Penyebab 512 Santri Diduga Keracunan MBG Diselidiki, SPPG Kalitengah Sidoarjo Disuspend
Titis Jati Permata September 02, 2026 12:32 PM

 

SURYA.co.id, SURABAYA – Sebanyak 512 orang dari 19 lembaga di Kabupaten Sidoarjo dilaporkan mengalami dugaan keracunan setelah mengonsumsi Makan Bergizi Gratis (MBG) yang berasal dari dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Kalitengah, Kecamatan Tanggulangin.

Besarnya jumlah korban membuat operasional SPPG Kalitengah dihentikan sementara.

Pemerintah Provinsi Jawa Timur kini meminta seluruh pihak terkait menelusuri penyebab kejadian tersebut, termasuk memastikan kondisi penerima MBG di sejumlah lembaga lain.

512 Orang dari 19 Lembaga Terdampak

Wakil Gubernur Jawa Timur sekaligus Ketua Satgas MBG Jatim, Emil Elestianto Dardak, mengatakan jumlah tersebut merupakan data terbaru yang diterima hingga Rabu (2/9/2026) pagi.

“Per pagi ini tercatat ada 512 pasien yang terlapor dilarikan ke RS. Pasien tidak hanya dari Ponpes Manbaul Hikam. Ada 19 lembaga yang sama-sama menerima dari SPPG Kalitengah, Kecamatan Tanggulangin, Sidoarjo,” kata Emil saat dikonfirmasi SURYA.co.id, Rabu (2/9/2026).

Baca juga: 512 Santri Keracunan di Sidoarjo, Wagub Emil Dardak : Tak Hanya Ponpes Mambaul Hikam

Data tersebut menunjukkan dugaan keracunan tidak hanya dialami santri Pondok Pesantren Manbaul Hikam di Desa Putat, Kecamatan Tanggulangin.

Sejumlah lembaga lain yang menerima makanan dari dapur SPPG yang sama juga melaporkan adanya penerima MBG yang mengalami keluhan hingga membutuhkan perawatan di rumah sakit.

Penyebab Keracunan Belum Bisa Dipastikan

Emil meminta agar munculnya gejala setelah mengonsumsi MBG tidak langsung dikaitkan dengan satu jenis makanan dalam paket menu.

Sebelumnya, sempat muncul dugaan sayuran menjadi salah satu makanan yang menyebabkan keluhan.

Namun, menurut Emil, dugaan tersebut belum cukup untuk menentukan sumber masalah.

“Ada yang nyebut sayuran tapi ada juga yang nggak nyentuh sayurnya, tapi juga mengalami masalah keracunan makanan,” ujarnya.

Kondisi tersebut, kata Emil, justru menunjukkan perlunya pemeriksaan lebih menyeluruh. Makanan dalam program MBG dikemas dalam satu paket sehingga kemungkinan penyebabnya tidak dapat ditentukan hanya berdasarkan makanan yang dikonsumsi masing-masing korban.

“Jadi nggak bisa langsung disimpulkan, oh karena yang nggak makan sayur juga kena, atau sayurnya yang masalah, nggak segampang itu,” tegasnya.

Bahan hingga Distribusi Akan Ditelusuri

Emil menyebut investigasi penyebab kejadian tersebut menjadi kewenangan Badan Gizi Nasional (BGN) bersama tim terkait.

Pemeriksaan nantinya dapat mencakup bahan makanan yang digunakan, proses pengolahan, penyimpanan hingga distribusi makanan kepada penerima MBG.

“Ini yang ditelusuri dan ini menjadi kompetensi dari BGN. Termasuk jika dibutuhkan cek laboratorium atau penyelidikan lebih lanjut,” jelas Emil.

Hasil pemeriksaan diperlukan untuk memastikan titik persoalan sebelum pemerintah mengambil langkah lanjutan terkait penyediaan MBG dari SPPG tersebut.

SPPG Kalitengah Disetop Sementara
Sebagai langkah awal, operasional dapur SPPG Kalitengah dihentikan sementara atau disuspend.

“Untuk dapur yang menyediakan menu MBG yaitu di SPPG Kalitengah jelas dapur itu di-suspend dulu,” kata Emil.

Penghentian sementara dilakukan di tengah proses penelusuran sumber dugaan keracunan yang berdampak terhadap penerima MBG dari 19 lembaga.

Siswa Absen Akan Dijangkau Petugas

Pemerintah juga mengantisipasi adanya penerima MBG yang mengalami gejala tetapi belum mendapatkan penanganan medis.

Dinas Pendidikan Jawa Timur telah diinstruksikan mengecek absensi siswa di seluruh lembaga yang pada Selasa (1/9/2026) menerima MBG dari SPPG Kalitengah.

Jika ditemukan siswa yang tidak masuk sekolah, Dinas Kesehatan melalui puskesmas diminta melakukan penjangkauan langsung.

Langkah tersebut diperlukan untuk mengantisipasi siswa yang mengalami gejala tetapi hanya menjalani perawatan secara mandiri di rumah.

“Jika ada yang absen, Dinkes melalui Puskesmas kami minta agar jemput bola, khawatirnya kalau oleh orang tua ditangani secara mandiri dan tidak diberikan penanganan medis, jadi dijangkau agar dapat pelayanan medis segera,” pungkas Emil.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.