- Kekuatan politik Nahdlatul Ulama (NU) dinilai masih menjadi salah satu faktor penting dalam peta politik nasional menjelang Pemilu 2029.
Direktur Eksekutif Trias Politika Strategis Agung Baskoro menyebut besarnya basis massa NU membuat organisasi tersebut tetap menjadi rebutan para aktor politik.
Menurutnya, berdasarkan sejumlah survei kredibel, sekitar 57 hingga 60 persen pemilih merasa dekat dengan NU, yang jika mengacu pada jumlah DPT sekitar 210 juta pemilih berarti mencapai lebih dari 120 juta orang.
"Jadi asumsikan 210 jutaan, kasaran-kasarannya 120 jutaan lebih lah, yang memang dekat dengan NU. Jumlah sebesar itu wajar kalau menjadi rebutan aktor-aktor politik," kata Agung dalam wawancara bersama Tribunnews, Senin (31/8/2026).
Ia bahkan membayangkan kekuatan politik NU jika seluruh basis massanya bersatu dan mengusung calon presiden sendiri pada 2029.
"Bayangkan kalau NU-nya, dalam tanda petik, bersatu punya Capres sendiri, kan luar biasa kan sebenarnya. Tapi kan ternyata tidak sesederhana itu NU," ujarnya.
Meski memiliki basis politik besar, Agung mengingatkan PBNU agar tetap menjaga jarak dari pemerintah dan tidak terseret terlalu jauh ke politik praktis.
"Tapi saya berharap NU juga memainkan peran-peran yang kosong hari ini di sistem politik formal kita soal check and balances, Mas Agung. Karena semua aktor politik formal itu semuanya merapat. Nah, NU-nya harus jaga jarak," tegasnya.