IDAM Marley menatap layar ponsel sembari mengangguk-angguk. Pandangan matanya menerawang. “Aku gak tahu ini kabar sedih ato gembira.”
Duduk di sebelahnya Marulam Disko dan Riki Rikardo. Agak jauh di sudut kedai, Jontra Polta menegak jamu pegel linu dengan telur bebek racikan Tante Sela. Namun yang merespon kalimat Idam justru Leman Dogol yang baru lama tiba.
“Kabar apa itu, Mak?”
“Messi pensiun.”
“Messi mana?”
“Messi Pardomuan Lubis. Ah! Payah! Kurang info Mamak! Lionel Messi, lah, siapa lagi?” ucap Idam dengan nada bicara agak tinggi.
“Pensiun main bola?”
“Bukan. Pensiun dari tim nasional Argentina.”
“O, kalok itu, gak bisa, lah, dibilang kabar buruk, Mak. Mungkin untuk orang Argentina buruk, cumak, ya, tetap gak buruk-buruk kali.”
“Iya, Mak. Kalok aku malah liatnya jadi kabar baik,” sahut Riki Rikardo, yang segera disergah Idam.
“Ente, kan, penggemar SiArSeven. Penggemar Ronaldo. Kalok ente bilang kabar baik, ya, gak heran awak. Udah memang hukum alamnya itu.”
Riki menggeleng. “Bukan gitu, Mak. Cak, lah, Mamak pikir. Messi itu, kan, udah dapat semua. Pernah juara dunia, juara liga cempiyon, juara kopa amerika. Balon diyor udah entah berapa kali. Belom lagi juara-jara liga. Udah lengkap kali, lah, pokoknya. Apa lagi yang dia carik? Jadi memang udah pas, kali lah, dia pensiun, pas lagi di atas. Belum sampek jatuh.”
Marulam Disko itu menyeletuk. “Maunya kabar-kabar kek gini, lah, yang harus sering-sering kita dengar. Biar stabil gula darah. Gak naek asam lambung. Ini enggak. Tiap ari yang masuk tivi, masuk koran, yang lewat di EfYePe, kabar lucu-lucuan terus. Lucu tapi gak lucu, bikin geram. Bikin emosi. Kimbek kali!”
Kalimat Marulam memancing tawa pecah di kedai Tok Awang. Tanpa menyebut nama, Idam, Riki, dan Leman tahu ke mana arah bicara Marulam, lantas mulai menurutkan ulang kelucuan-kelucuan itu.
“Terakhir blio keknya mulai panas teros-terosan disoroti soal kabinetnya yang gemuk kek badannya itu,” ucap Leman. “Di acara En-U kemarin kalok tak silap awak, dijawabnya, dan dari kalimatnya, kelihatannya memang gak tetap terima jugak dia bilang gemuk. Dibilangnya kabinet dia yang seratus menteri lebih itu memang kebutuhan.”
“Oh, iya, kebutuhan koalisi,” kata Riki Rikardo menimpali. “Untuk mengakomodir parte-parte yang dukung dia di pemilu kemaren. Jugak mungkin mengakomodir bohir-bohirnya. Supaya bisa balek modal.”
“Betul, tapi tau yang lucu? Kek biasa, dia tros ngebanding-bandingin, dan yang jadi bandingan itu Timor Leste. Kan, gak apple to apple ya.”
“Bah! Iya, lah. Mestinya, kan, ke China ato India yang sama-sama besar. Ato sekalian ke Rusia dan Amerika. Luas wilayah kita sama negara-negara ini boleh dikata imbang-imbang, jumlah penduduk jugak beti, bedanya gak jauh-jauh kali.”
“Sama negara-negara itu cemana rupanya, Ki? Mana lebih banyak menterinya?” tanya Jontra Polta. Setelah menegak larutan manis penawar rasa pahit jamu, dia melipir ke meja Marulam Disko dan Riki Rikardo
“Tetap lebih banyak kita, Abangku. Sama Amerika dan Rusia jauh. Yang agak dekat India, menteri dan ikut staf-staf menterinya, ada tujuh puluh orang.”
“Alah, memang udah rusak luar-dalam kita ini. Udah gak ada harapan lagi,” ujar Marulam menimpali.
Leman Dogol menghempas napas. “Jadi cemana, Ketua? Sampek 2029 mo kek gini-gini aja kita? Pasrah aja kita?”
