Pemulung Putri Cempo Solo Tuntut Solusi Pemerintah: Nasib Kami Bagaimana?
Ryantono Puji Santoso August 29, 2026 06:28 PM

Laporan Wartawan TribunSolo.com, Ahmad Syarifudin

TRIBUNSOLO.COM, SOLO - Pemulung di sekitar TPA Putri Cempo, Solo, menuntut pemerintah segera memberikan solusi atas dampak penataan tempat pembuangan sampah tersebut.

Mereka mengaku belum mendapat kejelasan mengenai nasib mata pencaharian setelah penataan dimulai.

Ketua Paguyuban Pemulung Putri Cempo, Sukarni, mengatakan komunikasi dengan pemerintah sebenarnya telah dilakukan sebelum penataan berlangsung.

Namun, hingga kini ia menilai belum ada solusi yang jelas bagi para pemulung maupun warga sekitar.

“Pemulung sudah komunikasi dari kemarin sebelum ditata ini sudah komunikasi. Yang penting kita diperhatikan. Katanya ada solusi kan mau penataan. Ternyata ini pemulung dan warga belum ada solusi tapi kan penataan sudah dimulai. Nah terus ini warga bagaimana? Mau diapakan lagi warga ini?” tuturnya saat dihubungi Sabtu (29/8/2026).

Menurut Sukarni, penataan TPA Putri Cempo yang dimulai pada 18 Agustus 2026 berdampak terhadap pendapatan pemulung.

Sampah yang dapat dimanfaatkan untuk dijual semakin sedikit sehingga penghasilan mereka ikut berkurang.

Sukarni mengaku pendapatannya yang sebelumnya bisa mencapai sekitar Rp1,2 juta per minggu kini hanya sekitar Rp500 ribu.

“Seminggu tuh ya alhamdulillah bisa laku satu juta satu juta dua ratus. Kalau sekarang ya dua minggu paling ya satu juta kemarin baru jual satu juta,” terangnya.

Harus Menunggu Dua Minggu

Ia mengatakan, sebelum penataan, hasil memulung biasanya dapat dijual setiap minggu.

Kini, ia harus menunggu hingga dua minggu untuk mengumpulkan sampah yang cukup.

“Kan itu penataan mulai tanggal 18 sampai dua minggu ya. Kalau saya sendiri biasane kan jualan itu seminggu sekali ini dua minggu baru mau jual. Ya penurunannya ya separuh,” jelasnya.

Sampah yang selama ini dikumpulkan Sukarni antara lain botol, kertas, dan kardus bekas. Namun, jumlahnya kini jauh berkurang karena sebagian sampah sudah terpilah sejak dari tingkat hulu.

“Satu hari biasanya dapat 13 gitu toh. Sekarang 4 karung, 5 karung itu baru sehari full. Kalau saya itu yang kertas, kardus, terus botol-botol minum yang emberan seperti itu,” jelasnya.

Tak hanya persoalan pendapatan, Sukarni menyebut warga sekitar TPA Putri Cempo juga masih merasakan dampak lingkungan dari aktivitas pembuangan sampah. Bau dan debu masih dirasakan warga.

Baca juga: Pengolahan Sampah PSEL TPA Putri Cempo Solo Ditarget Capai 200 Ton per Hari

“Ini depan rumahku aja kalau pagi antri mobil antri sampah bertebaran di depan jalan di dekat rumah sampah dekat rumah. Kita nggak merasakan cuma merasakan residu, bau dan debu buat kita juga warga loh,” ungkapnya.

Karena itu, Sukarni berharap pemerintah tidak hanya melakukan penataan, tetapi juga menyiapkan solusi bagi pemulung yang terdampak.

Ia menegaskan para pemulung tidak berharap dikategorikan sebagai warga miskin atau sekadar mendapatkan bantuan.

Menurutnya, mereka hanya ingin tetap memiliki kesempatan untuk bekerja dan memperoleh penghasilan, sekaligus mendapatkan lingkungan tempat tinggal yang lebih nyaman.

“Permintaan kita itu simpel. Warga sekitar pembuangan ini kan bukan ruang kosong ya. Kalau dari pabrik sama residu orang Solo lah terus ini lingkungannya gimana biar lingkungan kita kan juga berhak hidup di lingkungan bersih juga kita diperhatikan. Kita nggak akan minta-minta dimiskinkan. Kita masih bisa bekerja makanya pemerintah itu bagaimana,” jelasnya. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.