Profesor Rudy Resmi Mendaftar sebagai Calon Rektor Unila, Ingin Sejahterakan Dosen
Robertus Didik Budiawan Cahyono August 28, 2026 06:19 PM

Tribunlampung.co.id, Bandar Lampung - Prof. Dr. Rudy, S.H., LL.M., LL.D., dari Fakultas Hukum Universitas Lampung (Unila), resmi mendaftarkan diri sebagai calon Rektor Universitas Lampung periode 2027-2031.

Baca juga: Asep Sukohar Resmi Mendaftar sebagai Bakal Calon Rektor Unila Periode 2027–2031

Prof. Rudy tiba di Gedung Rektorat Unila pada Jumat (28/8/2026) sekitar pukul 14.20 WIB. Ia didampingi sejumlah tokoh, di antaranya Elza Syarief dan Farhat Abbas.

Setelah disambut panitia, Prof. Rudy menyerahkan dokumen persyaratan pencalonan. Proses pendaftaran kemudian dinyatakan selesai dan keluar dari ruang panitia sekitar pukul 15.00 WIB.

Prof. Rudy mengatakan seluruh dokumen persyaratan yang diserahkan telah dinyatakan lengkap oleh panitia dan selanjutnya akan memasuki tahapan verifikasi.

“Alhamdulillah, dokumen kita sudah lengkap dan dinyatakan lengkap. Nanti akan melalui proses selanjutnya,” kata Prof. Rudy seusai pendaftaran Jumat (28/8/2026).

Menurutnya, masih terdapat tahapan administrasi yang akan dilakukan bersama para calon, salah satunya pemeriksaan kesehatan.

Fokus pada Kesejahteraan Dosen

Dalam pencalonannya, Prof. Rudy membawa sejumlah gagasan yang menurutnya dapat mendorong Unila menjadi perguruan tinggi yang lebih maju dan berdampak.

Salah satu fokus utamanya adalah meningkatkan kesejahteraan dan kenyamanan dosen dalam menjalankan tugas akademiknya.

Ia menilai kualitas institusi sangat berkaitan dengan kondisi dosen. Karena itu, dosen perlu mendapatkan dukungan yang memadai, termasuk insentif penelitian dan lingkungan kerja yang nyaman.

“Institusi yang berdampak itu tidak akan bisa tercapai tanpa adanya kesejahteraan dosen,” ujarnya.

Prof. Rudy juga menyoroti fenomena dosen yang melakukan pekerjaan di luar tugas utama atau side hustle. Menurutnya, kondisi tersebut perlu menjadi perhatian agar dosen dapat lebih fokus menjalankan tugas pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.

“Dosen itu memang harus diberikan insentif-insentif riset, kemudian diberikan kenyamanan dalam melakukan pekerjaannya,” katanya.

Ia meyakini dosen yang nyaman dalam bekerja akan menciptakan iklim akademik yang lebih baik, khususnya dalam pengembangan riset di Unila.

Dorong Internasionalisasi Unila

Gagasan kedua yang menjadi perhatian Prof. Rudy adalah memperkuat internasionalisasi Unila.

Ia ingin Unila memperluas kerja sama dengan perguruan tinggi maupun peneliti dari luar negeri. Salah satu bentuknya adalah menghadirkan visiting professor dan visiting researcher untuk membangun kolaborasi riset.

Ia menilai Unila sebenarnya memiliki banyak potensi untuk dikembangkan melalui kerja sama internasional, termasuk di bidang energi, teknik, kedokteran, dan berbagai bidang lainnya.

“Dengan begitu, Unila akan maju juga terhadap sasaran yang kita inginkan,” ujarnya.

Perkuat Komunikasi dengan Pemerintah

Selain kesejahteraan dosen dan internasionalisasi, Prof. Rudy juga menargetkan penguatan komunikasi Unila dengan pemerintah, baik di tingkat pusat maupun daerah.

