OMC di Lampung Resmi Berakhir, BPBD Minta Masyarakat Waspadai El Nino
Reny Fitriani September 02, 2026 01:19 PM

Tribunlampung.co.id, Bandar Lampung - Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) di Provinsi Lampung resmi berakhir pada Rabu (2/9/2026).

Baca Juga: OMC Berhasil Turunkan Hujan di Lampung Timur, Karhutla di TNWK Dinyatakan Padam Total

Pelaksanaan OMC sebelumnya dijadwalkan hanya sampai 30 Agustus 2026. 

Namun, operasi tersebut diperpanjang selama tiga hari, yakni 31 Agustus, 1 September, dan 2 September 2026.

Analisis Bencana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Lampung, Wahyu Hidayat, mengatakan hingga hari terakhir pelaksanaan OMC telah dilakukan 10 kali penerbangan atau sorti.

"Secara total sudah dilakukan sembilan kali sorti atau sembilan kali penerbangan. Ini barusan saja pukul: 11.15 WIB dilakukan sorti yang ke-10," kata Wahyu, saat dikonfirmasi, Rabu (2/9/2026) siang.

Sorti ke-10 dilakukan di wilayah Lampung Selatan, tepatnya di sekitar Rajabasa, Penengahan, Kalianda, dan Palas.

Menurut Wahyu, operasi tersebut menyasar awan yang dinilai memiliki potensi untuk menghasilkan hujan.

Sementara terkait kondisi debit air di sejumlah bendungan, Wahyu mengatakan pelaksanaan OMC tidak memberikan pengaruh secara langsung.

Sebab, dari sembilan sorti sebelumnya, tidak ada penerbangan yang dilakukan tepat di atas wilayah bendungan.

"Debit air di bendungan sepertinya enggak terpengaruh secara langsung ya, karena memang dari sembilan sorti yang sudah dilakukan tidak ada yang pas berada di atas bendungan kita," ujarnya.

Beberapa bendungan yang dimaksud di antaranya Bendungan Batu Tegi, Margatiga, dan Way Sekampung.

Wahyu menyebut, setelah OMC berakhir, BPBD akan kembali mengandalkan langkah mitigasi untuk menghadapi kondisi hidrometeorologi kering yang masih berlangsung di Lampung.

Berdasarkan pantauan radar, kata dia, pembentukan awan di atas wilayah Lampung saat ini relatif sedikit.

"Pas setelah OMC berakhir, kalau berdasarkan pantauan radar memang awan yang terbentuk di atas Lampung sedikit banget. Jadi kita masih akan menjalani fase hidrometeorologi kering ini, El Nino ini," jelasnya.

Karena itu, masyarakat diminta bersama-sama melakukan mitigasi untuk mengurangi potensi bencana, terutama kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta dampak kekeringan lainnya.

Wahyu mengatakan pelaksanaan OMC selama ini dinilai cukup efektif dalam menurunkan hujan di sejumlah wilayah yang menjadi sasaran.

Sebelum pelaksanaan OMC, tim darat juga disiapkan untuk melakukan pemantauan dan mendokumentasikan hujan yang turun sebagai bagian dari evaluasi kegiatan.

"OMC cukup efektif ya menurunkannya hujan. Kita juga sebelum melakukan OMC, kita siapkan tim darat untuk memantau, termasuk memvideokan selalu hujan ini turun," katanya.

Meski demikian, Wahyu memastikan tidak ada rencana untuk kembali memperpanjang pelaksanaan OMC setelah 2 September 2026.

"Tidak ada perpanjangan lagi. Sementara selesai di tanggal 2," tegasnya.

Ia pun mengingatkan masyarakat agar tidak menganggap penanganan dampak kekeringan sebagai persoalan jangka pendek.

Menurutnya, menghadapi potensi bencana akibat kondisi kering membutuhkan ketahanan dan kesiapsiagaan dalam waktu yang lebih panjang.

"Sama-sama berdoa, sama-sama mengurangi risiko bencana. Ingat kalau perlawanan kita terhadap bencana titik kering ini adalah pola maraton, bukan pola sprint," ujar Wahyu.

Ia menambahkan, masyarakat dan seluruh pihak perlu meningkatkan daya tahan serta kewaspadaan karena kondisi kering berpotensi berlangsung lebih panjang dibandingkan bencana yang sifatnya terjadi secara cepat.

"Durability kita dituntut untuk lebih ditingkatkan, karena daya tahan kita menghadapi potensi bencana ini lebih panjang," pungkasnya.

(Tribunlampung.co.id/Riyo Pratama)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.