Fakta Lokasi Kejadian Mobil Tertabrak Kereta Api di Prabumulih, Tahun Ini Sudah 3 Kali Kecelakaan
Slamet Teguh August 28, 2026 03:01 PM

 

Laporan wartawan Tribun Sumsel, Edison Bastari

TRIBUNSUMSEL.COM, PRABUMULIH - Perlintasan rel kereta api tanpa palang pintu di Jalan Pakjo, Kelurahan Gunung Ibul Barat menuju Kelurahan Sukajadi, Kecamatan Prabumulih Timur, Kota Prabumulih, menjadi salah satu perlintasan yang kerap terjadi kecelakaan hingga menelan korban jiwa.

Berdasarkan informasi yang dihimpun Tribun Sumsel, kecelakaan di perlintasan rel tanpa palang pintu Jalan Pakjo sudah beberapa kali terjadi. Bahkan, sejumlah kecelakaan menyebabkan pengendara meninggal dunia.

Menurut warga sekitar, dalam dua tahun terakhir sudah banyak kendaraan yang tertabrak kereta api di jalur tersebut, baik kendaraan roda empat maupun roda dua.

Sebelumnya pada tahun ini, sebuah mobil jenis Toyota Agya mengalami kerusakan parah di bagian depan setelah tertabrak kereta api.

Beruntung, pengemudinya selamat. Selain itu, seorang anak SMP juga pernah mengalami kecelakaan di lokasi tersebut hingga meninggal dunia.

"Kalau rel tanpa palang di Jalan Pakjo ini sudah banyak memakan korban, baik pengendara mobil maupun motor. Sebelumnya ada anak SMP yang meninggal tertabrak kereta api di sini," ungkap Yono, warga sekitar rel, saat dibincangi wartawan, Jumat (28/8/2026).

Yono mengatakan, kebanyakan pengendara yang tertabrak kereta api merupakan mereka yang melintas dari arah Gunung Ibul Barat (GIB).

Hal itu disebabkan kondisi jalan dari arah GIB yang sedikit menanjak sehingga pengendara kesulitan melihat kereta yang melintas.

"Kalau dari arah GIB jalannya agak meninggi sehingga susah melihat kereta. Kalau dari arah Sukajadi jalannya datar sehingga kereta kelihatan jelas kalau ada," bebernya.

Hal senada disampaikan Subroto atau akrab dipanggil Pakde Noto, warga lainnya.

Noto mengatakan, beberapa tahun lalu warga sempat menjaga perlintasan rel tanpa palang pintu tersebut untuk memberikan keamanan kepada pengendara.

Namun, kegiatan itu dihentikan karena sering terjadi keributan antara petugas dengan pengendara.

"Dulu kami dengan warga buat pos dan mengatur pengendara, tapi sering ribut karena banyak yang menerobos dan tak mau diatur. Selain itu, banyak juga yang menyebut kami mau minta duit saja. Makanya daripada banyak mudaratnya, kami tutup saja," tuturnya.

Noto mengatakan, saat ini perlintasan rel tersebut dijaga petugas Linmas dan petugas kelurahan pada jam-jam padat, seperti pagi dan sore hari.

"Tapi kadang memang para pengendara ini buat kesal. Melintas tidak buka kaca, musik besar, tidak lihat kanan kiri dan ada petugas masih menerobos. Pikirnya petugas mau minta duit, malah berkata kasar," keluhnya.

Baca juga: Detik-detik Mengerikan Minibus Tertabrak Kereta Api di Prabumulih, Sudah Diklakson Masinis, 4 Tewas

Menurut Noto, pengendara seharusnya lebih berhati-hati ketika melintasi perlintasan kereta api dengan membuka kaca mobil, mematikan musik, serta melihat ke kanan dan kiri.

"Kalau kereta melintas itu cepat, apalagi kereta penumpang. Kalau tidak lihat kanan kiri, kendaraan bisa mati di tengah rel dan bisa tertabrak," katanya.

Sementara itu, Manager Humas KAI Divre III Palembang, Aida Suryanti, menyebutkan sepanjang tahun ini sudah terjadi dua kejadian kendaraan tertemper kereta api di Kota Prabumulih.

Namun, Aida tidak menjelaskan secara rinci lokasi kedua kejadian tersebut.

"Untuk tahun ini ada dua kali kejadian di Kota Prabumulih," kata Aida singkat ketika dikonfirmasi wartawan.

Berdasarkan data yang dihimpun Tribun Sumsel, selain kecelakaan mobil Panther yang tertabrak Kereta Api Serelo hingga menyebabkan empat orang meninggal dunia dan satu orang kritis, terdapat pula kejadian seorang anggota Linmas yang sedang menjaga perlintasan rel tanpa palang pintu di Kecamatan Cambai tewas tertabrak kereta api.

 

 

Ikuti dan bergabung dalam saluran whatsapp Tribunsumsel.com

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.