Kebiasaan buang air kecil pada pria sering kali dianggap sepele. Padahal, posisi saat berkemih memegang peranan penting dalam menjaga kesehatan organ reproduksi dan saluran kencing, terutama berkaitan dengan risiko pembesaran kelenjar prostat seiring bertambahnya usia.
Spesialis urologi dari Bethsaida Hospital, dr Boyke Budiman Sumantri, SpU, menyarankan para pria untuk mengubah kebiasaan kencing berdiri menjadi posisi duduk atau jongkok. Menurutnya, posisi ini jauh lebih anatomis dan membantu menjaga kekuatan otot kandung kemih.
"Yang penting adalah pada saat kencing, usahakan jangan sering berdiri. Karena posisi kencing yang terbaik adalah posisi duduk atau jongkok, baik untuk pria dan wanita," ujar dr Boyke dalam program detikSore, Rabu (26/8/2026).
"Meski ada urinoir, masih ada kloset duduk, jadi kencing berdiri itu nggak sesuai," sambungnya.
dr Boyke menjelaskan bahwa pembesaran prostat sebenarnya merupakan proses alami yang dialami setiap pria saat menua. Sebab, prostat dikelilingi oleh kapsul dan tulang, pembesarannya tidak mengarah ke luar melainkan mendesak ke dalam sehingga menyempitkan saluran kencing.
"Hormon yang ada dalam tubuh kita akan merangsang untuk sel-sel bertambah banyak. Dan bertambah besarnya (prostat) tidak keluar, dia ke dalam," terang dr Boyke.
"Karena di luar itu ada kapsul dan ada tulang di sekitarnya, sehingga kalau ke dalam, dia akan lama-lama menyempitkan saluran kencing. Pembesaran prostat akan dialami selama kita jadi tua," lanjutnya.
Prostat sendiri memiliki fungsi vital untuk mengatur kencing, menjaga otot kandung kemih, dan mempertahankan elastisitas leher kandung kemih. Posisi kencing yang salah membuat otot kandung kemih bekerja terlalu keras untuk memompa urine keluar dari saluran yang menyempit.
Dokter yang telah berpengalaman lebih dari 30 tahun di bidang urologi ini mengamati fenomena gangguan kencing yang kini justru menyasar pria usia muda di bawah 50 tahun. Hal ini berbeda dengan kebiasaan generasi terdahulu yang rutin kencing dengan posisi jongkok.
"Saya ingat waktu zaman saya masih SD tahun 60-an, melihat kakek saya kalau kencing selalu jongkok. Sampai umur 90 dia sehat aja, tak pernah ada gangguan kencing," kenangnya.
"Sekarang saya menemukan sebagai dokter urologi yang sudah 30 tahunan, baru belum sampai 50 tahun sudah terganggu kencingnya," tambah dr Boyke.
Jika kebiasaan kencing berdiri terus dilakukan saat prostat mulai membesar, otot kandung kemih akan terus dipaksa bekerja hingga akhirnya melemah dan memicu komplikasi serius.
Menurut dr Boyke, jika terjadi masalah pada saluran kencing terpaksa harus dipasang selang melalui prosedur operasi.
"Jadi upaya salah satu untuk menjaga jangan sampai terjadi gangguan pola kencing adalah kencing dalam posisi duduk atau jongkok, dan seringlah olahraga juga," pungkasnya.





