OMC Lampung Diperpanjang hingga 2 September, Penyemaian Baru Sekali Sasar Lampung Barat
soni yuntavia August 31, 2026 07:19 PM

 

Tribunlampung.co.id, Bandar Lampung - Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) di Provinsi Lampung diperpanjang hingga 2 September 2026. Namun, sejak dimulai pada 26 Agustus lalu, penyemaian awan baru dilakukan satu kali karena pelaksanaannya bergantung pada kondisi awan yang memenuhi kriteria.

Baca juga: OMC Berhasil Turunkan Hujan di Lampung Timur, Karhutla di TNWK Dinyatakan Padam Total

Sebanyak delapan wilayah masuk dalam cakupan OMC, yakni Bandar Lampung, Lampung Timur, Lampung Selatan, Lampung Tengah, Lampung Utara, Way Kanan, Lampung Barat, dan Tanggamus.

Humas BPBD Lampung Wahyu Hidayat mengatakan OMC tidak dilakukan secara rutin di seluruh wilayah cakupan. Penyemaian baru dilakukan ketika hasil pemantauan menunjukkan adanya awan yang berpotensi menghasilkan hujan.

"OMC satu kali dilakukan ke daerah sekitar Lampung Barat karena ada awan yang sangat potensial bisa menjadi hujan," kata Wahyu, Minggu (30/8/2026).

Penyemaian pertama dilakukan menggunakan pesawat PK-YNA dengan membawa 800 kilogram bahan semai berupa natrium klorida (NaCl). Sasaran penyemaian merupakan awan Cumulus Congestus yang terpantau di sekitar Lampung Barat.

Saat operasi berlangsung, dasar awan berada di sekitar 6.000 kaki, sementara puncaknya mencapai 11.000 hingga 13.000 kaki. Kondisi tersebut dinilai mendukung dilakukannya penyemaian.

"Pada saat melakukan penyemaian, awan target adalah Cumulus Congestus dengan base awan sekitar 6.000 feet dan top awan sekitar 11.000 sampai 13.000 feet," jelasnya.

Selain struktur awan, kondisi angin juga menjadi bagian dari pemantauan. Kecepatan angin saat penyemaian berkisar 8 hingga 14 knot dengan arah dari barat daya hingga barat laut.

Presipitasi juga terpantau pada awan yang menjadi sasaran penyemaian.

"Pada saat penyemaian terpantau kecepatan angin 8 sampai 14 knot dari arah barat daya hingga barat laut. Terjadi presipitasi pada awan-awan yang disemai," ujarnya.

Kepala Pelaksana BPBD Provinsi Lampung Rudy Sjawal Sugiarto melalui Wahyu mengatakan pemantauan bersama BMKG terus dilakukan untuk menentukan lokasi yang memiliki peluang terbaik untuk penyemaian.

Perpanjangan OMC hingga 2 September diharapkan dapat memanfaatkan kondisi atmosfer yang mendukung pertumbuhan awan hujan sekaligus mengantisipasi potensi cuaca kering di sejumlah wilayah Lampung.

Kebakaran TNWK Padam 

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda kawasan Taman Nasional Way Kambas (TNWK), Lampung Timur, selama sepekan, akhirnya dinyatakan padam total. Pemadaman karhutla tersebut salah satunya ditentukan oleh keberhasilan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) dan water bombing yang dilakukan pemerintah secara terus-menerus.

Upaya penanganan karhutla di Lampung turut mendapat dukungan melalui OMC yang dilakukan sejak Rabu (26/8/2026). Pada Jumat (28/8/2026), hujan terpantau turun di sejumlah wilayah Lampung Timur, termasuk kawasan TNWK.

Koordinator Data dan Informasi BMKG Lampung Rudi Harianto mengatakan, hujan yang terjadi sesuai dengan wilayah target penyemaian awan dalam pelaksanaan OMC. “Untuk hasil OMC hari ini Jumat (28/8), hujan sesuai dengan wilayah target semai awan,” kata Rudi, Minggu (30/8/2026).

