TRIBUNJATENG.COM, PEKALONGAN - Detik-detik menegangkan terjadi di perlintasan kereta api kawasan Dekoro, di belakang Grosir Setono, Kota Pekalongan.
Saat kereta api melaju mendekati perlintasan, palang pintu masih dalam kondisi terbuka.
Bahkan, jarak kereta dengan perlintasan diperkirakan hanya sekitar 100 hingga 150 meter.
Baca juga: Polres Kendal: Terobos Palang Pintu Kereta Api Bisa Ditilang
Beruntung, sejumlah warga yang melihat kereta datang segera bergerak cepat. Mereka memperingatkan petugas, dan menghentikan pengguna jalan agar tidak melintas.
Palang akhirnya ditutup sebelum kereta melaju melewati perlintasan sehingga kecelakaan berhasil dicegah.
Bahkan video yang memperlihatkan petugas, diperingatkan oleh warga viral dibeberapa media sosial.
Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Pekalongan, M Restu Hidayat, mengatakan insiden tersebut terjadi pada Minggu (30/8/2026), sekitar pukul 08.38.
Berdasarkan pemeriksaan awal, kejadian bukan disebabkan kerusakan, pada perangkat palang.
"Palang pintunya tidak ada masalah. Ini human error saja," kata Restu, Senin (30/8/2026).
Menurut Restu, perlintasan tersebut telah menggunakan sistem elektrik.
Karena itu, Dishub akan melakukan evaluasi terhadap petugas yang berjaga untuk mengetahui penyebab palang tidak segera ditutup ketika kereta hendak melintas.
Sesuai standar operasional prosedur (SOP), dalam satu shift seharusnya terdapat dua petugas yang berjaga di pos perlintasan.
Namun, berdasarkan informasi awal yang diterima Dishub, saat kejadian hanya seorang petugas yang berada di lokasi.
Sementara seorang petugas lainnya disebut sedang keluar untuk mencari sarapan.
Petugas yang berada di lokasi juga disebut dalam kondisi mengantuk.
Kendati demikian, Restu belum memastikan penyebab kondisi tersebut dan masih akan melakukan pemeriksaan lebih lanjut.
"Kita baru akan melakukan evaluasi total. Padahal di dalam SOP tidak boleh petugas itu satu orang, harus dua orang," ujarnya.
Restu mengapresiasi, kesigapan masyarakat yang ikut membantu mengamankan perlintasan.
Warga tidak hanya menyadari kedatangan kereta, tetapi juga ikut menghentikan pengguna jalan agar tidak menerobos.
"Alhamdulillah masyarakat ikut serta berperan serta. Warganya juga tidak apa-apa," katanya.
Meski tidak sampai menimbulkan korban, Restu menegaskan kejadian tersebut merupakan pelanggaran SOP penjagaan perlintasan.
Petugas yang berjaga akan dipanggil untuk dimintai keterangan sekaligus dievaluasi.
"Saya akan melakukan evaluasi terhadap orang-orang ini, kenapa melakukan pelanggaran SOP," tegasnya.
Restu mengungkapkan, insiden serupa pernah terjadi di wilayah yang berada dalam pengawasan Dishub Kota Pekalongan sekitar setahun lebih lalu.
Saat itu, salah satu palang pada jalur ganda masih terbuka.
Sebuah motor, kemudian masuk ke perlintasan dan tersenggol bagian belakang kereta hingga pengendaranya terjatuh.
Restu menegaskan, pengendara tersebut tidak tertabrak langsung oleh kereta. Motornya tersenggol bagian belakang kereta, sehingga korban terjatuh ke aspal.
Korban diketahui tidak mengenakan helm dan mengalami cedera.
Petugas yang dinilai melakukan pelanggaran disiplin dalam kejadian tersebut, kemudian dikeluarkan dari tugas.
"Karena melanggar disiplin, terus kita lakukan evaluasi," ujarnya.
Restu menegaskan insiden di Dekoro bukan disebabkan kekurangan personel.
Dishub Kota Pekalongan telah menyiapkan 32 petugas khusus penjaga perlintasan ditambah seorang koordinator.
Para petugas ditempatkan di sejumlah perlintasan yang menjadi tanggung jawab Dishub.
Masing-masing pos memiliki delapan petugas yang dibagi dalam sistem shift.
Dalam satu waktu, dua petugas seharusnya berjaga.
"Kalau SOP kami, tidak berani memberikan satu orang. Pasti dua orang semuanya," katanya.
Menurut Restu, para petugas juga telah dibekali kompetensi penjagaan perlintasan kereta api. Sebagian telah memiliki sertifikat, sementara beberapa lainnya masih mengikuti pelatihan.
Selain persoalan kedisiplinan petugas, Dishub Kota Pekalongan juga menyoroti sistem koordinasi informasi kedatangan kereta. Saat ini, petugas masih banyak mengandalkan radio komunikasi atau handy talky (HT).
Restu mengatakan, petugas Dishub belum memiliki sistem sinyal khusus dari pihak operator kereta api untuk mengetahui kedatangan kereta secara langsung. Informasi biasanya diteruskan melalui HT dari petugas perlintasan atau petugas di titik terdekat.
"Kita hanya mengandalkan HT. Dari HT dari PJL terdekat," ujarnya.
Menurut dia, kondisi tersebut perlu mendapat perhatian karena keselamatan di perlintasan sangat bergantung pada ketepatan informasi mengenai kedatangan kereta.
Dishub Kota Pekalongan telah menyampaikan persoalan tersebut kepada Dinas Perhubungan Provinsi Jawa Tengah agar dapat dikoordinasikan dengan pihak terkait.
Restu bahkan berharap, pengelolaan petugas penjaga perlintasan ke depan dapat berada di bawah operator perkeretaapian sehingga sistem keselamatan dan informasi kedatangan kereta lebih terintegrasi.
"Harapan saya, kalau bisa petugas itu diberikan ke kereta api semua saja, biar aman," katanya.
Restu juga menyinggung, kesejahteraan petugas penjaga perlintasan.
Ia menyebut penghasilan petugas berkisar Rp2,1 juta hingga Rp2,2 juta per bulan setelah berbagai potongan.
Jumlah tersebut disebut masih berada di bawah upah minimum regional (UMR).
Namun, Restu menegaskan kondisi tersebut tidak dapat menjadi alasan untuk mengabaikan SOP.
"Sistem dua petugas dalam satu shift telah dirancang agar penjagaan tetap berjalan, dan salah satu petugas dapat beristirahat tanpa meninggalkan pos dalam kondisi kosong.
"Kalau petugasnya disiplin, tidak melanggar aturan, insyaallah aman," katanya.
Baca juga: Detik-detik Pemotor Bonceng Bocah SD Terobos Palang Pintu Kereta di Semarang, Sudah Diteriaki Warga
Dishub memastikan evaluasi internal dilakukan untuk mengetahui penyebab pasti palang tetap terbuka ketika kereta mendekat.
Pemeriksaan akan dilakukan, untuk memastikan apakah kejadian tersebut murni akibat kelalaian, kelelahan, atau terdapat persoalan lain yang melatarbelakanginya.
"Namanya orang kadang punya masalah-masalah yang barangkali belum diselesaikan. Makanya, kita akan panggil mereka," pungkas Restu. (Dro)