UMKM Perempuan di Yogyakarta Didorong Naik Kelas, Tak Cukup Hanya Mengandalkan Modal
Ikrob Didik Irawan August 31, 2026 08:02 PM

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Memulai usaha mungkin menjadi langkah pertama bagi perempuan untuk membantu perekonomian keluarga.

Namun, mempertahankan sekaligus mengembangkan usaha menjadi tantangan berikutnya yang tidak selalu mudah.

Persoalan tersebut menjadi perhatian dalam program Usaha Naik Kelas yang digagas Amartha.

Program ini mendorong pelaku UMKM perempuan agar tidak berhenti pada tahap memiliki usaha, tetapi juga mampu memperkuat fondasi bisnis, mengakses pasar yang lebih luas, serta memiliki kemampuan mengelola keuangan secara berkelanjutan.

Dorongan itu salah satunya diwujudkan melalui kegiatan Buka Peluang di Yogyakarta.

Kegiatan tersebut mempertemukan perempuan pengusaha UMKM dengan offtaker, inkubator bisnis, organisasi pendukung, serta unsur pemerintah dan swasta.

Baca juga: Kenduri Memetri Keistimewaan DIY, Budaya Didorong Sebagai Landasan Menjawab Persoalan Zaman

Fondasi dan Intervensi

Pertemuan tersebut diarahkan untuk membantu pelaku usaha memperkuat kapasitas bisnis, termasuk dalam hal legalitas, standar produk, hingga kesiapan memasuki pasar yang lebih luas.

Chief Compliance and Sustainability Officer Amartha, Aria Widyanto, mengatakan pengembangan UMKM tidak dapat hanya dilihat dari persoalan akses permodalan.

"Ketika berbicara tentang solusi UMKM naik kelas, kita tidak bisa melihat hanya dari akses permodalan. Ada fondasi dan intervensi yang perlu dibangun, mulai dari kesehatan finansial, kapasitas pengelolaan usaha, legalitas, hingga keterhubungan dengan pasar yang lebih luas dan berkelanjutan. Oleh karena itu, Amartha melihat naik kelas sebagai proses, bukan tujuan yang dicapai dalam satu langkah," ujar Aria, Jumat (28/8/2026).

BUKA PELUANG - Amartha menghadirkan 'Buka Peluang' di Yogyakarta. Kegiatan ini mempertemukan perempuan pengusaha UMKM dengan offtaker dan inkubator bisnis serta organisasi pendukung dari swasta dan pemerintah untuk membantu formalisasi bisnis sehingga dapat menjangkau pasar yang lebih luas dan meningkatkan pendapatan
BUKA PELUANG - Amartha menghadirkan 'Buka Peluang' di Yogyakarta. Kegiatan ini mempertemukan perempuan pengusaha UMKM dengan offtaker dan inkubator bisnis serta organisasi pendukung dari swasta dan pemerintah untuk membantu formalisasi bisnis sehingga dapat menjangkau pasar yang lebih luas dan meningkatkan pendapatan (Tribun Jogja)

Menurut dia, kebutuhan tersebut semakin relevan karena sebagian besar UMKM di Indonesia masih berada pada skala mikro. 

Data BPS 2024 menunjukkan sekitar 64,5 persen UMKM di Indonesia dikelola oleh perempuan.

Besarnya peran perempuan dalam sektor UMKM tersebut dinilai perlu diikuti dengan penguatan kapasitas agar usaha yang dijalankan tidak sekadar bertahan, tetapi mampu berkembang dan memberikan dampak ekonomi yang lebih besar.

Kesehatan Finansial

Salah satu langkah yang didorong dalam program Usaha Naik Kelas ialah memperkuat kesehatan finansial pelaku usaha.

Hal ini mencakup kemampuan mengelola pendapatan, memiliki tabungan, membangun ketahanan finansial, mengembangkan usaha, serta meningkatkan kemandirian dan kepercayaan diri dalam mengambil keputusan keuangan.

