Penyebab Gabah Lampung Banyak Dibawa ke Pulau Jawa, Pengusaha Lokal Menjerit
Robertus Didik Budiawan Cahyono August 31, 2026 07:19 PM

Tribunlampung.co.id, Bandar Lampung - Terungkap penyebab gabah hasil produksi Provinsi Lampung banyak dibawa ke luar daerah, terutama Pulau Jawa. Imbasnya, pengusaha penggilingan lokal menjerit karena tidak mendapat pasokan bahan baku.

Baca juga: Perpadi Lampung Usulkan Mekanisme Pembelian Gabah untuk Cegah Pengiriman ke Jawa

Salah satu pengusaha penggilingan padi asal Lampung Selatan, Hipni membeberkan alasan petani pilih menjual gabah ke luar daerah. Menurut dia, agen luar daerah menawarkan harga lebih tinggi kepada para petani.

"Gabah masih banyak yang keluar. Ini yang menjadi persoalan bagi kami pengusaha penggilingan, karena kami sendiri tidak kebagian gabah," ujarnya, Senin (31/8/2026).

Ia mengatakan, gabah yang dibawa keluar Lampung dalam beberapa hari terakhir berasal dari sejumlah sentra produksi padi, seperti Mesuji, Lampung Selatan, dan Lampung Timur.

Bahkan pada Sabtu malam, menurut dia, puluhan kendaraan pengangkut gabah disebut berada di kawasan Pelabuhan Bakauheni untuk menyeberang menuju Pulau Jawa.

"Tadi malam panen dari Mesuji, Lamsel dan Lamtim. Di Bakau dilakukan penyekatan. Mereka mau menyeberang membawa gabah. Ada puluhan mobil tadi malam," ujarnya.

Menurut Hipni, aktivitas pengangkutan gabah tersebut sempat menimbulkan persoalan di lapangan.

Kendaraan pengangkut gabah disebut sempat dilakukan penyekatan sebelum akhirnya diperbolehkan melanjutkan perjalanan setelah dilakukan mediasi.

"Tadi malam memang ada ribut sedikit di Bakauheni. Rupanya pihak agen semalam itu tidak terima. Tapi akhirnya diloloskan dulu," katanya.

Hipni mengatakan persoalan tersebut juga dipicu adanya miskomunikasi antara Satgas dan Persatuan Pengusaha Penggilingan Padi dan Beras Indonesia (Perpadi).

"Semalam dari Satgas ada miskomunikasi dengan Perpadi. Dimediasi, akhirnya diloloskan," ujarnya.

Penggilingan Lokal Kesulitan Bahan Baku

Hipni menilai persoalan utama yang kini dihadapi pengusaha penggilingan adalah ketersediaan bahan baku.

Menurutnya, penggilingan lokal membutuhkan gabah untuk menjaga keberlangsungan produksi beras sekaligus memenuhi kebutuhan masyarakat di Lampung.

Namun, ketika gabah lebih banyak dibawa keluar daerah, pengusaha penggilingan lokal semakin sulit mendapatkan pasokan.

"Kalau barangnya dibawa keluar semua, kami yang di dalam ini mau menggiling apa?" kata Hipni.

Ia mengatakan pengusaha penggilingan berada dalam posisi dilematis.

Di satu sisi, mereka harus menaikkan harga pembelian gabah agar mampu bersaing dengan agen dari luar Lampung.

Namun di sisi lain, kenaikan harga gabah akan berdampak terhadap biaya produksi dan harga beras di pasaran.

"Kalau teman-teman tidak ikut harga mereka, barang Lampung dibawa ke luar Lampung. Tapi kalau ikut, ini membahayakan inflasi. Jadi ini yang harus kita pecahkan bersama," ujarnya.

Menurut Hipni, harga yang ditawarkan pembeli dari luar daerah menjadi salah satu alasan petani memilih menjual gabah kepada mereka.

Ia menyebut harga gabah kering panen di tingkat petani saat ini sekitar Rp7.200 per kilogram.

Sementara setelah dibeli agen dan dibawa ke Pulau Jawa, gabah tersebut dapat diterima pabrik dengan harga sekitar Rp8.100 hingga Rp8.200 per kilogram.

"Artinya memang dibanding dengan keberanian pembeli pabrik lokal memang jauh," jelasnya.

Produksi Pertanian Tidak Maksimal

Kekhawatiran pengusaha penggilingan semakin besar karena produksi pertanian di Lampung saat ini disebut tidak maksimal.

Hipni memperkirakan tingkat keberhasilan pertanian hanya berkisar 60 hingga 70 persen.

Kondisi cuaca serta serangan hama di sejumlah wilayah turut memengaruhi hasil panen petani.

"Memang ada beberapa tempat yang gagal panen. Banyak sawah diserang tikus sehingga ada yang hampir tidak panen sama sekali," ujarnya.

Dengan produksi yang tidak maksimal, menurut Hipni, pasokan gabah yang dihasilkan petani seharusnya dapat memenuhi terlebih dahulu kebutuhan penggilingan dan masyarakat di Lampung.

Sebab, apabila pasokan gabah lokal terus berkurang karena banyak dibawa keluar daerah, penggilingan akan kesulitan mempertahankan produksi.

"Karena banyak yang keluar, gabah banyak keluar, stok beras di Lampung juga menipis," katanya.

Ia mengingatkan persoalan tersebut tidak hanya berdampak terhadap pelaku usaha penggilingan, tetapi juga dapat memengaruhi ketersediaan beras di Lampung.

Minta Distribusi Gabah Diatur

Hipni berharap pemerintah dapat memberikan perhatian terhadap distribusi gabah dari Lampung ke luar daerah.

Menurutnya, pengusaha penggilingan tidak bermaksud melarang petani menjual hasil panennya ke luar Lampung.

Namun, diperlukan keseimbangan agar kebutuhan bahan baku penggilingan lokal tetap terpenuhi.

"Kami tidak melarang petani menjual. Tapi harus ada keseimbangan. Jangan sampai gabah Lampung keluar semua, sementara penggilingan di Lampung tidak kebagian," ujarnya.

Menurutnya, penggilingan lokal memiliki peran penting dalam menjaga produksi dan ketersediaan beras di daerah.

Apabila penggilingan kesulitan memperoleh gabah, proses produksi beras lokal berpotensi terganggu.

"Kami juga harus tetap hidup. Kalau tidak ada gabah, penggilingan berhenti. Kalau penggilingan berhenti, nanti beras dari mana?" katanya.

Hipni berharap pemerintah dapat mencari solusi yang tidak merugikan petani maupun pengusaha penggilingan.

"Petani harus mendapatkan harga yang bagus, tapi kebutuhan gabah untuk Lampung juga harus dijaga. Jangan sampai karena harga tinggi, semua gabah dibawa keluar dan akhirnya kita kekurangan beras," pungkasnya. 

(Tribunlampung.co.id/Riyo Pratama)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.