TRIBUNJATENG.COM, BATANG – Sebanyak 1.200 pesepeda dari sejumlah daerah memadati Kecamatan Gringsing, Kabupaten Batang, Minggu (30/8/2026).
Mereka tidak hanya mengayuh sepeda untuk mengejar finis, tetapi diajak menjelajahi wajah Gringsing dari kawasan perkebunan bersejarah, perkampungan, hingga lanskap industri.
Fun Bike Merdeka yang digelar sebagai penutup rangkaian HUT ke 81 Kemerdekaan RI tingkat Kecamatan Gringsing itu menempuh rute sekitar 15 - 16 kilometer dengan titik start dan finis di Kebun Siluwok PTPN Regional, Desa Plelen.
Baca juga: 7 Kuintal Singkong Disulap Jadi Lengko 250 Meter, Cara Unik Warga Batang Rayakan Kemerdekaan
Antusiasme peserta bahkan melampaui target panitia yang semula hanya mematok 1.000 pesepeda.
Camat Gringsing Ridho B. Kurniawan mengatakan kegiatan tersebut berawal dari keinginan komunitas sepeda di Gringsing untuk membuat event yang mampu mempertemukan komunitas pesepeda dari berbagai daerah.
“Even ini adalah Fun Bike Merdeka yang menjadi penutup seluruh rangkaian peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan RI tingkat Kecamatan Gringsing,” kata Ridho kepada Tribunjateng, Minggu (30/8/2026).
Menurutnya, pemerintah kecamatan kemudian ikut mewadahi gagasan komunitas tersebut agar tidak berhenti sebagai kegiatan internal, tetapi berkembang menjadi agenda yang mampu mengenalkan Gringsing lebih luas.
“Kami mencoba mewadahi bahwasanya komunitas goes yang ada di Gringsing itu ingin mengadakan suatu event yang merekatkan komunitas sepeda di Kabupaten Batang pada umumnya,” ujarnya.
Peserta yang hadir tidak hanya berasal dari Kabupaten Batang.
Sejumlah komunitas dari Kendal, Pemalang, Tegal, Boja, Limbangan hingga Kaliwungu turut ambil bagian.
Ridho menyebut rute sengaja dirancang agar peserta memperoleh pengalaman berbeda selama berada di Gringsing.
Panitia semula menyiapkan jalur sepanjang sekitar 23 kilometer.
Namun, dengan mempertimbangkan kemampuan peserta yang beragam, rute kemudian dipangkas menjadi sekitar 15-16 kilometer.
“Kami mengambil jalan tengah untuk bisa mewadahi bahwasanya kegiatan bersepeda itu menyenangkan,” ujarnya.
Dari Kebun Siluwok, peserta melintasi kawasan kampung, jalan perdesaan, hingga kawasan yang berdekatan dengan aktivitas industri.
Dua checkpoint juga disiapkan di wilayah Desa Krengseng untuk menjadi tempat peserta beristirahat.
Bagi pemerintah kecamatan, pola rute tersebut memiliki tujuan lebih besar. Peserta diharapkan tidak sekadar datang, bersepeda, kemudian pulang, tetapi juga melihat langsung potensi wilayah Gringsing.
“Kami juga mencoba mengenalkan potensi wilayah yang ada di Kecamatan Gringsing,” ucapnya.
Dengan konsep tersebut, kegiatan bersepeda mulai diarahkan menjadi bagian dari sport tourism, yakni olahraga yang sekaligus membuka ruang bagi promosi destinasi dan aktivitas ekonomi masyarakat.
“Kami rasa untuk sepeda ini kan salah satu hobi, tapi juga bisa menjadi salah satu olahraga rekreasi di masyarakat,” ujarnya.
Pemilihan Kebun Siluwok sebagai lokasi start dan finis juga bukan tanpa alasan.
Kawasan perkebunan di Desa Plelen tersebut memiliki sejarah panjang.
