TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - Wakil Ketua Dewan Pakar CIDES ICMI Sulsel Prof Drs Wahyuddin Halim MA MA PhD, mengingatkan pentingnya para pemangku gelar, terutama gelar akademik seperti doktor dan profesor untuk terus menambah daya tampung kapasitas intelektual.
Sebab pesona seseorang tidak diukur oleh seberapa panjang gelar berderet mendampingi namanya. Tapi seberapa hebat gagasan dan pemikiran yang keluar dari dirinya.
Prof Wahyuddin merumuskannya dengan ungkapan Arab:
الإنسان يأتي بما فيه
Manusia hanya dapat memberikan apa yang ada di dalam dirinya.
Ungkapan itu sederhana, tetapi mengandung kritik yang dalam terhadap budaya gelar. Marilaleng kennana: menusuk tajam.
Menurut To Accae ri CIDES ICMI Sulsel itu, Seseorang tidak mungkin mengeluarkan gagasan yang tidak pernah tumbuh dalam dirinya. Tidak mungkin memberikan kedalaman pemikiran jika kapasitas intelektualnya tidak terus diisi. Gelar dapat bertambah, tetapi tanpa pertumbuhan pengetahuan, gelar hanya menjadi rangkaian huruf yang memanjang di belakang nama.
Karena itu, menjadi doktor atau profesor bukanlah garis akhir perjalanan intelektual. Justru di situlah tanggung jawab untuk terus membaca, berpikir, meneliti, mempertanyakan, dan melahirkan gagasan menjadi semakin besar.
To Accae adalah terminologi Bugis untuk menyebut kaum intelektual. Pemerintah Bugis klasik selalu menempatkan To Accae di posisi yang sangat terhormat. Mitra sejati para Arung, Matoa, Mangkau, Sombayya, Maraddia, Datu, dan Addatuang.
Dalam konteks para to acca, para pemangku pengetahuan, pesan ini menjadi semakin penting. Masyarakat tidak membutuhkan sekadar orang yang bergelar. Masyarakat membutuhkan orang yang berisi. Sebab yang akhirnya dibawa seseorang ke ruang publik bukan gelarnya, melainkan apa yang tersimpan dan tumbuh di dalam dirinya.
Dan mungkin di situlah ukuran sebenarnya seorang cendekiawan: bukan panjangnya gelar, tetapi panjangnya pikiran yang mampu ia wariskan.
Bicaranna To Accae
Tetapi ada satu persoalan lagi.
Pengetahuan yang hanya disimpan di dalam kepala tidak cukup untuk mengubah keadaan.
Seorang to acca pada akhirnya dituntut untuk berbicara.
Itulah sebabnya sebuah ungkapan yang dilontarkan dalam Forum Dosen Prof Dr A Muin Fahmal di kantor Tribun Timur, Jalan Cendrawasih 430, Makassar, Rabu (26/8/2026), terasa seperti sambungan langsung dari pesan Prof Wahyu.
Prof Muin Fahmal melansir, “Narekko teani mabbicara to accae, atutuko. Melo’nituh telleng.”
Artinya, “Jika kaum intelektual di suatu negeri tidak mau lagi berbicara, waspadalah. Sebab itu berarti negeri tersebut sudah hampir tenggelam.”
Pesan itu menjadi penting karena yang dimaksud bukan sembarang orang. Yang dimaksud adalah to acca, orang-orang yang memiliki pengetahuan dan kapasitas untuk membaca keadaan.
Prof Hamid bahkan menyerukan ketidakridaannya ketika to acca enggan berbicara.
“No!” Mungkin dulu yes. Tetapi sekarang no.
Sebab akal sehat harus terus bereproduksi. Ia tidak boleh mengerem hanya karena pengetahuan lama sudah terasa cukup. Dunia terus bergerak. Penemuan-penemuan mutakhir terus memperluas kemampuan manusia melihat sesuatu yang sebelumnya tidak terlihat. Teropong, misalnya, membuat manusia mampu melihat lebih jauh daripada kemampuan mata telanjang.
