Kepala BPOM Ungkap Rencana Indonesia Ekspor Vaksin ke Afrika
GH News August 31, 2026 04:08 PM
Jakarta -

Pemerintah Indonesia melalui Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) tengah mengupayakan langkah strategis untuk memperluas ekspansi pasar farmasi nasional ke kancah global.

Salah satu target utamanya adalah mengekspor produk vaksin buatan dalam negeri ke Ghana, yang dinilai sebagai titik masuk strategis menuju pasar Afrika.

Rencana ini sejalan dengan menguatnya inisiatif Kerja Sama Selatan-Selatan antara Indonesia dan negara-negara di kawasan Afrika.

Kepala BPOM RI, Prof Taruna Ikrar mengungkapkan, bahwa program peningkatan kapasitas (capacity building) pengawasan obat yang saat ini diberikan BPOM kepada delegasi Food and Drugs Authority (FDA) Ghana adalah langkah awal dari visi jangka panjang tersebut.

"Tentu dari proses awal ini, kita akan berkembang. Nanti produk-produk yang kita hasilkan dari Indonesia, khususnya yang berhubungan dengan vaksin, itu bisa diekspor ke Ghana," ungkap Taruna ketika ditemui di Jakarta pada Senin (31/8/2026).

Lebih jauh, Taruna membocorkan salah satu jenis vaksin penyakit yang menjadi target pengembangan dan kerja sama masa depan dengan Afrika, yakni vaksin malaria.

Pemilihan vaksin ini sangat relevan mengingat tingginya beban kasus penyakit malaria di kedua negara.

"Contohnya, nanti kita akan kembangkan vaksin yang berhubungan dengan malaria. Kita tahu kan penyakit malaria cukup banyak di Afrika, dan di Indonesia juga cukup banyak, khususnya di bagian timur," paparnya.

Untuk merealisasikan hal tersebut, BPOM merencanakan skema uji klinis multi-center di masa depan yang melibatkan peneliti dari Indonesia dan Afrika.

"Dengan masuk uji klinis nanti, variabilitas dari vaksin anti-malaria itu akan lebih luas. Dilakukan di sini (Indonesia) dan dilakukan juga di sana," tambahnya.

Taruna melihat posisi geopolitik dan demografi Ghana sangat strategis bagi penetrasi produk kesehatan Indonesia di pasar internasional yang lebih luas.

"Kita tahu bahwa Ghana ini merupakan pintu gerbangnya untuk Afrika. Jumlah penduduknya kurang lebih 36, hampir 40 juta dengan pertumbuhan yang cukup besar. Ditambah, Afrika memiliki 1,6 miliar penduduk, itu adalah (pasar) yang sangat besar," tegasnya.

Kepercayaan diri Indonesia untuk menembus pasar Afrika juga didukung oleh status BPOM yang kini telah diakui sebagai WHO Listed Authority (WLA) atau Otoritas Pengawas Obat yang Diakui Organisasi Kesehatan Dunia.

"Karena kita sudah berstatus WLA, ini menambah reputasi kita, bahwa kita semakin dipercaya. Bukan hanya di negara-negara ASEAN, bukan hanya di negara Eropa karena kita selevel, tapi juga negara-negara Afrika juga mengakui kita. Itu yang paling penting," tambahnya.

Selain rencana ekspor, kerja sama kedua negara di sektor farmasi juga telah berjalan secara konkret.

Saat ini, Badan Usaha Milik Negara (BUMN) farmasi Indonesia, PT Bio Farma, tengah menjalin kemitraan strategis dengan Atlantic Life Sciences of Ghana.

Kerja sama ini melibatkan transfer teknologi untuk membantu Ghana memproduksi vaksin tetanus pertama secara lokal di negara tersebut.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.