Kisah Boy Zulfikar Merintis Klezeet, Sabun Cuci Piring Lokal Pekalongan yang Bidik SPPG
raka f pujangga August 30, 2026 01:55 PM

TRIBUNJATENG.COM, KAJEN - Di balik kesibukan dapur yang setiap hari menyiapkan makanan, ada kebutuhan sederhana yang tak boleh luput dari perhatian yaitu sabun cuci piring.

Peluang itulah yang kini dilirik Klezeet, produk sabun cuci piring yang lahir dari tangan pelaku UMKM Kecamatan Kedungwuni, Kabupaten Pekalongan.

Tidak sekadar membidik pasar rumah tangga, Klezeet mulai mengarahkan langkahnya ke pasar yang lebih besar. Restoran, hingga Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) menjadi sasaran pengembangan pemasaran produk lokal tersebut.

Baca juga: Musnahkan Barang Bukti Narkoba, Polda Jateng Blender Sabu Pakai Air Sabun dan Dibuang Kloset

Owner Sabun Cuci Klezeet, Boy Zulfikar, mengatakan produk yang dikembangkannya sejak tahun 2023 merupakan UMKM asli Kabupaten Pekalongan dan telah memiliki izin edar.

Klezeet juga telah menyuplai kebutuhan sabun cuci piring untuk restoran dan SPPG dengan kemasan berukuran 5 liter.

"Produk ini dari Kedungwuni. Ini produk sendiri UMKM dan sudah berizin edar di Kabupaten Pekalongan."

"Kami juga menyuplai, SPPG untuk ukuran 5 liter dan restoran yang ada di Kabupaten Pekalongan," ujar Boy saat ditemui di stan Pekan Raya Kajen, Minggu (30/8/2026).

Bagi Klezeet, memasuki pasar SPPG bukan sekadar mengejar penjualan. Langkah tersebut, sekaligus menjadi upaya memperbesar peran produk lokal dalam memenuhi kebutuhan usaha dan program pelayanan masyarakat.

Boy berharap, keberadaan SPPG yang tersebar di Kabupaten Pekalongan dapat menjadi ruang bagi UMKM daerah untuk berkembang.

Ia mendorong, agar kebutuhan operasional SPPG, termasuk produk pendukung seperti sabun cuci piring, dapat lebih banyak menggunakan produk yang dihasilkan pelaku usaha lokal.

"SPPG harus memakai produk lokal. Harapannya, SPPG se-Kabupaten Pekalongan bisa masuk dan menggunakan produk sabun cuci piring kami," katanya.

Upaya memperkenalkan Klezeet, kepada pasar yang lebih luas juga dilakukan melalui Pameran UMKM dalam rangka Pekan Raya Kajen (PRK) 2026.

Keikutsertaan dalam pameran menjadi kesempatan bagi Boy untuk menunjukkan bahwa produk dari Kedungwuni tidak kalah bersaing.

Selain memperkenalkan produk, momentum tersebut dimanfaatkan untuk membangun jaringan dan membuka peluang kerja sama baru.

Dari panggung pameran itu, Klezeet membawa pesan sederhana yaitu produk lokal tidak harus berhenti di pasar sekitar tempat produksinya.

"Dengan inovasi dan keberanian memperluas jaringan, UMKM daerah juga memiliki peluang untuk menjangkau pasar yang lebih besar," imbuhnya.

Langkah itu perlahan mulai dilakukan Klezeet melalui sistem maklon.

Ekspansinya kini, tidak hanya berputar di Kabupaten Pekalongan, tetapi telah menjangkau sejumlah daerah di Jawa Tengah, seperti Purbalingga, Batang, dan Magelang.

"Untuk ekspansi sudah sampai Purbalingga, Batang, dan Magelang,' ungkap Boy.

Menghidupkan Ekonomi dari Kedungwuni

Pertumbuhan sebuah UMKM tidak hanya dapat dilihat dari seberapa luas produknya dipasarkan.

Bagi Klezeet, ada hal lain yang juga penting, yakni sejauh mana keberadaan usaha tersebut mampu memberikan manfaat bagi masyarakat sekitar.

Dalam proses produksinya, Klezeet melibatkan tenaga kerja lokal. Warga Kedungwuni mendapat kesempatan untuk ikut bekerja, termasuk kaum perempuan yang banyak dilibatkan pada bagian produksi.

"Tenaga kerja kami dari lokal, dari Kedungwuni. Untuk produksi banyak melibatkan ibu-ibu, sedangkan untuk sales lebih banyak laki-laki," jelasnya.

Keterlibatan warga lokal membuat, perkembangan usaha sekaligus menjadi bagian dari perputaran ekonomi masyarakat.

Di satu sisi, produk terus diperkenalkan dan dipasarkan. 

Di sisi lain, usaha tersebut membuka kesempatan bagi masyarakat untuk mendapatkan penghasilan.

Boy menilai, pemberdayaan tenaga kerja lokal merupakan bagian penting dalam perjalanan UMKM.

Karena itu, ia ingin pengembangan Klezeet berjalan beriringan dengan upaya memperkuat pelaku usaha dan masyarakat di daerahnya.

Ke depan, Klezeet ingin terus memperluas pasar dan memperkuat posisi sebagai produk UMKM Kabupaten Pekalongan.

Boy berharap, pemerintah dapat memberikan akses informasi yang lebih transparan mengenai peluang pengadaan kebutuhan SPPG.

Menurut Boy, keterbukaan informasi akan membantu UMKM lokal mengetahui peluang pasar sekaligus mempersiapkan diri untuk memenuhi kebutuhan tersebut.

"Kami membutuhkan transparansi, terutama terkait SPPG, supaya terbuka informasi mengenai produk kami dan UMKM lokal bisa mendapatkan kesempatan," ujarnya.

Harapan tersebut menjadi bagian dari cita-cita Boy, untuk membawa UMKM lokal tumbuh lebih jauh.

Ia ingin, produk yang lahir dari Kedungwuni tidak hanya menjadi kebanggaan daerah, tetapi juga mampu mengambil bagian dalam memenuhi kebutuhan berbagai sektor.

Baca juga: Ivan Gunawan Curhat Sabun Rp 400 Ribu Miliknya Tak Ada yang Beli saat Live, Cuma Ramai Komentar

"Kegiatan saya ke depannya adalah meningkatkan UMKM lokal. Kami ingin produk lokal, semakin berkembang dan bisa digunakan oleh SPPG se-Kabupaten Pekalongan," tuturnya.

Dari sebuah usaha di Kedungwuni, Klezeet kini mencoba mengetuk pintu pasar yang lebih luas.

Sabun cuci piring yang selama ini identik dengan kebutuhan rumah tangga itu perlahan diarahkan menjadi bagian dari rantai kebutuhan usaha dan dapur SPPG. (Dro)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.