Dokumen PTPN IX mencatat Siluwok sebagai salah satu unit perkebunan karet di wilayah Plelen. Jejak penguasaan lahannya bahkan telah tercatat sejak sekitar 1930.
Bagi Ridho, keberadaan kebun tersebut menjadi modal penting untuk memperkenalkan sisi historis Gringsing kepada masyarakat yang datang dari luar daerah.
“Kebun Siluwok ini salah satu tempat yang memiliki nilai sejarah dan nilai historis yang panjang. Di samping tempatnya rindang dan asri, kami juga mencoba mengenalkan bahwasanya peninggalan dari masa lampau itu masih ada di Gringsing,” tuturnya.
Lokasi tersebut sekaligus memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai bagian dari wisata berbasis perkebunan.
Hal itu sejalan dengan wacana Pemerintah Desa Plelen yang ingin mengembangkan kawasan Kebun Siluwok sebagai destinasi wisata melalui kerja sama dengan PTPN.
Kepala Desa Plelen ST. Amri Alimatul Muflihah mengatakan gagasan tersebut membutuhkan kolaborasi berbagai pihak agar dapat diwujudkan.
“Harus butuh dukungan yang luar biasa dari beberapa pihak, dari investor, dari SDM, dari pemerintah desa maupun PTPN untuk koordinasi bagaimana supaya bisa mewujudkan desa wisata bersama,” ujarnya.
Masuknya sekitar 1.200 pesepeda dari berbagai daerah dinilai menjadi peluang tersendiri bagi perekonomian lokal.
Kehadiran komunitas dari luar Gringsing setidaknya memperlihatkan sebuah event olahraga dapat menjadi pintu masuk untuk memperkenalkan potensi daerah sekaligus menggerakkan aktivitas ekonomi masyarakat.
Ridho mengatakan geliat komunitas sepeda juga mulai terlihat dari munculnya toko-toko sepeda di wilayah Gringsing.
“Harapannya ini bisa juga membangkitkan sektor ekonomi baru yang ada di Gringsing,” tuturnya.
Sementara itu, Amri menilai kegiatan semacam Fun Bike Merdeka dapat memberikan dampak positif terhadap semangat masyarakat untuk berolahraga.
“Dengan adanya kegiatan ini insyaallah akan membangkitkan semangat olahraga, baik di bidang sepeda maupun olahraga lainnya,” ujarnya.
Ketua panitia Fun Bike Merdeka, Saifudin, mengatakan jumlah peserta mencapai sekitar 1.200 orang atau lebih tinggi dari target awal sebanyak 1.000 peserta.
Promosi melalui media sosial turut membuat peserta dari luar daerah tertarik mengikuti kegiatan tersebut.
“Peserta dari luar itu ada dari Pemalang, Boja, Limbangan, Kaliwungu, Kendal. Kita berharap tidak hanya sekali ini, Mas. Kita berharap ada selalu continue setiap tahunnya,” kata Saifudin.
Besarnya respons peserta membuat penyelenggara membuka peluang menjadikan Fun Bike Merdeka sebagai agenda tahunan.
Jika konsisten digelar, kegiatan tersebut berpotensi berkembang lebih jauh.
Bukan hanya menjadi perayaan kemerdekaan, tetapi juga menjadi sarana promosi wisata, ruang pertemuan komunitas, serta penggerak ekonomi lokal.
Baca juga: 19 Tim Rebana Unjuk Eksistensi di Wonotunggal Expo 2026 Kabupaten Batang.
Minggu pagi itu, 1.200 pesepeda memang hanya menempuh belasan kilometer.
Namun, kayuhan mereka membawa cerita yang jauh lebih panjang, tentang perkebunan yang menyimpan sejarah, desa yang terus berkembang, kawasan industri yang mengubah wajah wilayah, serta peluang baru menjadikan Gringsing sebagai tujuan wisata olahraga.
Gringsing pun perlahan mencoba mengubah posisi: dari wilayah yang sekadar dilewati, menjadi wilayah yang sengaja didatangi untuk dijelajahi. (Ito)