Maka intelektual pun harus terus memperbarui cara melihat.
Di sinilah kampus menghadapi persoalan yang lebih besar.
“Kampus tidak cukup hanya menjadi tempat memproduksi gelar, jurnal, dan angka-angka akademik. Kampus harus keluar dari pagar akademiknya, menempel pada gerakan sosial, membaca denyut masyarakat, lalu membawa pengetahuan kembali ke tengah kehidupan,” jelas Prof Hamid Paddu.
Sebab ada kekhawatiran bahwa kampus telah sedemikian jauh dari masyarakat.
Semoga masih bisa kembali.
Peta jalan kehidupan seorang intelektual, dengan demikian, tidak selesai ketika memperoleh gelar doktor atau profesor. Justru setelah gelar itu diperoleh, pertanyaan yang lebih berat dimulai: apa yang akan diberikan kepada masyarakat dari semua pengetahuan yang telah dikumpulkan?
Sosiolog Unhas, Dr Rahmat Muhammad, melihat persoalan itu dari sisi yang lebih getir.
“Mahasiswa aktivis dan mahasiswa cerdas justru dikucilkan. Dosen yang aktif menulis, hanya sibuk membaca tulisannya sendiri,” kata Rahmat Muhammad
Kalimat itu patut direnungkan.
Sebab masyarakat tidak sedang kekurangan gelar. Tidak pula sedang kekurangan tulisan. Yang mungkin mulai langka adalah intelektual yang bersedia menggunakan pengetahuan, keberanian, dan gelarnya untuk membaca persoalan di luar pagar kampus.
Di sinilah arena sosial to acca. Maqam kapital simbolik to Accae berseliweran.
Ia bukan sekadar orang yang berpengetahuan. Ia adalah orang yang pengetahuannya mempunyai fungsi sosial.
Dalam tradisi Bugis, acca bahkan tidak berdiri sendiri. Ia selalu berhadapan dengan lempu’, kejujuran. La Mellong dalam Latoa mengajarkan kepada Arungpone bahwa kejujuran dan kecakapan merupakan bagian penting dari kepemimpinan. Tetapi kecakapan itu tidak berhenti pada kemampuan mengetahui. Ia harus menjelma menjadi kemampuan menyusun kata, menjawab kata, membaca keadaan, dan memastikan kebenaran sampai kepada masyarakat.
Karena itu, to acca yang memilih diam ketika masyarakat membutuhkan penjelasan sesungguhnya sedang menyia-nyiakan sebagian dari modal sosial yang dimilikinya.
Gelar memberikan posisi. Pengetahuan memberikan kapasitas. Tetapi keberanian berbicara memberikan fungsi sosial.
Di situlah pesan Prof Wahyu bersarang, maddibola:
الإنسان يأتي بما فيه.
Manusia hanya dapat memberikan apa yang ada di dalam dirinya.
Jika yang ada hanya gelar, yang keluar adalah gelar. Jika yang tumbuh adalah pengetahuan, yang keluar adalah pengetahuan. Tetapi jika di dalam dirinya terus dipelihara ilmu, pengalaman, keberanian berpikir, kejujuran, dan kepedulian kepada masyarakat, maka yang keluar adalah gagasan.
Gagasan itulah yang dibutuhkan zaman.
Sebab ketika to acca berhenti berbicara, yang hilang bukan sekadar suara seorang intelektual. Yang ikut terancam hilang adalah kemampuan sebuah masyarakat untuk membaca dirinya sendiri, mengoreksi kekuasaannya, dan mencari jalan keluar dari persoalan yang dihadapinya.
Maka gelar boleh panjang. Tetapi isi kepala harus lebih panjang. Dan suara to acca harus tetap terdengar.(*)