Pelajar Jadi Korban Kericuhan Pejompongan, Alami Luka Jahitan di Kepala hingga Diangkut ke Polda
Hironimus Rama August 28, 2026 08:35 PM

Laporan Yolanda Putri Dewanti

TRIBUNNEWSDEPOK.COM, JAKARTA – Dampak dari kericuhan yang meletus di sekitar kawasan Jalan Pejompongan Raya, Bendungan Hilir, Jakarta Pusat, pada Kamis (27/8/2026) malam menyisakan cerita pilu bagi warga sekitar.

Salah satunya dialami oleh Faturrohman (18), seorang pelajar yang menjadi korban kekerasan dan mengalami sejumlah luka fisik usai terjebak dalam situasi chaos di depan rumahnya.

Berdasarkan pantauan langsung di kediamannya, Fatur tampak mengalami luka serius di bagian kepala yang harus mendapatkan beberapa jahitan, serta sejumlah bekas lebam di area wajahnya.

Baca juga: Pedagang Cermin Tewas Saat Kericuhan di Pejompongan, Istri Sempat Minta Korban Tutup Lapak

Fatur menuturkan, insiden tersebut bermula ketika dirinya sedang berjaga atau standby di depan gang kediamannya.

Tak lama kemudian, kericuhan pecah dan sejumlah massa yang berlarian masuk ke dalam gang tersebut.

"Jadi kronologi dari peristiwa yang saya alami, pertama itu saya standby posisi saya ada di depan gang sini. Nah, kemudian yang rusuh-rusuh itu masuk ke dalam gang sini. Setelah itu nggedorong saya sampai jatuh, kemudian intel-intel juga masuk ke sini dan menarik saya. Narik saya, dibawa ke DPR," ujar Fatur saat ditemui di kediamannya, Jumat (28/8/2026).

Dipukul hingga Dibawa ke Polda Metro Jaya

Menurut pengakuan Fatur, tindakan represif yang dialaminya tidak berhenti saat ia ditarik keluar dari gang.

Ia menyebut dirinya sempat mendapatkan perlakuan kasar berupa pukulan dan tendangan sebelum akhirnya digiring ke kompleks DPR/MPR RI dan kemudian dipindahkan ke Polda Metro Jaya.

"Ya, pertama kan dari sini dibawa ke DPR, kemudian lanjut dibawa ke Polda. Polda Metro Jaya," ujarnya.

Sambil menunjukkan beberapa bagian tubuhnya yang terasa sakit, Fatur merinci titik-titik yang menjadi sasaran pemukulan, yang meliputi area dada, punggung, hingga kepalanya.

Ia mendeskripsikan bahwa aksi pemukulan tersebut dilakukan menggunakan tangan kosong serta alat bantu lain yang menyerupai benda pipih.

"Menggunakan tangan, tangan kosong sama alat kayak apa namanya ya macam pisau deh, macam seperti penggaris gitu, tipis," ujarnya.

Ketika ditanya mengenai identitas pihak-pihak yang mengamankan dan memperlakukannya secara kasar di lokasi kejadian, Fatur mengeklaim bahwa orang-orang tersebut sempat memperkenalkan diri sebagai aparat intelijen kepolisian.

"Ngakunya intel," katanya.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.