Kebutuhan peningkatan literasi keuangan juga tercermin dalam data nasional. Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2025 yang dilakukan OJK dan BPS mencatat inklusi keuangan mencapai 80,51 persen, sementara literasi keuangan berada di angka 66,46 persen.

Artinya, semakin luasnya akses masyarakat terhadap layanan keuangan perlu diiringi dengan kemampuan yang memadai dalam mengelola keuangan.

Selain kesehatan finansial, aspek legalitas usaha turut menjadi perhatian. Amartha bersama Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA) serta Women's World Banking (WWB) mendorong peserta untuk melakukan formalisasi bisnis melalui edukasi dan fasilitas Nomor Induk Berusaha (NIB).

Legalitas tersebut diharapkan menjadi salah satu pintu bagi pelaku UMKM untuk memperluas akses pasar sekaligus meningkatkan kesiapan usaha ketika berhadapan dengan mitra bisnis yang lebih besar.

Tumbuh Bersaing

Asisten Deputi Pengarusutamaan Gender Bidang Perekonomian, Infrastruktur, dan Pembangunan Kewilayahan dan Pemerintah Daerah Wilayah I KemenPPPA, Eni Widiyanti, mengatakan pemberdayaan UMKM perempuan tidak cukup hanya mendorong perempuan memulai usaha.

"Pemberdayaan UMKM perempuan tidak cukup hanya mendorong perempuan untuk memulai usaha, tetapi juga memastikan usaha mereka dapat tumbuh, berdaya saing, dan memperluas akses pasar. Karena itu, penguatan UMKM perempuan perlu dilakukan melalui peningkatan legalitas, kapasitas usaha, pengelolaan keuangan, jejaring, dan akses pasar. NIB bukan sekadar nomor, tetapi identitas usaha dan salah satu pintu menuju pasar yang lebih luas," ujar Eni.

Senada, Director of Policy, Southeast Asia, Women's World Banking (WWB), Vitasari Anggraeni, menilai kemampuan perempuan dalam mengelola keuangan menjadi bagian penting untuk menjaga keberlangsungan usaha.

"Ketika perempuan mampu mengelola keuangan, menghadapi guncangan, merencanakan masa depan, dan memiliki kepercayaan diri dalam mengambil keputusan keuangan, mereka akan lebih siap memanfaatkan peluang untuk mengembangkan usahanya. Kami melihat, kesiapan usaha dan formalisasi menjadi fondasi dalam membangun kesejahteraan keuangan bagi perempuan pengusaha UMKM," jelas Vitasari.

Dipertemukan

Di Yogyakarta, kegiatan Buka Peluang juga tidak berhenti pada edukasi. Para pelaku UMKM dipertemukan dengan calon mitra pasar agar dapat memahami secara langsung standar produk, kebutuhan pengadaan, serta kesiapan untuk memasuki pasar yang lebih luas.

Kegiatan tersebut turut melibatkan Agradaya, Krisna, dan Pasaraya sebagai mitra dan calon offtaker.

Aria mengatakan koneksi dengan ekosistem bisnis menjadi bagian penting dalam proses UMKM untuk berkembang.

Menurutnya, tanpa intervensi dan kolaborasi strategis antarpemangku kepentingan, peluang pelaku usaha ultra-mikro untuk naik kelas masih rendah.

"Dari data kami, tanpa adanya intervensi dan kolaborasi strategis antarpemangku kepentingan, tingkat keberhasilan naik kelas pengusaha ultra-mikro hanya sekitar 3 persen. Melalui program Usaha Naik Kelas ini dan lokakarya Buka Peluang, Amartha ingin membantu mereka lebih siap tumbuh dan terhubung dengan ekosistem pendukungnya," katanya.

Saat ini, lanjut Aria, rata-rata 13 ribu mitra Amartha per tahun telah berkembang dari usaha ultra-mikro menjadi usaha mikro dan kecil.

"Ke depan, kami ingin mendorong lebih banyak perempuan pengusaha ultra-mikro untuk naik kelas, memperkuat usahanya, dan membuka peluang yang lebih besar," tutup Aria. (*/rls)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.