TRIBUNJAMBI.COM - Amukan kebakaran hutan dan lahan atau karhutla yang memicu polusi kabut asap tebal di sejumlah wilayah di Indonesia dan Provinsi Jambi kini mencapai titik krusial.
Tak hanya merusak ekosistem, serbuan racun udara tersebut memicu lonjakan masif kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut atau ISPA yang menembus belasan ribu warga di berbagai kabupaten dan kota.
Plt Direktur Jenderal Penanggulangan Penyakit Kemenkes, Andi Saguni, meluruskan pemahaman publik terkait penyakit tersebut.
"Dalam konteks ISPA, akut itu berhubungan dengan durasi kejadian penyakit, yaitu sekitar dua minggu," jelas Andi dalam konferensi pers di kantor BNPB, Jakarta Timur.
Ia memaparkan racun asap tidak hanya memicu ISPA, tetapi juga memperburuk PPOK, mengaktifkan kekambuhan asma, serta merusak mata dan kulit.
"Asma bisa berlangsung kronis atau baru terjadi saat kejadian paparan. Namun bagi penderita lama, meskipun sudah terkontrol, penyakitnya bisa kembali muncul akibat asap karhutla," lanjutnya.
Asma dan PPOK (Penyakit Paru Obstruktif Kronis)
Dijelaskan oleh Plt Dirjen Penanggulangan Penyakit Kemenkes, Andi Saguni, asap karhutla mengiritasi saluran pernapasan, memicu kekambuhan asma yang sudah terkontrol, serta memperburuk PPOK akibat penumpukan lendir.
Gangguan Mata (Konjungtivitis/Iritasi Mata) & Kulit
Kemenkes memperingatkan iritasi organ luar.
Baca juga: Dinkes Batang Hari Petakan Dua Kecamatan Rawan ISPA Dampak Karhutla
Baca juga: AS Serang Iran: Hantam Pesta Pernikahan, 5 Tewas Termasuk Balita, 50 Lebih Terluka
Di Muaro Jambi dicatat ada 8 kasus konjungtivitis (peradangan mata), sedangkan di Tanjabbar warga (Zikra) menyampaikan keluhan mata sakit akibat asap.
Diare
Dicatat sebanyak 171 kasus diare (31,2 persen dari total kasus penyakit akibat karhutla di Muaro Jambi, dengan kasus tertinggi di Puskesmas Tempino).
Perburukan Penyakit Kronis (Jantung, Stroke, dan Hipertensi)
Kabupaten Tebo Jadi Wilayah Terparah
Dampak kabut asap paling parah menghantam Kabupaten Tebo. Dinas Kesehatan setempat mencatat per 31 Agustus 2026, jumlah penderita ISPA menembus angka fantastis, yakni 19.459 jiwa.
Kabid P2P Dinkes Tebo, Ari, mengungkapkan bahwa penularan menyasar kelompok umur produktif.
"Data itu per 31 Agustus 2026, dengan tingkat usia yang paling banyak 15 tahun ke atas," ungkap Ari, Selasa (1/9/2026).
Menyikapi kualitas udara yang sempat menembus zona berbahaya hingga kategori hitam, Pemerintah Kabupaten Tebo mengambil langkah tegas dengan memperpanjang kebijakan libur sekolah dari tingkat PAUD hingga SMA serta membagikan instruksi wajib masker.
Bupati Tebo, Agus Rubiyanto, menyampaikan dalam Rakor Karhutla di Rumah Dinas Gubernur Jambi bahwa "Laporan dari rumah sakit sempat menunjukkan peningkatan penderita ISPA signifikan, meskipun beberapa hari terakhir sudah mulai berangsur menurun."
Ledakan kasus ISPA turut memapar wilayah kabupaten/kota lainnya di Provinsi Jambi:
Kota Jambi
Dinkes Kota Jambi mencatat tren fluktuasi kasus yang menembus puncaknya pada minggu ke-30 dengan 2.250 kasus, sebelum stabil di angka 2.053 kasus pada minggu ke-32.
Baca juga: 416 Warga Tanjab Barat Terserang ISPA dalam Sepekan, Terbanyak di Lubuk Kambing
Baca juga: Kualitas Udara Siang Ini: Pontianak Berbahaya, Kota Jambi 4 Nasional, AQI Tebo 186
Kabid P2P Dinkes Kota Jambi, dr. Rini Kartika, menegaskan fasilitas kesehatan telah disiagakan intensif untuk memantau fluktuasi paparan racun udara.
Muaro Jambi
Terdata 548 warga sakit terdampak karhutla, di mana 369 kasus (67,3 persen) di antaranya merupakan ISPA.
Sekretaris Dinkes Muaro Jambi, Hardian, menyoroti indeks ISPU Stasiun Bukit Baling yang sempat menyentuh angka 312 (kategori Berbahaya).
"ISPA masih menjadi kasus yang paling dominan, mencakup sekitar dua pertiga dari seluruh kasus yang terpantau. Ini menunjukkan bahwa paparan asap masih berdampak besar terhadap kesehatan masyarakat," papar Hardian.
Tanjung Jabung Barat
Dinkes Tanjabbar mencatat 416 warga terpapar ISPA di 16 puskesmas per 24–30 Agustus 2026, dengan kasus terbanyak di Puskesmas Lubuk Kambing (71 kasus).
Salah seorang warga, Zikra, mengungkapkan dampak langsung asap terhadap kondisi tubuhnya. "Kalau mata tuh juga berdampak, adalah sakitnya juga nafas juga terganggu," aku Zikra di kawasan Alun-Alun Kuala Tungkal.
Batang Hari
Dinkes Batang Hari menetapkan Kecamatan Bajubang dan Muara Bulian sebagai zona paling rawan ISPA.
Petugas Surveilans dan Imunisasi Dinkes Batang Hari, Sri Hartanti, menegaskan, "Untuk peningkatan dampak karhutla ini, wilayah yang terdampak itu di Kecamatan Bajubang dan Muara Bulian. Itu yang paling rawan dan titiknya paling tinggi di sana."
Guna memutus rantai dampak buruk asap karhutla, Kemenkes bersama seluruh jajaran Dinas Kesehatan se-Provinsi Jambi mengimbau masyarakat untuk membatasi aktivitas luar ruangan, menghindari pembakaran sampah dan lahan, serta konsisten menerapkan Pola Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) dengan memperbanyak konsumsi air putih dan mengenakan masker pelindung standar PM2,5.
Baca juga: ISPU Muara Bulian Turun ke 166, Kualitas Udara Masih Kategori Tidak Sehat
Baca juga: Kanwil KemenHAM Jambi Bersama Penggerak HAM Tinjau Akses Jalan di Desa Muaro Jambi
Baca juga: Daftar Menteri yang Ikut Prabowo ke Rusia - Bahlil hingga Seskab Teddy