TRIBUNNEWS.COM - Preeklamsia merupakan salah satu komplikasi kehamilan yang perlu diwaspadai oleh ibu hamil.
Kondisi ini ditandai dengan tekanan darah tinggi yang muncul selama kehamilan dan dapat menimbulkan risiko bagi kesehatan ibu maupun janin jika tidak ditangani dengan tepat.
Meski demikian, risiko preeklamsia bukan berarti tidak dapat ditekan.
Risiko preeklamsia dapat dicegah melalui sejumlah langkah.
Dokter Spesialis Kandungan dan Kebidanan (Obgyn) RSU Restu Ibu Sragen, dr. Bayu Winoto, Sp.OG., FICS., Int.Aff.RANZCOG, mengatakan pencegahan dapat dimulai sejak sebelum seseorang merencanakan kehamilan.
Pemeriksaan dan persiapan kesehatan sebelum hamil menjadi salah satu hal yang penting untuk diperhatikan oleh calon ibu.
Lantas, langkah apa saja yang dapat dilakukan untuk membantu mencegah preeklamsia sebelum dan selama kehamilan?
dr. Bayu menjelaskan, pencegahan preeklamsia dapat dilakukan bahkan sebelum kehamilan terjadi.
Salah satu langkah yang dapat dilakukan adalah menjaga berat badan tetap ideal.
Selain itu, calon ibu dianjurkan menerapkan pola makan sehat, mencukupi kebutuhan tidur, serta melakukan aktivitas olahraga secara cukup.
"Sebelum hamil tentunya dengan menjaga berat badan ideal, kemudian menjaga pola makan sehat, tidur yang cukup, aktivitas olahraga juga yang cukup,” ujar dr. Bayu dalam wawancara khusus di Kantor Tribunnews Solo, Colomadu, Karanganyar, Jawa Tengah, dikutip Selasa (1/9/2026).
Menurutnya, calon ibu juga sebaiknya melakukan konsultasi ke dokter kandungan sebelum hamil.
Konsultasi tersebut dapat membantu mengetahui kondisi kesehatan sekaligus mempersiapkan kehamilan dengan lebih baik.
Baca juga: Benarkah Sering Makan Manis dan Tepung Bikin Wanita Sulit Hamil? Ini Kata Dokter
Upaya pencegahan juga dapat dilakukan setelah kehamilan, terutama apabila ibu terdeteksi memiliki risiko preeklamsia.
dr. Bayu mengatakan, apabila kondisi tersebut terdeteksi pada usia kehamilan sekitar 12 hingga 16 minggu, dokter biasanya dapat memberikan preparat aspirin atau aspirin dosis rendah.
Pemberian aspirin dosis rendah tersebut, menurut dr. Bayu, telah terbukti dapat menurunkan risiko terjadinya preeklamsia pada ibu hamil yang sesuai indikasi.
Namun, penggunaan aspirin selama kehamilan perlu berdasarkan penilaian dan anjuran dokter.
Ibu hamil sebaiknya tidak mengonsumsi obat tersebut secara mandiri tanpa berkonsultasi terlebih dahulu dengan tenaga medis.
Selain aspirin dosis rendah, dr. Bayu juga menyebut pemberian preparat kalsium sebagai salah satu upaya yang dapat membantu menurunkan risiko preeklamsia.
Ia menjelaskan, sejumlah penelitian menunjukkan bahwa pemberian kalsium, termasuk kalsium karbonat, terbukti dapat menurunkan risiko preeklamsia.
Meski demikian, kebutuhan kalsium selama kehamilan perlu disesuaikan dengan kondisi masing-masing ibu.
Karena itu, konsultasi dengan dokter tetap penting untuk menentukan langkah pencegahan yang tepat.
Dengan melakukan pencegahan sejak sebelum hamil dan mendapatkan pemantauan selama kehamilan, risiko preeklamsia diharapkan dapat ditekan.
Pemeriksaan kehamilan secara rutin juga penting agar kondisi ibu dan janin dapat terus dipantau oleh tenaga kesehatan.
(Tribunnews.com/Nurkhasanah)