Alarm bagi Infrastruktur Banjarmasin
Hari Widodo September 01, 2026 05:44 AM

BANJARMASINPOST.CO.ID- Ambruknya Jembatan Sakaharang di Kelurahan Mantuil, Banjarmasin Selatan, yang menghubungkan dengan wilayah Kabupaten Banjar, pada Minggu (30/8/2026) siang, merupakan alarm keras bagi Pemko Banjarmasin.

Bila melihat dampaknya bahwa ribuan warga di 12 RT sempat terisolasi dan akses transportasi darat lumpuh, peristiwa ini bukan sekadar musibah transportasi biasa. Ini adalah sebuah peringatan nyata bagi tata kelola infrastruktur di Kota Seribu Sungai.

Banjarmasin secara geografis dibelah oleh ratusan sungai, yang membuat keberadaan jembatan menjadi urat nadi mobilitas warga. Hingga saat ini, masih banyak jembatan berbahan kayu ulin tua yang tersebar di wilayah pinggiran dan pemukiman padat.

Lihat saja di kawasan Kuin, Banjarmasin Utara, ada berapa jembatan kayu yang sudah berusia tua? Belum lagi di wilayah-wilayah pinggira lainnya.

Dan meski terbuat dari kayu ulin, harus disadari bahwa jembatan-jembatan kayu ini memiliki batas usia pakai dan kekuatan struktural yang terus menurun akibat cuaca dan beban harian.

Kejadian di Mantuil harus menjadi momentum bagi Pemko Banjarmasin untuk melakukan beberapa langkah, mulai dari audit total, berupa pemeriksaan kelaikan teknis menyeluruh terhadap semua jembatan kayu yang masih aktif.

Dari insiden ini, Dinas PUPR juga bisa menjadikan rehab fasilitas jembatan sebagai prioritas di tengah pemotongan anggaran.

Penggantian jembatan kayu ulin menjadi struktur beton atau besi yang lebih permanen, merupakan langkah nyata untuk mencegah peristiwa serupa terulang.

Selanjutnya, bila anggaran masih belum memungkinkan, jangan lupakan pemeliharaan rutin.  Jangan menunggu jembatan rusak atau patah baru dilakukan perbaikan.

Dari sisi ini, keterlibatan masyarakat juga diperlukan untuk ikut aktif memantau dan ikut memelihara, meski dalam taraf paling minimal. Paling tidak warga bisa menginformasikan apabila ada kondisi-kondisi khusus yang dinilai bisa membahayakan. 

Dan bagi pengguna jalan, ingat bahwa sekuat apapun jembatan ada batas kapasitas beban maksimal. Sebuah jembatan permukiman tak akan mampu dipaksa menahan beban truk bermuatan berat yang jelas-jelas melanggar peruntukannya. Dan di sini, kelengkapan seperti rambu batas maksimal tonase, atau bahkan mungkin portal, bisa saja dipasang.

Terakhir, respons cepat Pemko Banjarmasin mendirikan jembatan darurat Bailey patut diapresiasi, apalagi jalur ini cukup vital secara ekonomi. Namun, tindakan kuratif (mengobati) saja tidak cukup.

Banjarmasin membutuhkan langkah preventif (pencegahan) yang berani. Jangan tunggu ada korban jiwa atau jembatan lain yang ambruk untuk mulai peduli pada keselamatan infrastruktur kita. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.