Menurutnya, komunikasi yang baik dapat membuka peluang lebih besar bagi Unila untuk memperoleh dukungan maupun hibah, terutama untuk pembangunan infrastruktur dan pengembangan program strategis.

Ia juga menyinggung kebutuhan fasilitas bagi peneliti asing maupun visiting researcher yang melakukan kegiatan akademik di Unila.

“Ini sebenarnya bisa diatasi dengan strategi, misalnya kita banyak melakukan komunikasi dengan kementerian, kita minta hibah dan lain sebagainya,” tuturnya.

Menurut Prof. Rudy, berbagai potensi Unila dapat diarahkan untuk mendukung program strategis nasional, termasuk ketahanan pangan.

Ia juga menilai lahan pertanian Unila yang telah tersertifikasi dapat dikembangkan menjadi bagian dari proyek-proyek riset yang mendukung ketahanan pangan, khususnya di Lampung.

Angkat Potensi Budaya Lampung

Tak hanya bidang riset dan infrastruktur, Prof. Rudy juga ingin menjadikan budaya Lampung sebagai salah satu kekuatan Unila.

Ia melihat potensi budaya Lampung dapat dikembangkan melalui pusat studi dan pusat riset yang mampu menarik perhatian peneliti maupun akademisi dari dalam dan luar negeri.

Menurutnya, sejumlah universitas di Indonesia telah berhasil mengembangkan pusat kajian budaya sebagai daya tarik akademik bagi masyarakat internasional.

“Bagaimana kita bisa mengoptimalkan itu. Keunggulan Unila ini harus juga dibangun dari budaya Lampung,” ujarnya.

Tak Gentar Bersaing

Terkait persaingan dalam bursa calon rektor, Prof. Rudy mengatakan dirinya tidak ingin melihat kontestasi berdasarkan latar belakang fakultas.

Ia menyebut proses pemilihan rektor merupakan kompetisi gagasan dan kompetensi yang melibatkan berbagai unsur di lingkungan universitas.

Karena itu, ia memilih fokus pada visi, gagasan, serta kompetensi yang ditawarkan kepada sivitas akademika.

“Kita akan lebih fokus pada bagaimana gagasan-gagasan kita dan kompetensi kita untuk diuji dan dikompetisikan, sehingga kita bisa mendapat rektor yang baik,” katanya.

Berbekal Pengalaman 23 Tahun Lebih

Keputusan maju sebagai calon rektor juga didorong oleh pengalaman panjang Prof. Rudy di dunia akademik dan kepemimpinan universitas.

Ia menyebut telah mengabdi di Unila selama lebih dari dua dekade dan telah mencapai jenjang guru besar. Ia juga pernah dipercaya menduduki posisi Wakil Rektor.

“Saya sudah mengabdi lebih dari 23 tahun. NIP saya tahun 2003. Saya juga sudah sampai ke jenjang guru besar dan pernah memimpin sebagai Wakil Rektor,” ujarnya.

Menurutnya, pengalaman sebagai wakil rektor memberikan pemahaman mengenai berbagai persoalan dan kebutuhan universitas. Namun, untuk mendorong pembangunan Unila secara lebih total, ia menilai diperlukan kepemimpinan langsung sebagai rektor.

“Dengan menjadi nomor dua, kita ada keterbatasan-keterbatasan seperti itu,” katanya.

Prof. Rudy berharap seluruh tahapan pemilihan rektor dapat berjalan secara sehat dan menghasilkan pemimpin Unila yang berintegritas.

Ia juga mengingatkan seluruh calon untuk menjaga proses demokrasi kampus tetap kondusif serta menghormati fakta integritas yang telah ditandatangani.

“Harapannya memang menghasilkan pemimpin yang berintegritas dan juga tidak ada serangan-serangan. Kita harap semua calon menghargai dan menepati fakta integritas yang tadi kita tanda tangani,” pungkasnya.

(Tribunlampung.co.id/ Bintang Puji Anggraini) 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.