Warga Sumsel Bisa Gabung Satgas Karhutla, Dapat Uang Semangat Rp150 Ribu per Hari, Babel?
M Zulkodri August 31, 2026 08:03 PM

 

BANGKAPOS.COM--Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan membuka ruang bagi masyarakat untuk terlibat langsung dalam penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Warga yang bergabung dalam satuan tugas (satgas) darat akan mendapatkan uang semangat sebesar Rp150.000 per hari.

Kesempatan tersebut disampaikan Gubernur Sumatera Selatan Herman Deru di Palembang, Senin (31/8/2026).

Ia mengatakan masyarakat yang berminat dapat mendaftarkan diri untuk kemudian diakomodasi dan dilibatkan dalam upaya penanganan karhutla di lapangan.

Menurut Herman Deru, keterlibatan masyarakat menjadi bagian penting dalam memperkuat kekuatan satgas darat.

Pasukan di darat memiliki peran besar dalam menangani kebakaran yang terjadi di sejumlah wilayah.

“Untuk satgas darat ini boleh mendaftar sebagai pasukan. Itu ada uang semangatnya sebesar Rp150 ribu,” kata Herman Deru.

Masyarakat Bisa Terlibat dalam Penanganan Karhutla

Herman Deru menegaskan, penanganan karhutla tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah dan aparat.

Masyarakat juga dapat mengambil bagian sesuai kemampuan masing-masing.

Bagi warga yang ingin terlibat langsung di lapangan, pemerintah akan mengakomodasi pendaftaran untuk kemudian ditempatkan dalam kegiatan satgas darat.

Namun, kontribusi masyarakat tidak selalu harus dilakukan dengan ikut memadamkan api.

Edukasi dan pencegahan juga dinilai memiliki peran penting dalam menekan potensi terjadinya karhutla.

Masyarakat, organisasi, hingga kalangan media dapat berkontribusi melalui kegiatan promotif untuk meningkatkan kesadaran mengenai bahaya dan dampak pembakaran lahan.

“Kalau masyarakat mau daftar saja nanti diakomodir termasuk teman-teman pers ini, bisa cuti dulu untuk membantu secara langsung minimal dalam aspek promotifnya,” ujar Herman.

11 Hotspot Terdeteksi di Sumatera Selatan

Di tengah upaya memperkuat penanganan karhutla, Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Letjen TNI Suharyanto mengungkapkan masih terdapat 11 titik api atau hotspot di Sumatera Selatan.

Pemerintah pun memperkuat operasi penanganan melalui satgas darat dan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC).

Suharyanto menjelaskan, strategi pemadaman dilakukan menggunakan kombinasi penanganan dari udara dan darat.

Sekitar 2,5 hektare lahan telah ditangani menggunakan metode water bombing, sedangkan 12,5 hektare lainnya ditangani oleh pasukan satgas darat.

Kondisi tersebut menunjukkan pentingnya kekuatan personel di lapangan dalam mengendalikan kebakaran, terutama ketika api berada di area yang membutuhkan penanganan langsung.

“Artinya memang satgas darat ini menjadi kekuatan utama memadamkan kebakaran hutan dan lahan,” kata Suharyanto.

Satgas Darat Jadi Garda Depan

Penguatan satgas darat menjadi salah satu strategi pemerintah untuk mempercepat penanganan karhutla di Sumatera Selatan.

Dengan membuka kesempatan kepada masyarakat untuk bergabung, pemerintah berharap jumlah personel yang dapat dikerahkan ke lokasi kebakaran semakin kuat.

Selain pemadaman, upaya pencegahan juga menjadi kunci. Edukasi kepada masyarakat mengenai risiko pembakaran lahan diharapkan dapat menekan munculnya titik api baru.

Pemerintah mengajak masyarakat tidak hanya menjadi pihak yang menerima dampak karhutla, tetapi turut mengambil peran dalam mencegah dan menangani bencana tersebut.

Langkah tersebut menjadi semakin penting mengingat karhutla dapat menimbulkan dampak luas, mulai dari gangguan kualitas udara hingga ancaman terhadap lingkungan dan aktivitas masyarakat.

34 Titik Panas di Babel

Sebanyak 34 titik panas atau hotspot terdeteksi di sejumlah wilayah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung selama periode 1 hingga 11 Agustus 2026.

Kemunculan puluhan titik panas tersebut menjadi perhatian Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Babel, terutama di tengah kondisi musim kemarau yang masih berlangsung.

Plt Kepala Harian BPBD Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Agus Afandi, mengatakan seluruh titik panas yang terpantau masih berada dalam kategori rendah hingga sedang.

Sebagian besar hotspot ditemukan di wilayah Kabupaten Bangka Barat, termasuk Kecamatan Mentok dan Tempilang.

"Hotspot yang terpantau masih kategori rendah sampai sedang. Sebagian besar berada di wilayah Bangka Barat, seperti Mentok dan Tempilang," ujar Agus.

Meski belum berada pada tingkat mengkhawatirkan, BPBD tetap meminta masyarakat meningkatkan kewaspadaan.

Kondisi lahan yang lebih kering selama musim kemarau dapat membuat api lebih mudah menyebar apabila terjadi kebakaran.

Salah satu imbauan utama yang disampaikan BPBD adalah meminta masyarakat tidak membuka lahan dengan cara membakar.

Aktivitas pembakaran lahan, meskipun dilakukan dalam skala kecil, berpotensi berkembang menjadi kebakaran hutan dan lahan (karhutla), terutama ketika kondisi angin cukup kencang dan vegetasi dalam keadaan kering.

Warga Diminta Jaga Sumber Air

Selain ancaman karhutla, BPBD Babel juga mengingatkan masyarakat mengenai potensi kekeringan yang dapat terjadi selama musim kemarau.

Agus meminta warga menjaga sumber-sumber air dari berbagai aktivitas yang berpotensi mencemari kualitas air.

Hal tersebut dinilai penting karena kebutuhan masyarakat terhadap air bersih cenderung meningkat ketika curah hujan menurun.

BPBD Babel juga telah menyiapkan bantuan air bersih bagi masyarakat yang nantinya terdampak kekeringan.

Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya pemerintah daerah dalam mengantisipasi dampak musim kemarau terhadap kebutuhan dasar masyarakat.

Musim Kemarau Diperkirakan hingga September-Oktober

Berdasarkan informasi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), musim kemarau di wilayah Bangka Belitung diperkirakan masih berlangsung hingga September dan Oktober 2026.

Masyarakat juga diminta tidak langsung menganggap turunnya hujan di sejumlah wilayah sebagai tanda musim hujan telah tiba.

Hujan yang turun sesekali di tengah periode kemarau masih dapat terjadi dan belum otomatis menandakan berakhirnya musim kemarau.

Karena itu, kewaspadaan terhadap karhutla dan kekeringan tetap perlu dipertahankan.

BPBD Babel hingga kini terus melakukan pemantauan titik panas melalui Command Center. Pemantauan tersebut dilakukan untuk mendeteksi potensi kebakaran sedini mungkin sehingga penanganan dapat segera dilakukan apabila ditemukan indikasi karhutla.

Masyarakat pun diharapkan ikut berperan dengan melaporkan apabila menemukan asap atau aktivitas pembakaran lahan yang berpotensi menimbulkan kebakaran.

(Kompas.com/Bangkapos.com)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.