TRIBUNNEWSSULTRA.COM, KENDARI - Kondisi Kapal Legenda Nusantara usai terbakar di perairan antara Pulau Selayar dan Pulau Kabaena, Kabupaten Bombana, Sulawesi Tenggara (Sultra), Selasa (1/9/2026).
Kapal kargo yang bertolak dari Pelabuhan Tanjung Priok Jakarta ini rencananya akan melakukan perjalanan ke Morowali, Sulawesi Tengah (Sulteng).
Sahriar (42) yang menahkodai kapal membawa 12 kru dengan muatan chemical dan alat berat.
Namun, setibanya di perairan antara Pulau Selayar dan Pulau Kabaena, kapal kemudian terbakar.
Insiden kebakaran Kapal Legenda Nusantara tersebut dipicu oleh bocornya cairan chemical.
Baca juga: Penyebab Meninggalnya 2 Kru Kapal Legenda Nusantara Diduga Paparan Asap, 1 Kritis di RSUD Muna
Dari 13 orang yang berada di atas kapal, 10 orang selamat, 1 kritis, dan 2 lainnya meninggal dunia.
Saat ini, mereka sedang berada di RSUD dr LM Baharuddin, Jalan Ahmad Yani No 10, Kelurahan Raha I, Kecamatan Katobu, Kabupaten Muna.
Kabupaten ini berada di Pulau Muna sekira 3-4 jam dari Kendari, ibu kota Provinsi Sultra yang terletak di daratan Pulau Sulawesi.
Kapal Legenda Nusantara 699 adalah kapal kargo dek yang dibuat pada tahun 2019 dan berlayar di bawah bendera Indonesia.
Kapal memiliki panjang keseluruhan (LOA) 78 meter dan lebar (beam) 17 meter, dengan kapasitas bobot mati musim panasnya adalah 2.182 ton.
Baca juga: Mengenal Perairan Kabaena Bombana Lokasi Terbakarnya Kapal Legenda Nusantara Rute Jakarta-Morowali
Data Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan Tanjung Priok sebelum terbakar di perairan antara Pulau Selayar dan Pulau Kabaena.
Kapal ini terlebih dahulu berlayar dari Teluk Melano Kalimantan Barat menuju Pelabuhan Tanjung Priok Jakarta.
Kemudian pada 21 Agustus 2026, KSOP Tanjung Priok memberikan pengesahan awak kapal dengan perusahaan PT Sinergi Armada Maritim, dengan catatan keberangkatan pukul 17.00 Wita.
Sementara itu, Kapolres Muna, AKBP Indra Sandy Purnama, mengatakan setelah terbakar kondisi kapal beserta muatan sudah tenggelam.
"Posisi terakhir kapal dalam kondisi terbalik dan masih mengapung di perairan Selat Tiworo," katanya, Selasa malam.
Saat ini, pihaknya terus berkomunikasi dengan Basarnas Kendari, pihak kapal dan instansi terkait mengenai monitoring terhadap kebakaran kapal.
Termasuk mengantisipasi gangguan keselamatan pelayaran maupun kemungkinan dampak pencemaran muatan yang dibawa oleh kapal. (*)
(TribunnewsSultra.com/Sugi Hartono)