Tanpa Perlu KTP, Rumah Oksigen Kalteng di Bundaran Besar Solusi Kesehatan Warga Terdampak Karhutla
Haryanto August 30, 2026 10:50 AM

TRIBUNKALTENG.COM, PALANGKA RAYA - Di satu sudut kawasan bundaran besar Kota Palangka Raya, terpampang spanduk bertuliskan 'Rumah Oksigen Provinsi Kalimantan Tengah'.

Spanduk itu ada foto Gubernur Kalteng, Agustiar Sabran dan wakilnya, Edy Pratowo.

Spanduk itu terpasang di satu sudut tembok bundaran besar, yang biasa dinamai Menara Talawang atau Tugu Talawang.

Spanduk ini menjadi bagian dari sosialisasi program Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kalteng.

Rumah Oksigen merupakan fasilitas bagi masyarakat yang mengalami gangguan kesehatan dampak kabut asap dari kebakaran hutan dan lahan (Karhutla).

Program Rumah Oksigen mulai diperkenalkan bersamaan dengan peluncuran jersey serta skuad Isen Mulang Kalteng FC, Sabtu (29/8/2026) malam WIB.

Baca juga: ISPA di Kalteng Capai 67.157 Kasus, Kota Palangka Raya Tertinggi Sukamara Terendah

Wakil Gubernur atau Wagub Kalteng, Edy Pratowo mengatakan, Rumah Oksigen disiapkan di sejumlah lokasi strategis untuk memberikan ruang bagi masyarakat yang membutuhkan oksigen maupun pemeriksaan kesehatan.

"Rumah ini menyiapkan ruang. Jadi masyarakat yang mungkin membutuhkan oksigen karena mungkin terpengaruh, ada gangguan, jadi deteksi dini, kemudian dia akan pulih kembali," ujar Edy.

Menurutnya, Rumah Oksigen tersebut juga dilengkapi dengan sejumlah fasilitas pemeriksaan kesehatan dasar.

"Masyarakat dapat melakukan pengecekan, seperti tekanan darah sebagai bagian dari deteksi awal kondisi Kesehatan," jelasnya.

Selain untuk masyarakat sekitar, lokasi Rumah Oksigen di Bundaran Besar dipilih karena berada di kawasan strategis dan mudah dijangkau masyarakat yang sedang melakukan perjalanan.

Edy menegaskan, fasilitas tersebut terbuka bagi seluruh masyarakat yang membutuhkan dan tidak mensyaratkan administrasi khusus seperti membawa KTP.

"Langsung bisa, semua warga bisa," tegasnya.

Pemprov Kalteng berharap, keberadaan Rumah Oksigen dapat membantu masyarakat menghadapi dampak kualitas udara yang menurun, khususnya di tengah kondisi kabut asap akibat karhutla di sejumlah wilayah Kalteng.

Edy menyampaikan, belakangan pasien di RSUD Doria Sylvanus naik 20 persen seiring dengan masifnya kabut asap dan kualitas udara yang memburuk di beberapa daerah.

Namun, dirinya belum dapat memastikan apakah kenaikan pasien itu disebabkan ISPA dan dampak kabut asap karhutla atau karena penyakit lainnya.

"Itu data yang disampaikan Kadinkes, memang ada sedikit kenaikan. Tapi mereka akan melihat lebih jauh faktor penyebabnya apa saja," kata Edy.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.