Profil KH Imam Jazuli, Calon Ketum PBNU di Muktamar ke-35 NU: Pendidikan hingga Rekam Jejak
Ahmad Tajudin August 30, 2026 03:17 PM

 

TRIBUNBANTEN.COM - KH Imam Jazuli menjadi salah satu nama yang muncul dalam bursa calon Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) pada Muktamar ke-35 NU.

Pengasuh Pesantren Bina Insan Mulia Cirebon tersebut menyatakan siap dicalonkan jika mendapat dukungan dari para muktamirin.

Kesiapan majunya KH Imam Jazuli di bursa calon Ketua Umum PBNU diungkap oleh salah satu tokoh penggerak NU yang juga cicit pendiri NU, Irfan Asy'ary Sudirman Wahid alias Gus Ipang Wahid.

Masuknya nama KH Imam Jazuli tentu membuat peta persaingan dalam bursa calon Ketua Umum PBNU semakin menghangat.

Dinamika ini muncul ketika Muktamar ke-35 NU memasuki fase krusial dalam penentuan kepemimpinan organisasi.

Berikut profil singkat KH. Imam Jazuli, yang dikabarkan siap maju sebagai calon Ketum PBNU yang akan dipilih di Muktamar ke-35 NU pada Minggu (30/8/2026) hari ini.

Baca juga: Terseret Dugaan Penipuan Rp3,5 Miliar, Ruben Onsu Diimbau Konsultasi Sebelum Buat Perjanjian Bisnis

Profil KH Imam Jazuli

KH. Imam Jazuli lahir di Cirebon, Jawa Barat pada 17 November 1976, yang artinya saat ini ia berusia 49 tahun.

Ia adalah putra dari pasangan KH. Anas Sirojuddin dan Hj. Sukini Koniah.

Saat ini, ia dikenal sebagai Pengasuh Pesantren Bina Insan Mulia Cirebon, dikutip dari Surya.

Ia memiliki latar belakang pendidikan yang cemerlang, sehingga dianggap sebagai sosok intelektual muda NU yang memiliki kedalaman ilmu agama sekaligus wawasan strategis internasional.

KH Imam Jazuli lulus dari Pesantren Lirboyo, Kediri (1995) dan MTM Kempek Cirebon. Kemudian, ia menempuh pendidikan sarjana di Fakultas Ushuluddin (Akidah dan Filsafat), Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir.

Ia melanjutkan studi pascasarjana di Department of Political Strategic and Defence atau Jurusan Strategi Politik dan Pertahanan di Universiti Kebangsaan Malaysia.

Ia juga menempuh studi doktoral (S3) di Universiti Malaya dalam bidang International Strategic Studies.

KH Imam Jazuli juga pernah aktif di sederetan organisasi, bahkan hingga di puncak jajaran elit kepengurusan PBNU, di antaranya adalah:

Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) periode 2010–2015.

Wakil Ketua Pimpinan Pusat Rabithah Ma’ahid Islamiyah (RMI) atau Asosiasi Pondok Pesantren se-Indonesia.

Aktif di Keluarga Mahasiswa Nahdlatul Ulama (KMNU) Mesir dan Ketua Umum Senat Mahasiswa Al-Azhar saat masa studi di Kairo.
 
Di sela-sela kesibukannya mengasuh santri, KH Imam Jazuli juga aktif dalam dunia literasi.

Ia dikenal sebagai kolumnis di berbagai media nasional seperti Kompas.com, Republika, Media Indonesia, dan NU Online.

Selain itu, KH Imam Jazuli telah menulis karya buku, seperti: 

1. Pendidikan Karakter Bangsa & Nasionalisme (2010)

2. Mengenal Syariat, Ma’rifat & Hakikat (2011)

3. Al-Quds Masalah Kita Bersama (1998)

KH. Imam Jazuli menikah dengan Hj. Malika Lulu, S.Psi., putri dari tokoh ulama pendiri Pesantren Aulia yang juga pernah memimpin NU Kabupaten Bogor selama dua periode, yakni Drs. KH. Abdurrahim Sanusi, Lc.

Keduanya dikaruniai enam orang anak, yakni: 

  • Imtiaz Zay Balqis
  • Syah Khotami El Aulia
  • Tsaura Benazir Helmaye
  • Syirin Sirul illah
  • Ayeesha Niswah Maulidia
  • Nehla Hadia Tajik

Kata Gus Ipang Wahid Soal Kesiapan KH Imam Jazuli Maju di Bursa Calon Ketua Umum PBNU

Gus Ipang Wahid mengungkap bahwa KH. Imam Jazuli telah menyatakan kesiapan untuk dicalonkan sebagai Ketua Umum PBNU.

Pernyataan tersebut disampaikan Gus Ipang seusai menggelar dialog intensif dan santai di meja sarapan pada Minggu (30/8/2026) pagi ini bersama KH. Imam Jazuli.

​"Kiai Imam Jazuli membuat pernyataan penting, beliau menyatakan siap dicalonkan menjadi ketua umum PBNU," Kata Gus Ipang, dilansir TribunJatim.com. 

Gus Ipang menambahkan, pencalonan ini ada syaratnya jika memang muktamirin dari Pengurus Cabang (PC) dan Pengurus Wilayah (PW) serta Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA)  menghendaki. 

"Ini bukan ambisi pribadi, melainkan sebuah panggilan sejarah untuk membawa NU melompat jauh ke depan," ujar Gus Ipang Wahid.

Lebih lanjut, Gus Ipang menilai KH Imam Jazuli sebagai figur alternatif yang paling relevan untuk memimpin NU di abad kedua berdasarkan empat alasan mendasar, yakni: 

  • Energi Pemersatu dan Rekonsiliasi: Mampu meredam friksi dan dinamika internal NU beberapa tahun terakhir karena tidak memiliki beban masa lalu, serta dapat berkomunikasi lintas faksi.
  • ​Kemandirian Ekonomi: Memiliki konsep konkret dalam mengembalikan ruh kemandirian NU agar tidak bergantung pada patronase kekuasaan, mengembalikan semangat sejarah.
  • ​Transformasi Pesantren: Rekam jejak nyata dalam modernisasi pesantren yang adaptif, digital, dan global tanpa menghilangkan identitas salaf.
  • ​Diplomasi Global: Memiliki kapasitas komunikasi internasional, retorika memikat, dan ketajaman geopolitik untuk membawa NU berkiprah di panggung dunia.
© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.