“Mo cemana lagi. Kalok berharap belio sadar keknya gak mungkin. Sampek sekarang belio gak ada ngerasa salah. Dia pikir kerjanya udah yang paling paten. Paling keren. Bangga dibilangnya itu ke mana-mana, padahal kripak peak macam muntah kucing. Nah! Kalok pun ada yang begerak, jadi rusuh, misalnya, takotnya malah jadi makin ancor-ancoran.”
“Tros cemana? Pasrah?”
Marulam menggeleng, berdehem pendek, lalu membetulkan letak duduknya. “Bukan pasrah, cumak harus jadi pelajaran. Tahun 2029, kalok kelen masih rajin ikot nyoblos, jangan lagi pilih pemimpin yang kek belio.”
“Berarti jangan lagi pilih belio maksud ketua?”
“Mesti kujelaskan lagi? Alamak! Yang kek belio aja jangan, kok, konon pulak belionya. Mo kek gini lagi rupanya kelen sampek lima taon lagi? Gak tobat kelen?” ujar Marulam ikuti tawa berderai. Leman ikut tertawa. Pun Riki Rikardo dan Marulam Disko. Namun dari Jontra Polta melejit pertanyaan.
“Caranya cemana, Ketua? Maksudku, ada kriteria-kriterianya nggak?”
“Kau pernah dengar cerita Ketua Ucok Morning waktu masuk penjara?” Marulam balik bertanya.
“Yang mana satu, Ketua? Muda-mudanya dulu bolak-balik ketua tu sekolah.” Jontra Polta tertawa. Hampir bersamaan, yang lain juga tergelak.
“Udah agak lama, memang, lima belas dua puluh taon lalu kalok tak silap.”
“Oh...”
Marulam bercerita perihal hari pertama Ucok Morning di bui. Kala itu, dia ditangkap karena terlibat kerusuhan antaranggota organisasi kepemudaan dalam perebutan lapak parkir di tempat hiburan malam. Saat itu, para penghuni sel yang kebetulan muslim, tengah memilih siapa yang bakal menjadi imam salat.
Ada tiga kandidat yang masuk putaran final. Ketiganya narapidana dengan kasus yang berbeda-beda, yakni kasus korupsi, narkotika, dan pencurian. Tadinya Ucok Morning juga masuk sebagai kandidat, tapi dia langsung menolak. Ucok berkilah, bacaaannya tidak bagus, Arabnya tidak fasih.
“Akhirnya, kerna gak nemu kata sepakat, semua kandidat itu gugur.”
“Kenapa gitu, Ketua?”
“Menurut Ketua Ucok, kandidat kasus korupsi gak pantas jadi imam, kerna, ya, dia koruptor. Maling uang rakyat. Menyengsarakan rakyat. Kasus narkotika juga ditolak. Dia pengedar ganja dan pil anjing, ekstasi jugak. Menyengsarakan rakyat jugak. Perusak generasi muda. Berat dosanya. Macam mana orang yang banyak dosa jadi imam salat? Kan, gak betul.”
“Kandidat ketiga?”
“Setelah dua kandidat gugur, dia sebenarnya jadi calon kuat. Apalagi, dia pernah jadi marbot masjid.”
“Pas, lah, kalok gitu, Ketua,” sahut Riki Rikardo. “Pasti lumayan bagus itu bacaannya, tapi kenapa gugur jugak?”
“Waktu jadi marbot itu digilakkan kotak amal masjid. Bukan sekali dua kali, tapi sampek tiga kali. Jadi dosanya dianggap gak kalah besar. Malah mungkin lebih besar. Ngerti agama, kok, maling. Di masjid pulak malingnya.”
“Oalah! Jadi cemana? Akhirnya siapa yang kepilih?”
“Ada narapidana lain. Orang baru. Hampir sama masuknya sama Ketua Ucok dan kasusnya belum putus. Masih disidangkan. Kasus nebar paku di jalan. Bacaan dia, kata Ketua Ucok, sebenarnya standar aja, tapi dosanya memang dianggap yang paling ringan. Apalagi sebelum diamankan ke kantor polisi, dia sempat dihakimi massa. Ketangkul dia sama warga waktu sedang nebar paku, tros dipukuli sampek babak belur.”
Tawa meledak meletup di Kedai Tok Awang, dan baru berhenti setelah Tante Sela, yang sedari tadi diam menunggu pembeli di sudut kedai, angkat bicara.
“Jadi siapa, lah, kira-kira yang dosanya paling ringan untuk 2029?”
Dari balik steling, Ocik Nensi menyeletuk. “Aldi Taher, lah! Belio orang paling istikomah. Seperti burger, semua jabatan jugak milik Allah.”
(t agus khaidir)