SURYAMALANG.COM, MALANG - Terpilihnya KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin sebagai Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) dinilai menjadi penanda babak baru perjalanan organisasi Islam terbesar di Indonesia tersebut.
Gus Kikin terpilih setelah mengantongi restu tertulis Rais Aam dan meraih suara tertinggi sebesar 472 suara dalam Sidang Pleno V Muktamar ke-35 NU di Jombang, Jawa Timur, pada Minggu (30/8/2026).
Cendekiawan Nahdlatul Ulama sekaligus Direktur Pascasarjana Universitas Islam Malang (Unisma), Prof Dr M Mas'ud Said, menyebut kemenangan Gus Kikin bukan sekadar pergantian kepemimpinan biasa.
Momentum ini memosisikan NU kembali ke akar sejarah, tradisi pesantren, serta nilai-nilai dasar yang diwariskan sang pendiri, KH Hasyim Asy'ari.
Baca juga: Muktamar ke-35 NU Tuntas, Sekjen Golkar Sarmuji Titip Harapan ke Gus Kikin dan Kiai Miftach
Menurut Prof Mas'ud, proses pemilihan dalam muktamar kali ini turut menunjukkan penguatan peran ulama dalam menentukan arah organisasi.
"Ini menjadi penanda menguatnya peran ahlul halli wal aqdi atau para kiai sepuh yang dipilih secara demokratis. Jadi demokrasi tetap berjalan, tetapi disaring melalui mekanisme khas Nahdlatul Ulama," katanya kepada SURYAMALANG.COM pada Senin (31/8/2026).
Prof Mas'ud memandang Gus Kikin memiliki empat idealisme yang menjadi modal besar untuk memimpin PBNU ke depan.
Pertama, kedekatan mendalam dengan dunia pesantren dan garis keturunan pendiri NU.
Sebagai cicit Hadratussyaikh KH Hasyim Asy'ari sekaligus Pengasuh Pesantren Tebuireng, Gus Kikin memegang legitimasi historis yang sangat kuat.
"Beliau memiliki kedekatan paling absah dengan pesantren, bukan hanya secara biologis sebagai dzurriyah, tetapi juga melalui warisan kepemimpinan dan nilai perjuangan yang melekat di Tebuireng," terangnya.
Mas'ud menambahkan, di tengah arus modernisasi, warga Nahdliyin menaruh harapan besar agar basis pesantren kembali diperkuat sebagai sumber nilai dan arah gerakan.
Idealisme kedua terletak pada aspek profesionalisme.
Baca juga: Duet Ulama Sepuh dan Cicit Hadratus Syaikh: Profil KH Miftachul Akhyar dan Gus Kikin Pimpin PBNU
Pengalaman Gus Kikin di lintas sektor seperti bisnis, keuangan, perbankan, hingga industri menjadi nilai tambah yang jarang dimiliki figur pesantren.
"Beliau memiliki pengalaman sebagai profesional dan pelaku bisnis. Bahkan meninggalkan posisinya di dunia usaha untuk kembali mengasuh Tebuireng. Menurut saya, ini merupakan modal penting untuk mengelola organisasi besar seperti NU," ujarnya.
Aspek ketiga adalah kemampuan membangun jejaring sosial-politik yang inklusif.
Menurut Prof Mas'ud, Gus Kikin memiliki hubungan harmonis dengan berbagai pihak, mulai dari internal NU, partai politik, lembaga negara, hingga birokrasi pemerintahan.
Hal ini dinilai strategis mengingat jejaring warga NU saat ini telah bertransformasi hingga ke sektor kampus, parlemen, dan ruang publik luas.
"NU hari ini ada di mana-mana, karena itu pemimpinnya harus mampu menjembatani hubungan dengan berbagai kekuatan sosial dan politik tanpa kehilangan identitas ke-NU-an," jelasnya.
Sementara idealisme keempat yang dinilai paling strategis adalah komitmen menghidupkan kembali nilai-nilai Qonun Asasi, yakni rumusan gagasan dasar KH Hasyim Asy'ari sebagai fondasi utama perjuangan NU.
Prof Mas'ud melihat konsep tersebut berpotensi menjadi kompas arah baru di bawah komando Gus Kikin.
"Qonun Asasi berisi nilai persatuan, multikulturalisme, nasionalisme, kemajuan bangsa, dan kekuatan yang bertumpu pada kemampuan bangsa sendiri. Ini ruh yang dulu diperjuangkan Hadratussyaikh dan sekarang berpeluang dibangkitkan kembali," ungkapnya.
Baca juga: BREAKING NEWS: Hasil Muktamar ke-35 NU, Gus Kikin Resmi Terpilih Jadi Ketua Umum PBNU 2026-2031
Mas'ud menegaskan, kebangkitan Qonun Asasi merupakan kemenangan terbesar dari keterpilihan Gus Kikin.
Dokumen tersebut bukan sekadar teks akademis organisasi, melainkan landasan berpikir pijakan NU dalam mengawal persatuan dan kedaulatan bangsa.
"Ini bukan hanya soal NU, tetapi juga tentang kontribusi NU terhadap Indonesia. KH Hasyim Asy'ari adalah tokoh yang menyerukan Resolusi Jihad dan berperan penting dalam perjalanan bangsa. Nilai-nilai itulah yang bisa dihidupkan kembali," paparnya.
Oleh sebab itu, Prof Mas'ud menegaskan masa kepemimpinan Gus Kikin lebih tepat dimaknai sebagai fajar era baru ketimbang sekadar kelanjutan dari periode sebelumnya.
"Ini menandai babak baru bagi NU. Ada semangat menghidupkan kembali Qonun Asasi dan memperkuat modernisasi organisasi," tandasnya.