Palangka Raya Dikepung Asap Pekat, Pedagang Taman Pasuk Kameloh Kini Sepi Pembeli
Nia Kurniawan August 30, 2026 07:50 PM

TRIBUNKALTENG.COM, PALANGKA RAYA – Kabut asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang menyelimuti Kota Palangka Raya tidak hanya berdampak pada kesehatan masyarakat, tetapi juga aktivitas ekonomi pedagang di ruang terbuka.

Salah satunya dirasakan Melsi (41), pedagang minuman di kawasan Taman Pasuk Kameloh, Palangka Raya. 

Baca juga: Palangka Raya Dikepung Asap, Persiapan Isen Mulang FC Masuk Fase Krusial

Sepekan terakhir, ia mengaku omzet penjualannya turun hingga lebih dari separuh akibat jumlah pengunjung yang berkurang.

Melsi yang menjual es kelapa, minuman botolan, dan Pop Ice mengatakan, kondisi tersebut terasa semakin parah ketika kabut asap mulai menebal.

“Semenjak kabut asap ini memang jualan sepi, pengunjung pun berkurang. Pemandangannya juga tidak ada,” kata Melsi saat ditemui TribunKalteng.com di kawasan Taman Pasuk Kameloh, Minggu (30/8/2026).

Menurutnya, kondisi berbeda dibandingkan hari-hari biasa ketika kawasan taman masih ramai didatangi masyarakat. 

Kabut asap membuat masyarakat cenderung mengurangi aktivitas di luar rumah.

Terlebih, jarak pandang di sekitar kawasan tersebut kini menjadi terbatas. Bahkan, lampu variasi di Jembatan Kahayan yang biasanya menjadi daya tarik pengunjung juga dimatikan.

“Iya. Apalagi situasinya hari ini kabutnya malah tambah tebal. Jarak pandangnya paling beberapa meter saja,” ujarnya.

Melsi mengatakan, penurunan jumlah pengunjung mulai terasa sekitar satu pekan terakhir. 

Sebelum kabut asap semakin pekat, meski baru membuka lapak, biasanya sudah ada masyarakat yang datang.

“Biarpun kami baru buka, pasti ada pengunjung. Cuma sekarang dampaknya mungkin karena kabut asapnya semakin tebal, jadi sepi,” katanya.

Ia menyebut kondisi tersebut turut berpengaruh langsung terhadap pendapatannya. 

“Hitungannya kalau sehari biasanya dapat Rp300 ribu sampai Rp500 ribu, sekarang turun menjadi sekitar Rp200 ribu atau Rp150 ribu,” ungkapnya.

Penurunan pendapatan itu bahkan menurutnya bisa mencapai lebih dari 50 persen dibandingkan kondisi normal.

Meski demikian, Melsi tetap memilih membuka lapaknya hingga malam hari. 

Biasanya ia mulai berjualan sekitar pukul 11.00 atau 13.00 WIB dan baru menutup dagangan sekitar pukul 21.00 hingga 22.00 WIB.

Keputusan untuk tetap berjualan bukan tanpa alasan. Melsi mengatakan, dirinya memiliki tanggungan keluarga dan suaminya sudah sekitar tiga tahun tidak dapat bekerja karena sakit.

“Saya ingin istirahat di rumah, tapi tanggungan saya masih ada. Jadi harus tetap turun jualan,” ujarnya.

Di tengah kondisi kabut asap, Melsi juga merasakan dampak terhadap kesehatan. 

Ia mengaku matanya terasa perih dan sesekali mengalami sesak napas saat berjualan di luar ruangan.

“Mata perih, kalau sesak napas ada juga, cuma kalau kita pakai masker agak berkurang juga,” katanya.

Melsi mengaku kondisi kabut asap bukan kali pertama ia alami. Namun, menurutnya, situasi saat ini turut menjadi tantangan bagi pedagang karena pilihan lokasi rekreasi masyarakat di Palangka Raya kini semakin banyak.

Ia mengenang kondisi kabut asap pada tahun-tahun sebelumnya. Saat itu, menurutnya, pengunjung masih relatif lebih banyak karena kawasan taman yang tersedia belum sebanyak sekarang.

“Kalau tahun dulu memang pernah kabut asap, cuma agak pembeli atau pengunjung masih ada. Soalnya tamannya kan cuma satu waktu itu. Sekarang taman sudah banyak, jadi pengunjung terbagi ke tempat-tempat lain. Jadi agak berkurang juga dari pendapatan,” jelasnya.

Melsi juga menyebut hingga kini dirinya belum mendapatkan bantuan masker dari pemerintah maupun pihak lainnya selama kabut asap berlangsung.

“Tidak ada. Bantuan masker juga tidak ada,” katanya.

Ia berharap kabut asap segera berakhir sehingga aktivitas masyarakat kembali normal dan pengunjung kembali mendatangi kawasan taman.

“Harapannya mudah-mudahan kabutnya cepat menghilang dan kondisi jualan kembali seperti semula,” pungkasnya.

(TRIBUNKALTENG.COM/MUHAMMAD IQBAL ZULKARNAIN)

 

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.