TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Upaya mewujudkan kedaulatan pangan, kemandirian ekonomi kerakyatan, dan kepedulian sosial secara serentak diwujudkan dalam Festival Pariwisata Kuliner Mustika Rasa di Alun-alun Selatan (Kidul) Yogyakarta, Sabtu hingga Minggu (29–30/8/2026).
Digelar atas kolaborasi Pemerintah Kota Yogyakarta bersama jajaran legislatif dan pengurus PDI Perjuangan, acara yang melibatkan sekitar 100 stan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) ini tidak hanya menghidupkan kembali buku resep warisan Presiden Soekarno, tetapi juga diisi dengan edukasi kesehatan dan penggalangan dana kemanusiaan untuk korban bencana di Nusa Tenggara Timur (NTT).
Wali Kota Yogyakarta Hasto Wardoyo memaparkan, festival ini mendokumentasikan kekayaan kuliner dari Sumatera hingga Papua yang tercatat dalam buku Mustika Rasa terbitan tahun 1967.
" Festival ini mendokumentasikan kekayaan kuliner dari Sumatera hingga Papua yang tercatat dalam buku Mustika Rasa,"ucapnya.
Selain menyajikan kuliner, festival ini juga menghadirkan pemeriksaan kesehatan gratis, meliputi cek gula darah, kolesterol, asam urat, dan tekanan darah serta senam, donor darah, dan panggung hiburan.
Antusiasme warga mengikuti rangkaian festival ini cukup besar.
Warga memenuhi area depan panggung utama.
Sinergi berbagai pihak tampak kental dalam perhelatan ini.
Ketua Komisi A DPRD DIY Eko Suwanto, yang hadir dan turut membuka acara, memberikan apresiasi mendalam atas dukungan penuh dari pihak keraton yang memungkinkan festival berskala nasional ini menyapa masyarakat langsung di pusat peradaban Yogyakarta.
"Tadi secara resmi kita juga sudah menyaksikan Ibu Wiryanti Sukamdani membuka acara secara resmi setelah kita sama-sama mendengarkan arahan dan juga pidato dari Bu Ribka Tjiptaning. Yang pertama kami menghaturkan matur nuwun (terima kasih) kepada Kasultanan Yogyakarta yang telah memberikan izin untuk kami menggunakan Alun-Alun Kidul, dan mudah-mudahan ini terus diuri-uri (dilestarikan), terus dirawat, dan juga bermanfaat untuk masyarakat. Pada kesempatan hari ini, acara akan berlangsung selama dua hari dari tanggal 29 sampai tanggal 30," papar Eko Suwanto.
Baca juga: Diduga Sopir Ngantuk, Truk Muatan Pasir Terguling di Sleman, Sopir dan Kernet Terjepit Kabin
Ketua Bidang Pariwisata DPP PDI Perjuangan Wiryanti Sukamdani menjelaskan, festival kuliner ini merupakan agenda tahunan yang bertujuan menjaga kemandirian bangsa dari ketergantungan bahan impor, sekaligus menjamin gizi rakyat.
Ia menyebut, 1.000 menu di buku Mustika Rasa, termasuk kegemaran Bung Karno seperti sayur lodeh dan tempe Bantul, menjadi bukti kekayaan Nusantara.
"Tujuan dari acara ini adalah untuk mengangkat buku Mustika Rasa yang ditulis oleh presiden pertama kita, Bung Karno. Beliau betul-betul sangat mencintai dan sangat memperhatikan rakyatnya, bahwa rakyat itu kalau makan harus sehat, harus bergizi, dan juga harus enak. Yang penting itu enak, tetapi tentunya harganya harus terjangkau," jelas Wiryanti.
Lebih lanjut, ia menekankan peran krusial UMKM, yang menopang 62 persen ekonomi nasional, dalam menciptakan kedaulatan pangan dan politik.
"Kenapa UMKM? Karena kita ingin supaya rakyat kita mencintai masakan Indonesia dan mencintai semua bahan baku yang berasal dari Indonesia. Kalau teman-teman sekalian melihat di stan-stan di sana, ada kue bika yang dibuat dari singkong, ini sesuatu yang sangat luar biasa. Lalu ada sate kere, yang namanya terdengar ngeri, tapi ternyata menunjukkan bahwa hewan itu tidak semuanya harus daging. Ada bagian seperti koyor yang ternyata bisa dibikin sate dengan harga yang murah sekali, bergizi, dan menjangkau harga pasar. Inilah makanya Bung Karno mengatakan kita harus berdaulat secara politik, dan pariwisata serta kuliner itu termasuk wujud berdaulat karena mendatangkan orang datang ke Jogja untuk berkunjung," tambahnya.
Dimensi festival ini semakin luas dengan masuknya agenda kebugaran dan advokasi kemanusiaan.
Wakil Ketua Komisi X DPR RI MY Esti Wijayati menyampaikan bahwa kegiatan senam dan olahraga digalakkan sebagai implementasi arahan Megawati Soekarnoputri agar senantiasa hadir dan mendengarkan suara masyarakat, termasuk menyerap aspirasi tentang penanganan warga telantar tanpa KTP.
Esti juga menggarisbawahi bahwa festival ini digandengkan dengan aksi solidaritas bagi NTT.
"Karena saat ini sedang ada bencana di NTT, kita menyelenggarakan donasi untuk NTT. Bu Ribka, bersama Bu Risma, Mas Ganjar, dan diikuti oleh kader-kader yang lain termasuk anak-anak muda kita, sudah turun langsung sejak hari pertama. Ini adalah bagian dari cara kita menunjukkan bahwa kemanusiaan itu tanpa batas. Tidak ada batas partai politik dan tidak ada batas pilihan politik; kemanusiaan memang harus dihadirkan untuk semua tanpa sekat," tegas Esti.
Donasi spontan yang digalang di sela-sela acara tersebut berhasil mengumpulkan dana lebih dari Rp 10 juta, yang di antaranya termasuk sumbangan senilai lebih dari Rp 5 juta dari Ketua DPRD DIY Nuryadi.
Seluruh dana tersebut akan diserahkan langsung ke lokasi bencana sebagai bentuk aksi nyata dari festival yang merangkum nilai budaya, ekonomi, dan kepedulian sosial ini.(*)