Jakarta (ANTARA) - PT Perkebunan Nusantara (PTPN) IV PalmCo memulai proyek percontohan penanaman kedelai seluas 1.000 hektare pada areal peremajaan tanaman sawit sebagai bagian dari upaya meningkatkan produksi kedelai nasional.

Direktur Utama PTPN IV PalmCo Jatmiko K Santosa mengatakan proyek tersebut merupakan tindak lanjut penugasan pemerintah dalam mendukung penguatan ketahanan pangan, khususnya komoditas kedelai.

Alhamdulillah, PTPN IV telah melaksanakan tanam perdana proyek percontohan kedelai. Ini merupakan tindak lanjut kita atas arahan Bapak Presiden melalui Bapak Menteri Pertanian untuk meningkatkan produksi nasional dan menekan impor kedelai,” kata Jatmiko dalam keterangan resmi yang diterima di Jakarta, Selasa.

Penanaman perdana dilaksanakan pada Jumat (28/8) dan dipusatkan di Kebun Adolina Regional II PTPN IV PalmCo, Kabupaten Serdang Bedagai, Sumatera Utara, serta terhubung secara daring dengan kegiatan serupa di sejumlah wilayah kerja perusahaan.

Pada tahap awal, perusahaan menargetkan areal seluas 1.000 hektare yang seluruhnya berada di kawasan peremajaan tanaman sawit milik perusahaan.

“Kita optimalisasikan areal peremajaan ataupun konversi sawit. Sehingga kurang lebih selama enam bulan sebelum sawit kembali ditanam, kita akan menanam kedelai terlebih dahulu,” ujar Jatmiko.

Ia mengatakan hasil proyek percontohan tersebut akan menjadi pertimbangan sebelum pengembangan kedelai diperluas ke areal yang lebih besar dengan tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian investasi.

“Karena kita belum pernah tanam kedelai sebelumnya, kita siapkan pilot project 1.000 hektare dulu. Dan sesuai arahan Danantara, jika ini berhasil serta memperlihatkan kelayakan di berbagai aspek, insya Allah akan dilanjutkan dengan luasan yang lebih masif sehingga harapan pemerintah untuk meningkatkan produksi dan menekan impor kedelai tadi, dapat diwujudkan,” ucapnya.

Perusahaan menyebut Indonesia dalam lima tahun terakhir mengalami defisit kedelai rata-rata sekitar 2,5 juta ton per tahun sehingga peningkatan produksi dalam negeri dinilai penting untuk mengurangi ketergantungan pada impor.

Perwakilan Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Kementerian Pertanian Arif Muliawan mengapresiasi pelaksanaan proyek percontohan tersebut dan berharap langkah serupa dapat dikembangkan oleh pelaku usaha lainnya.

“Kami memberikan apresiasi kepada PTPN yang terus menunjukkan komitmennya dalam menjalankan berbagai program swasembada pangan nasional. Semoga proyek ini berhasil dan dapat menjadi contoh bagi perusahaan lain yang ada di Indonesia,” kata Arif.

Sementara itu, Direktur Produksi dan Pengembangan PTPN III (Persero) Rizal H Damanik menilai pengembangan kedelai dalam skala lebih besar membutuhkan sinergi antara pemerintah, perusahaan, kelompok tani, dan mitra strategis.

Menurut dia, kepastian penyerapan hasil produksi oleh offtaker juga menjadi salah satu unsur yang diperlukan apabila pengembangan kedelai tersebut diperluas.

PTPN IV PalmCo menyebut varietas Grobogan digunakan dalam pengembangan kedelai tersebut dengan potensi produksi hingga dua ton per hektare dan siklus sekitar 85–90 hari.

Perusahaan menyatakan keberhasilan dan kelayakan proyek percontohan tersebut akan menjadi pertimbangan untuk pengembangan kedelai secara lebih luas dan berkelanjutan.