naik, Produktivitas Petani Menurun

Di sisi lain, dinamika harga komoditas kopi menunjukkan anomali yang cukup memberatkan. 

Harga kopi gelondong merah yang sebelumnya berada di kisaran Rp17.000 per bambu sebelum bencana, kini melonjak naik hingga mencapai Rp25.000 per bambu.

Kendati demikian, tingginya harga jual tersebut tidak serta-merta mendongkrak kesejahteraan petani. 

Lonjakan harga tidak berarti banyak lantaran stok biji kopi di tingkat petani sangat langka akibat gagal panen massal pasca-bencana.

"Harga kopi tahun ini memang naik dibanding sebelum bencana, dari Rp17.000 sekarang sudah Rp22.000-Rp23.000 per bambu. Cuman kopinya enggak ada, betul-betul turun drastis. Harga naik, tapi barangnya tidak ada," keluhnya.

Minimnya Bantuan Infrastruktur dan Kelangkaan Pupuk

Terkait penanganan pascabencana hingga sembilan bulan berlalu, warga menyebutkan bahwa bantuan pemerintah yang diterima sejauh ini baru sebatas pembersihan darurat jalur transportasi perkebunan. 

Sementara fasilitas vital lainnya seperti jembatan, jaringan irigasi, hingga sarana air bersih bagi rumah warga belum tersentuh perbaikan
secara menyeluruh.

Selain persoalan infrastruktur, para petani juga mengeluhkan sulitnya mendapatkan pupuk bersubsidi. 

Warga berharap pemerintah dapat mempermudah mekanisme penyaluran pupuk subsidi secara langsung, misalnya melalui koperasi desa, guna menghindari kendala birokrasi kelompok tani yang dinilai sudah tidak berjalan efektif di lapangan. 

Terlebih, lokasi Kemukiman Nosar yang jauh dari pusat dan ibu kota kabupaten yang berjarak sekitar 22 kilometer membuat biaya transportasi dan pembelian bahan bakar menjadi beban tambahan yang cukup berat bagi petani. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.