Liputan6.com, Jakarta - Persaingan perebutan gelar juara dunia MotoGP 2026 akan ditentukan bukan hanya oleh kecepatan, tetapi juga kemampuan pembalap menjaga konsistensi hingga akhir musim.
General Manager Ducati, Gigi Dall’Igna, menilai pembalap yang mampu tenang dan berpikir jernih dalam enam seri terakhir akan memiliki peluang terbesar untuk menjadi juara dunia.
Setelah 13 dari 22 seri yang dijadwalkan musim ini berlalu, persaingan gelar masih berlangsung ketat. Namun, kini hanya tiga pembalap yang mulai terlihat sebagai kandidat utama.
Jorge Martin dari Aprilia memimpin klasemen dengan keunggulan 19 poin atas pembalap Ducati, Marc Marquez. Sementara itu, rekan setim Martin di Aprilia, Marco Bezzecchi, berada 24 poin di belakang sang pemuncak klasemen.
Aprilia dan Ducati sejauh ini menunjukkan performa motor yang berada di atas para pesaingnya. Meski demikian, dominasi kedua pabrikan tersebut silih berganti dari satu balapan ke balapan lainnya.
Dall’Igna menilai kondisi tersebut membuat konsistensi menjadi faktor yang sangat penting dalam menentukan juara dunia.
“Menurut saya, kejuaraan dunia ini akan dimenangi oleh siapa pun yang mampu menjaga kepalanya tetap dingin hingga akhir musim,” ujar Dall’Igna kepada Sky Italia.

Menurutnya, mengumpulkan poin secara konsisten dan menghindari kesalahan justru lebih penting daripada sekadar mengoleksi kemenangan sebanyak mungkin.
“Yang penting adalah terus meraih poin dan tidak melakukan kesalahan. Sejarah belakangan ini menunjukkan bahwa Anda tidak harus memenangkan 11 balapan,” katanya.
“Menang beberapa kali lebih sedikit pun bisa cukup. Tetapi Anda harus jauh lebih konsisten dan, yang paling penting, jangan sampai pulang tanpa poin.”
Dall’Igna merujuk pada persaingan gelar MotoGP 2024 antara Jorge Martin dan Francesco Bagnaia. Saat itu, Bagnaia berhasil memenangkan 11 balapan, tetapi tetap gagal merebut gelar karena kalah 10 poin dari Martin.
Martin hanya meraih tiga kemenangan Grand Prix pada musim tersebut. Namun, pembalap Spanyol itu tampil lebih konsisten dibandingkan Bagnaia yang beberapa kali gagal mencetak poin, baik dalam sprint maupun balapan utama.

Situasi pada musim 2026 menunjukkan pola yang menarik. Marc Marquez dan Marco Bezzecchi sama-sama telah meraih empat kemenangan. Sementara Martin, yang saat ini memimpin klasemen baru mengoleksi satu kemenangan.
Dalam satu akhir pekan MotoGP, seorang pembalap bisa mengumpulkan maksimal 37 poin dari sprint dan balapan utama. Martin sejauh ini pernah mencatat satu akhir pekan dengan raihan maksimal tersebut. Marquez sudah melakukannya tiga kali, sedangkan Bezzecchi belum pernah memenangkan balapan sprint.
Namun, jumlah kemenangan maupun raihan maksimal dalam satu akhir pekan bukan satu-satunya faktor yang menentukan posisi mereka di klasemen.
Marquez sempat absen dalam dua seri akibat cedera. Ketika kembali setelah Grand Prix Italia, ia bahkan tertinggal 102 poin dari pemuncak klasemen.
Sementara itu, keunggulan Bezzecchi sempat menguap setelah pembalap Aprilia tersebut mengalami periode buruk dengan empat kali gagal mencetak poin dalam balapan utama secara beruntun menjelang jeda musim panas.
Martin justru mengambil pendekatan berbeda. Ia memang tidak selalu menjadi pembalap Aprilia tercepat sepanjang musim, tetapi terus mengumpulkan poin. Hingga kini, ia hanya dua kali gagal mencetak poin dalam seri.