BMKG Natuna Ungkap Penyebab Kabut Asap Serasan Masih Pekat, Hujan Diprediksi Masih Minim
Eko Setiawan August 31, 2026 09:41 PM

TRIBUNBATAM.id, NATUNA - Kabut asap kiriman yang menyelimuti sejumlah wilayah Kabupaten Natuna, Provinsi Kepulauan Riau (Kepri), diperkirakan masih akan menjadi persoalan dalam beberapa waktu ke depan.

Kondisi ini terjadi di tengah minimnya pertumbuhan awan hujan di wilayah Natuna, sehingga hujan yang dapat membantu mengurangi konsentrasi kabut asap belum banyak terjadi.

Kabut asap itu diketahui kirimkan dari wilayah Kalimantan yang tengah dilanda Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla).

Prakirawan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Natuna, Asrul, mengatakan kondisi cuaca Natuna saat ini hingga sekitar satu minggu ke depan cenderung cerah berawan.

Menurutnya, berdasarkan analisis kondisi atmosfer dan data global, wilayah Natuna masih dipengaruhi fenomena El Nino yang cukup kuat.

"Untuk wilayah Natuna sendiri, kondisi cuaca cenderung masih cerah berawan untuk perkiraan dalam satu pekan ke depan," kata Asrul saat ditemui tribunbatam.id Senin (31/8/2026).

Minimnya pertumbuhan awan juga diperkirakan terjadi dalam waktu dekat.

Asrul mengatakan, dalam sepekan terakhir pertumbuhan awan di wilayah Natuna relatif berkurang.

Meski demikian, peluang hujan lokal masih tetap ada. Hujan tersebut diperkirakan bersifat lokal dengan durasi yang relatif singkat.

"Untuk satu minggu ini memang sedikit berkurang terjadi pertumbuhan awan di wilayah Natuna. Tapi masih mempunyai kemungkinan terjadi hujan-hujan lokal di wilayah Natuna dengan durasi singkat," jelasnya.

Kondisi tersebut menjadi salah satu faktor yang membuat kabut asap kiriman masih bertahan di sejumlah wilayah Natuna.

Asrul menjelaskan, pergerakan kabut asap masih sangat dipengaruhi pola angin dari wilayah selatan, khususnya Kalimantan yang hingga kini masih mengalami kebakaran hutan dan lahan.

"Untuk kondisi asap ini sebenarnya kita masih benar-benar dipengaruhi oleh adanya pergerakan dari pola angin dari wilayah selatan, yaitu wilayah Kalimantan. Di sana kondisi asap masih tebal dan pengaruhnya ke wilayah Natuna," ungkapnya.

Namun, kondisi kabut asap di wilayah Bunguran Besar atau Ranai dan Sekitarnya saat ini relatif lebih berkurang dibandingkan wilayah kepulauan di bagian selatan Natuna.

Sebaliknya, kabut asap masih cukup tinggi di pulau Serasan dan juga Subi.

Hal tersebut dipengaruhi pola belokan angin dari selatan yang masih membawa dampak terhadap wilayah tersebut.

"Kenapa di wilayah Bunguran agak sedikit baik, sedangkan di wilayah Serasan dan Subi itu cukup tinggi kabutnya, dikarenakan pola belokan angin dari selatan itu masih terdampak di wilayah Serasan dan Subi," katanya.

Asrul menjelaskan, berdasarkan analisis pola angin di lapisan atas atmosfer, pergerakan angin saat ini berasal dari arah barat laut hingga barat.

Kondisi tersebut membuat pergeseran kabut asap bergerak ke wilayah timur Natuna dan kemudian memengaruhi kawasan Pulau Serasan dan Pulau Subi.

Meski secara umum Natuna masih didominasi kondisi cerah berawan, BMKG melihat adanya peluang hujan lokal di sejumlah wilayah kepulauan.

Asrul mengatakan potensi tersebut salah satunya diperkirakan muncul sekitar 3 dan 4 September 2026.

Namun, hujan yang terjadi diperkirakan masih bersifat lokal sehingga belum dapat dipastikan mampu membersihkan kabut asap secara menyeluruh.

"Secara umum wilayah Natuna masih kondisi terang berawan. Tapi ada potensi-potensi hujan lokal di tanggal 3 dan 4, terutama di wilayah pulau Bunguran dan tak menutup kemungkinan juga pulau Serasan," Terangnya.

Sementara untuk Serasan dan Subi, perkembangan kondisi cuaca tetap akan sangat bergantung pada pola angin dan pertumbuhan awan hujan dalam beberapa hari ke depan.

Kondisi kabut asap ini juga telah berdampak langsung terhadap kualitas udara di wilayah Serasan Timur.

Sebelumnya, Camat Serasan Timu Erwandi menjelaskan, berdasarkan hasil pengukuran UPTD Puskesmas Serasan Timur pada Senin (31/8/2026) menggunakan Particle Counter (DAZ-400), konsentrasi PM2.5 mencapai 142 mikrogram per meter kubik.

Angka tersebut masuk kategori tidak sehat.

Lebih mengkhawatirkan, konsentrasi PM10 mencapai 469 mikrogram per meter kubik atau masuk kategori berbahaya.

Dampak terhadap kesehatan masyarakat pun mulai menjadi perhatian.

"Untuk kasus ISPA saat ini sudah ada 44 kasus selama periode 16 sampai 29 Agustus 2026. Sebanyak 34 kasus tercatat pada pekan sebelumnya dan 10 kasus pada pekan terakhir," Ujar Erwandi.

Kondisi kabut asap dan kualitas udara yang memburuk tersebut turut menjadi dasar Pemerintah Kabupaten Natuna menerapkan Belajar dari Rumah (BDR) bagi siswa di Serasan dan Serasan Timur.

Kebijakan BDR mulai diberlakukan Senin (31/8/2026) dan sementara dijadwalkan hingga 5 September 2026, dengan kemungkinan diperpanjang apabila kualitas udara masih buruk. (Tribunbatam.id/birrifikrudin).

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.