Berdasarkan pemantauan radar BMKG, hujan terdeteksi di kawasan TNWK sekitar pukul 14.45 WIB. Laporan dari lapangan juga mencatat hujan turun di Kecamatan Sekampung Udik, Pakuan Haji, Labuhan Ratu, Batanghari, Pekalongan, Purbolinggo, hingga Bandar Sribhawono.

Hingga Jumat, penerbangan penyemaian awan telah dilakukan sebanyak dua sorti dengan sasaran Lampung Timur, Lampung Selatan, dan kawasan TNWK. Dalam operasi tersebut, pesawat Cessna 208 Caravan dengan registrasi PK-YNA digunakan untuk menyemai awan menggunakan bahan natrium klorida (NaCl).

Setiap penerbangan membawa sekitar 800 kilogram bahan semai yang ditaburkan pada awan yang memiliki potensi menghasilkan hujan.

Menurut Rudi, OMC ditujukan untuk meningkatkan peluang terjadinya hujan di wilayah Lampung yang membutuhkan, terutama kawasan yang terdampak kekeringan dan karhutla. “Targetnya menyemai awan-awan di sekitar Lampung Timur dan umumnya wilayah di Provinsi Lampung untuk memadamkan karhutla dan mengatasi kekeringan,” ujarnya.

Selain OMC, pemadaman dari udara juga terus dilakukan menggunakan helikopter BNPB jenis UH-60A/N 360 UH. Pada Jumat, helikopter tersebut melaksanakan dua sorti penerbangan dan melakukan 27 kali water bombing dengan total 108.000 liter air yang dijatuhkan ke lokasi karhutla.

Dengan padamnya seluruh titik api dan turunnya hujan di kawasan sasaran, penanganan karhutla TNWK memasuki tahap pemantauan dan pemulihan. Tim di lapangan tetap melakukan pengawasan untuk mengantisipasi munculnya kembali titik panas atau bara api di bawah permukaan tanah.

Balai TNWK juga akan melanjutkan upaya pemulihan habitat dan ekosistem kawasan yang terdampak kebakaran setelah kondisi dinyatakan benar-benar aman.

Kepala Balai TNWK M Zaidi mengatakan, berdasarkan laporan tim di lapangan, seluruh titik api telah dapat dipadamkan setelah dilakukan penanganan secara darat dan udara. “Alhamdulillah padam jam 18.42 WIB, itu laporan dari lapangan,” ujar Zaidi, Jumat (28/8).

Zaidi menyebut, total luasan kawasan yang terbakar selama sepekan diperkirakan mencapai 912,49 hektare. Area terdampak berada di wilayah utara TNWK, memanjang dari grid kerja 21I hingga 21L.

Penanganan karhutla semakin diperkuat setelah terdeteksi dua titik panas baru pada Kamis (27/8), masing-masing di Resort Rantau Jaya dan Resort Toto Projo. Titik api di Resort Rantau Jaya diperkirakan membakar area sekitar 2 hingga 3 hektare. Sementara titik api di Resort Toto Projo yang berbatasan dengan Susukan Baru, langsung ditangani oleh tim melalui pemadaman darat dan operasi water bombing.

Menurut Zaidi, kondisi vegetasi berupa alang-alang, semak belukar dan serasah tebal di atas tanah mineral yang kering membuat api mudah merambat. Meski kebakaran berdampak terhadap ekosistem kawasan konservasi, Zaidi memastikan hingga pemadaman selesai tidak ditemukan satwa prioritas yang menjadi korban terbakar secara langsung.

“Kebakaran ini mengganggu ekosistem. Namun sejauh ini, tim gabungan di lapangan tidak menemukan adanya satwa yang terbakar secara langsung,” katanya.

Ia mengatakan, setelah api benar-benar padam, pihaknya akan memfokuskan penanganan pada pembinaan habitat dan pemulihan ekosistem secara berkelanjutan. Operasi pemadaman melibatkan BPBD, BNPB, TNI, Polri, masyarakat lokal, kelompok tani hutan, Karang Taruna, Pramuka, serta pemerintah daerah. Penanganan juga diperkuat dengan dukungan helikopter water bombing dan OMC.

( Tribunlampung.co.id ) 

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.